AS Akui Serangan Drone Tewaskan 10 Warga Sipil

Vanessa Nathania, Okezone · Sabtu 18 September 2021 13:06 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 18 18 2473304 as-akui-serangan-drone-tewaskan-10-warga-sipil-IDGZSNEQ1W.jpg Serangan drone tewaskan 10 warga sipil (Foto: BBC)

AFGHANISTAN Amerika Serikat (AS) telah mengakui bahwa serangan pesawat tak berawak (drone) di Kabul, Afghanistan beberapa hari sebelum penarikan militernya telah menewaskan 10 orang tak bersalah.

Investigasi Komando Pusat AS menemukan bahwa seorang relawan dan sembilan anggota keluarganya, termasuk tujuh anak, tewas dalam serangan 29 Agustus lalu. Anak bungsunya, Sumaya, baru berusia dua tahun.

Serangan mematikan itu terjadi beberapa hari setelah serangan teror di bandara Kabul, di tengah hiruk pikuk upaya evakuasi setelah Taliban kembali berkuasa secara tiba-tiba.

Serangan tersebut adalah salah satu tindakan terakhir militer AS di Afghanistan, sebelum mengakhiri 20 tahun operasinya di negara itu.

Komando Pusat AS, Jenderal Kenneth McKenzie mengatakan intelijen AS telah melacak mobil relawan tersebut selama delapan jam, yang dipercaya terkait dengan militan IS- K - cabang lokal dari kelompok Negara Islam (IS).

(Baca juga: Kepala Pentagon Minta Maaf Atas Serangan Drone di Afghanistan)

Penyelidikan menemukan mobil pria itu terlihat di sebuah kompleks yang terkait dengan IS-K, dan gerakannya selaras dengan intelijen lain tentang rencana kelompok teror itu untuk menyerang bandara Kabul.

Pada satu titik, sebuah drone pengintai melihat pria tersebut memuat apa yang tampak seperti bahan peledak ke bagasi mobil, yang ternyata itu adalah wadah air.

(Baca juga: Serangan Drone AS Hantam Mobil Penuh Peledak Milik ISIS-K, Tewaskan 3 Anak-Anak)

Jenderal McKenzie menggambarkan serangan itu sebagai "kesalahan tragis", dan menambahkan bahwa Taliban tidak terlibat dalam intelijen yang menyebabkan serangan itu.

Penyerangan terjadi ketika relawan - bernama Zamairi Akmadhi - berhenti di jalan masuk rumahnya, 3 km (1,8 mil) dari bandara.

Ledakan itu memicu ledakan sekunder, yang awalnya dikatakan pejabat AS sebagai bukti bahwa mobil itu memang membawa bahan peledak. Namun penyelidikan telah menemukan kemungkinan besar disebabkan oleh tangki propana di jalan masuk mobil.

Kerabat para korban mengatakan kepada BBC sehari setelah serangan, bahwa mereka telah mengajukan permohonan untuk dievakuasi ke AS, dan telah menunggu panggilan telepon yang memberitahu mereka untuk pergi ke bandara.

Salah satu dari mereka yang tewas, Ahmad Naser, pernah menjadi penerjemah pasukan AS. Korban lain sebelumnya bekerja untuk organisasi internasional dan memegang visa yang memungkinkan mereka masuk ke AS.

(sst)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini