Pemerintah Irak Tolak Permintaan Normalisasi Hubungan dengan Israel

Agregasi VOA, · Senin 27 September 2021 14:56 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 18 2477534 pemerintah-irak-tolak-permintaan-normalisasi-hubungan-dengan-israel-u2M9gyv6mS.jpg Perdana Menteri Irak Mustafa Al-Khadimi. (Foto: Reuters)

BAGHDAD – Perdana Menteri Irak Mustafa Khadhimi telah menolah permintaan normalisasi hubungan dengan Israel yang diajukan sebuah kelompok yang terdiri dari 300 pemimpin suku terkemuka dan pejabat tinggi masa lalu Irak.

Kelompok itu melakukan pertemuan di Irbil, ibu kota Kurdistan Irak pada Jumat (24/9/2021). Dilaporkan VOA, pertemuan itu disponsori oleh kelompok advokasi dan penelitian bagi perdamaian Amerika, Center for Peace Communications.

BACA JUGA: Pilot Maskapai Emirates Dihukum karena Menolak Terbang ke Israel

Center for Peace Communications diketuai oleh Joseph Braude, warga Yahudi Amerika. Keluarga Braude lari dari Baghdad pada 1940-an.

Braude mengatakan dalam pertemuan itu bahwa mereka yang berkumpul di Irbil itu telah membuat "keputusan yang berani". Ia mengatakan dirinya mendukung upaya berani dari para pemimpin dari enam provinsi Irak yaitu Baghdad, Anbar, Mosul, Salahadin, Babil dan Diyala.

Televisi Irak pada Sabtu (25/9/2021) melaporkan pernyataan yang dirilis kantor Khadimi mengenai penolakan normalisasi hubungan tersebut. Laporan televisi tersebut menambahkan bahwa pernyataan itu menyebut pertemuan tersebut "ilegal."

BACA JUGA: Netanyahu: Normalisasi Hubungan dengan Israel Wujudkan Ramalan dalam Kitab Suci

Media Arab mengindikasikan bahwa ketua parlemen Mohammed Halbousi dan salah seorang wakilnya juga menolak permintaan tersebut. Presiden Irak Barham Salih juga menolak normalisasi.

Dalam pertemuan di Irbil, ketua kelompok Sunni "Sahwa" Irak, Wissam Hardan mengatakan bahwa sistem federal Irak mengizinkan berbagai daerah untuk menyatakan dukungan bagi normalisasi hubungan dengan Israel.

Ia mengatakan, sistem pemerintahan federal Irak memungkinkan berbagai pihak menyatakan keinginan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel dan mempererat hubungan dengan rakyat Israel.

Paul Sullivan, analis Timur Tengah yang berbasis di Washington, mengatakan kepada VOA, "pertemuan di Irbil untuk membahas peningkatan hubungan Irak-Israel, menggemparkan Baghdad."

Namun, Sullivan mengatakan bahwa “Bisa jadi (pertemuan) itu adalah petunjuk dari perkembangan pada masa depan. Bisa jadi itu indikasi berubahnya pandangan dari sebagian kalangan di Irak terhadap Israel."

Ia menambahkan bahwa orang-orang Kurdi, yang menjadi tuan rumah pertemuan Jumat itu, "selama ini lebih terbuka terhadap Israel dibandingkan populasi lain di Irak."

Namun, beberapa pemimpin Kurdi yang hadir dalam pertemuan itu mengubah sikap mereka setelah mendengar tentangan dari Baghdad. Mereka mengklaim bahwa mereka "tidak mengetahui maksud sebenarnya dari pertemuan itu dan bahwa penyelenggara menyesatkan mereka yang hadir tentang niat pertemuan itu."

Stasiun TV al-Arabiya milik Arab Saudi, yang meliput pertemuan tersebut, mengatakan panitia mungkin hendak "mencari tahu lebih dulu reaksi publik Irak atas normalisasi hubungan dengan Israel."

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini