Lebih dari 170 Anak-Anak Dideportasi, 40 Anak Punya Paspor Asing

Jum'at 24 September 2021 18:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 24 18 2476479 lebih-dari-170-anak-anak-dideportasi-40-anak-punya-paspor-asing-ir9rdLzlgS.jpg 170 anak-anak migran Haiti dideportasi (Foto: AP)

AMERIKA SERIKAT – Menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), puluhan anak-anak dengan paspor non-Haiti telah dideportasi ke Haiti sebagai bagian dari operasi deportasi besar-besaran pemerintah Amerika Serikat (AS) minggu ini.

Menurut Giuseppe Loprete, Kepala misi untuk IOM, yang membantu proses kedatangan, pada Rabu (22/09), angka terbaru menyebutkan total 1.424 orang yang dideportasi dari AS telah tiba di 12 penerbangan di Haiti.

Lebih dari 170 di antaranya adalah anak-anak, 41 di antaranya memiliki kewarganegaraan asing. Meskipun orang tua mereka mungkin warga negara Haiti, setidaknya ada 30 anak memiliki paspor Chili, sembilan memiliki paspor Brasil dan dua memiliki paspor Venezuela.

"Anak-anak lahir di negara-negara itu, mereka berbicara bahasa Spanyol dengan sangat baik," kata Loprete. Dia menambahkan bahwa IOM akan bekerja sama dengan Kementerian Haiti yang Tinggal di Luar Negeri untuk membahas masalah mereka.

 (Baca juga: Kerusuhan Pecah Usai Imigran yang Dideportasi Tiba di Bandara, Tas Dibuang Keluar dari Pesawat)

Menurut Loprete, begitu orang yang dideportasi tiba, mereka dites untuk Covid-19, menyerahkan perbekalan dasar, dan diturunkan di stasiun bus pusat di ibu kota Port-au-Prince. Mereka yang positif dibawa ke karantina oleh Kementerian Kesehatan Haiti. Hingga kemarin, tiga orang yang dideportasi dinyatakan positif Covid-19.

Karena semakin banyak calon migran yang dikirim kembali ke negara yang bermasalah itu, IOM membantu pejabat lokal "meningkatkan" operasi penerimaan. Loprete mengatakan pihaknya saat ini memiliki kapasitas untuk menerima tiga penerbangan orang yang dideportasi per hari di bandara internasional utama Haiti di Port-au-Prince.

(Baca juga: Kecam Deportasi 'Tak Manusiawi' Migran Haiti, Utusan Khusus AS Mundur)

Di bawah tekanan dari banyaknya orang yang tiba, mereka juga mulai menerima tiga penerbangan tambahan per hari dari orang yang dideportasi di kota utara Cap-Haitien.

"Penerbangannya dilakukan secara berkelanjutan. Kami memiliki empat penerbangan satu hari (di Port-au-Prince) dan itu sangat menantang. Kami telah mengatakan bahwa kami tidak dapat menangani penerbangan setelah jam 2 siang, maksimum jam 3 sore, karena risiko keamanan di Port-au-Prince, terutama di malam hari," katanya.

(sst)

1
1

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini