Jejak Kaki Manusia 'Tertua' Berusia 23.000 Tahun Ditemukan, Apa yang Terjadi Saat Itu?

Agregasi BBC Indonesia, · Senin 27 September 2021 06:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 18 2477287 jejak-kaki-manusia-tertua-berusia-23-000-tahun-ditemukan-apa-yang-terjadi-saat-itu-TDeQKSYUJs.jpg Jejak kaki manusia tertua di Amerika ditemukan (Foto: Bournemouth University)

NEW MEXICO - Temuan terbaru berupa jejak manusia prasejarah berusia 23.000-21.000 tahun telah mematahkan perkiraan sebelumnya mengenai keberadaan manusia pertama di Amerika.

Topik mengenai kapan pertama kali manusia menapakkan kaki di Amerika dari Asia telah menjadi kontroversi selama beberapa dekade.

Banyak ilmuwan ragu dengan bukti keberadaan manusia pertama yang mencapai pedalaman Amerika Utara lebih dari 16.000 tahun lalu.

Sekarang, sebuah tim yang bekerja di New Mexico telah menemukan sejumlah jejak kaki manusia yang diperkirakan berusia antara 23.000-21.000 tahun.

(Baca juga: Rahasia Anak-Anak 120 Ribu Tahun Lalu: Bagaimana Mereka Tumbuh, Hidup, Sakit dan Mati)

Temuan ini bisa mengubah pandangan mengenai kapan benua ini pertama kali diduduki manusia.

Temuan ini juga menunjukkan kemungkinan migrasi besar yang kita tidak ketahui. Dan ini mendorong kemungkinan populasi awal ini telah punah.

Jejak kaki terbentuk di dalam lumpur lunak di pinggiran danau dangkal yang sekarang menjadi bagian dari danau kering Alkali Flat di Taman Nasional White Sands.

(Baca juga: Ilmuwan: Manusia Purba "Masih Berayun" di Pepohonan 3,67 Juta Tahun Lalu Meski Bisa "Berjalan Tegak")

Tim dari Survei Geologi AS melakukan penanggalan radiokarbon pada biji-bijian (sampel) yang ditemukan di lapisan atas dan bawah sedimen tempat jejak kaki ditemukan.

Dari situ, para peneliti mendapatkan penanggalan yang sangat tepat untuk bekas telapak kaki itu sendiri.

Dari ukurannya, menurut para peneliti, jalur perjalanan ini utamanya berasal dari kaki para remaja dan anak-anak kecil yang bepergian bolak-balik - terkadang bersama dengan orang dewasa.

Temuan ini telah membuka jendela baru yang menarik mengenai seperti apa kehidupan bagi penduduk awal yang saat ini ada di Barat Daya AS.

  • Bukti jejak kaki tak seperti batu

Para peneliti tak tahu pasti apa yang dilakukan para remaja itu, tapi ada kemungkinan mereka membantu orang-orang dewasa yang punya kebiasaan berburu. Hal in seperti terlihat dalam budaya penduduk Amerika asli di kemudian hari.

Kebiasaan ini dikenal dengan buffalo jump [formasi penduduk asli Amerika Utara dalam berburu bison dengan jumlah besar] dan termasuk menggiring hewan-hewan buruan itu ke tepian jurang.

“Hewan buruan semuanya harus diproses dalam waktu singkat," jelas Dr Sally Reynolds, salah satu penulis dari Universitas Bournemouth.

"Orang harus menyalakan api, dan harus mulai memisahkan bagian lemaknya dengan cara dibakar. Para remaja bisa membantu mengumpulkan kayu bakar, air atau hal terkait proses ini,” lanjutnya.

Umur dari penemuan ini adalah yang utama, karena banyak klaim yang tak terhitung mengenai pendudukan awal manusia di Amerika. Perdebatan ini dilakukan dengan sejumlah cara.

Sering kali perdebatan mempersoalkan apakah alat-alat batu yang ditemukan di situs kuno itu benar-benar peninggalan budaya, atau jangan-jangan hanya batu yang pecah melalui proses alami - seperti pecahan batu yang jatuh dari tebing.

Artefak yang digunakan penduduk awal terkadang kurang jelas untuk dipahami dibandingkan dengan mata tombak yang dibuat dengan baik di Amerika Utara pada 13.000 tahun yang lalu dan seterusnya. Hal ini menimbulkan keragu-raguan mengenai identitas mereka.

"Salah satu alasan kenapa banyak perdebatan adalah karena kurangnya data yang jelas dan tegas. Itulah yang kami pikir, kami kemungkinan besar sudah mendapatkannya," kata Prof Matthew Bennett, penulis utama dari jurnal penelitian Universitas Bournemouth kepada BBC News.

"Jejak kaki tidak seperti artefak batu. Jejak kaki ya jejak kaki, dan ini tak bisa bergerak naik-turun [di lapisan tanah],” terangnya.

Sementara, sifat alami dari bukti fisik ini sulit untuk diabaikan, para peneliti harus memastikan bukti penanggalan itu - secara harfiah - kedap air.

Persoalan rumit yang dicatat oleh jurnal selama tahap awal penelitian adalah "efek reservoir". Hal ini mengacu pada karbon yang ditemukan terkadang berdaur ulang di lingkungan berair, mengganggu hasil radiokarbon [penanggalan] dengan membuat situs tampak lebih tua dari usianya.

Namun, para peneliti mengatakan mereka telah memperhitungan efek ini, dan meyakini hal itu tidak berpengaruh banyak terhadap objek penelitian.

Prof Tom Higham, ahli penanggalan radiokarbon di Universitas Vienna mengatakan mereka telah melakukan pemeriksaan penanggalan dari materi terdekat lokasi jejak kaki, dan menemukan bahwa sampel terestrial (arang) menunjukkan usia yang sama dari spesies air, yang mereka ukur usianya dari dekat lokasi jejak kaki.

"Mereka juga berpendapat, menurut saya dapat dibenarkan, bahwa saat orang-orang berjalan di sana, air danau saat itu pasti dangkal, sehingga bisa mencegah efek reservoir yang ditunjukan oleh sumber karbon lama,” terangnya.

Konsistensi hasil dan dukungan dari teknik penanggalan yang berbeda diterapkan kepada masing-masing situs telah mendukung validitas hasilnya.

"Menurut saya, secara keseluruhan ini berusia rentang 21.000 sampai 23.000 tahun," kata Prof Higham kepada BBC News.

Pro dan kontra di dunia arkeologi mengenai manusia pertama Amerika berkaitan dengan hal ini.

Selama paruh kedua Abad ke-20, sebuah konsensus muncul di antara para arkeolog Amerika Utara, bahwa orang-orang dengan budaya Clovis merupakan yang pertama menduduki Amerika.

Clovis merupakan budaya Palaeo-India di Amerika Tengah dan Utara diperkirakan periode 11.500 - 11.000 tahun lalu, dengan peninggalan berupa mata panah batu berbentuk daun tebal yang biasa disebut titik Clovis.

Gelombang manusia prasejarah ini diperkirakan telah menyeberangi jembatan darat melintasi Selat Bering yang menghubungkan antara Siberia dan Alaska selama zaman es terakhir, ketika permukaan laut turun.

Ketika gagasan "Clovis yang pertama" mulai berlaku, laporan tentang pendudukan yang lebih tua dianggap tidak bisa diandalkan, dan sejumlah arkeolog benar-benar berhenti untuk menggali tanda-tanda pendudukan sebelumnya.

Tapi pada 1970-an, pandangan tua ini mendapat tantangan.

Pada 1980-an, bukti yang kuat kehadiran manusia berusia 14.500 tahun telah muncul di Monte Verde di Chili.

Dan sejak 2000-an, situs pra-Clovis lainnya telah diterima secara luas - seperti Kompleks Buttermilk Creek berusia 15.500 tahun di Texas tengah, dan situs Cooper Ferry berusia 16.000 tahun di Idaho.

Sekarang, bukti jejak kaki dari Meksiko Baru menunjukkan manusia sudah berhasil mencapai pedalaman Amerika Utara pada periode Zaman Es akhir.

Gary Haynes, seorang professor emeritus di Universitas Nevada, Reno, mengatakan: "Saya tak bisa menemukan kesalahan pada hasil penelitian itu, atau dengan interpretasi - jurnal ini penting dan provokatif.

"Jalurnya sangat jauh ke selatan dari penghubung daratan Bering hal ini membuat kita bertanya-tanya (1) apakah orang-orang atau nenek moyang mereka (atau orang lain) berhasil melewati Asia ke Amerika jauh lebih awal, (2) apakah mereka berpindah cepat melalui benua-benua setelah melalui penyeberangan (3) apakah mereka meninggalkan keturunan,” ungkapnya.

Dr Andrea Manica, ahli genetika dari Universitas Cambridge mengatakan, temuan ini memiliki dampak penting bagi sejarah populasi Amerika.

"Saya tak bisa berkomentar mengenai keandalan penanggalan ini (bukan bidang saya), tapi bukti kuat tentang keberadaan manusia di Amerika Utara 23.000 tahun lalu, ini bertentangan dengan jalur genetika, di mana secara jelas menunjukkan pemisahan penduduk Amerika Asli dari Asia sekitar 15-16.000 tahun lalu," katanya kepada BBC News.

"Ini menunjukkan bahwa koloni pertama Amerika telah digantikan ketika sekat-sekat es terbentuk, dan koloni yang lainnya datang. Kami tak tahu bagaimana itu terjadi,” tambahnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini