Kisah Perebutan Hak Asuh Anak Yatim Piatu, Satu-satunya Korban Selamat Kecelakaan Kereta Gantung

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 27 September 2021 06:44 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 18 2477284 kisah-perebutan-hak-asuh-anak-yatim-piatu-satu-satunya-korban-selamat-kecelakaan-kereta-gantung-AaK9I28qbr.jpg Kisah perebutan hak asuh anak yatim piatu korban kecelakaan kereta gantung di Italia (Foto: Reuters)

ISRAEL - Kisah Eitan Biran, seorang anak Israel berusia enam tahun, telah menyita perhatian publik sejak peristiwa naas yang merenggut nyawa keluarganya. Dia menjadi satu-satunya korban selamat dari kecelakaan kereta gantung di Italia yang terjadi pada Mei lalu.

Eitan, kakaknya Tom, kedua orang tuanya, Amit Biran dan Tal Peleg, serta dua buyut menumpangi kereta gantung di Italia pada Mei lalu. Keluarga Eitan adalah warga negara Israel yang telah menetap di Italia selama beberapa tahun terakhir.

Kereta gantung itu mengalami kecelakaan yang menyebabkan 14 orang meninggal dunia. Dari keluarga Eitan, hanya dia lah yang selamat. Ia sendiri mengalami luka serius dan sempat mendapat perawatan di rumah sakit Turin selama berminggu-minggu.

Sejak peristiwa tersebut, Eitan menyita perhatian publik baik di Italia maupun Israel, terlebih menyangkut hak asuh.

 (Baca juga: Kereta Gantung Jatuh dari Ketinggian 300 Meter, 14 Orang Tewas)

Pengadilan Italia memberikan hak asuh Eitan kepada Aya Biran-Nirko, bibi dari keluarga ayah. Sang bibi adalah seorang dokter kelahiran Israel yang menetap di Italia.

Pada tanggal 13 September, kakek Eitan dari garis ibunya, Shmulik Peleg, menjemputnya untuk diajak jalan-jalan.

Sejak kecelakaan tersebut, Peleg berpindah dari Israel ke Italia dan pengadilan juga memberikan hak untuk mengunjungi cucunya.

 (Baca juga: Italia Selidiki Insiden Kereta Gantung Jatuh yang Tewaskan 14 Orang)

Namun pada hari itu, Peleg membawa Eitan ke negara tetangga Italia, Swiss melalui jalur darat dan kemudian membawanya ke Israel dengan penerbangan pesawat pribadi dengan menggunakan paspor Eitan keluaran Israel.

  • Perkara penculikan

Pihak berwenang Italia langsung melakukan penyelidikan kasus penculikan dan memeriksa Peleg yang bersikukuh bahwa tindakannya sah dan merupakan langkah terbaik bagi cucunya.

Televisi Israel, Channel 12 TV melaporkan pekan lalu, Shmulik Peleg mengatakan Eitan "bahagia dan dikelilingi keluarganya" dan menegaskan ia beserta cucu meninggalkan Italia "dengan cara yang sah", "Ia berada di tempat yang semestinya, di rumahnya, di Israel,” ujarnya.

Akan tetapi Aya Biran-Nirko menolak klaim Peleg dan mengajukan gugatan ke pengadilan Israel untuk mengembalikan Eitan ke pangkuannya.

Ia menggunakan dalih Konvensi Den Haag tentang Penculikan Internasional Anak, perjanjian yang dapat digunakan untuk mengembalikan anak di bawah usia 16 yang diculik ke negara tempat tinggalnya.

Ketika tiba di pengadilan Israel untuk menghadiri sidang praperadilan pada Kamis (23/09), Aya Biran-Nirko, mengatakan ia menginginkan keponakannya segera kembali.

"Pada tahap ini, saya cemas. Saya menginginkan Eitan pulang secepat mungkin. Saya ingin masuk ke ruang sidang, saya ingin sidang segera digelar. Saya menginginkannya pulang secepat mungkin.

Shmulik Peleg juga menghadiri sidang praperadilan didampingi kuasa hukumnya.

Wartawan BBC di Israel, Yolande Knell, yang meliput sidang, mengatakan baik Israel maupun Italia telah menandatangani Konvensi Den Haag, tetapi kasus ini diwarnai situasi luar biasa sehingga sulit diputuskan.

Kendati demikian, tim pengacara dari kedua belah pihak telah mengeluarkan pernyataan bersama untuk melindungi bocah enam tahun itu agar tidak mengalami trauma lebih dalam.

Hakim selanjutnya akan mengkaji kasus ini sebelum sidang yang rencananya akan digelar pada tanggal 8 Oktober.

Hakim juga menyerukan agar publik memberikan privasi kepada Eitan Biran dan keluarganya.

Sementara ini, Eitan akan tetap berada di Israel menunggu keputusan pengadilan dan akan menghabiskan waktu bersama keluarga bapak dan keluarga ibu.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini