Ada Nama Baru Statusnya Cucu Mangkunegoro VIII Jelang Pengumuman Siapa Mangkunegoro X

krjogja.com, · Senin 27 September 2021 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 27 512 2477312 ada-nama-baru-statusnya-cucu-mangkunegoro-viii-jelang-pengumuman-siapa-mangkunegoro-x-jYbGBc2MnY.jpg Roy Rahajasa Yamin (Foto : Istimewa)

SOLO – Menjelang musyawarah sesepuh Pura Mangkunegaran untuk memilih Adipati Pura Mangkunegaran atau Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro X muncul nama Kanjeng Raden Mas Haryo ( KRMH) Roy Rahajasa Yamin cucu Mangkunegoro VIII.

Munculnya nama baru Roy Yamin, cucu Mangkunegoro VIII itu membuat bursa pemilihan Mangkunegoro X yang sebelumnya hanya ada dua nama yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Jiwa Suryanegara dan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo menjadi memanas.

Sejumlah abdi dalem dan kerabat Mangkunegaran berspekulasi kemungkinan bisa saja skenario awal hanya ada dua pilihan Gusti Paundra atau Gusti Bhre yang kelak menjadi penguasa Pura Mangkunegaran berubah dengan kemunculan cucu Mangkunegoro VIII KRMH Roy Rahajasa Yamin yang dikenal sebagai owner sejumlah perusahaan yang bergerak dalam bisnis digital.

Menurut rencana siapa figur Mangkunegoro X, bakal diumumkam saat genap 100 hari setelah wafatnya Mangkunegoro IX pada 13 Agustus 2021 lalu. Beberapa nara sumber KRjogja.com diantaranya Tunjung W Sutirta sejarawan dari UNS Solo dan Pegiat Sejarah dan Budaya Solo Raya, Surojo secara terpisah, Sabtu 25 September 2021, mengatakan sebelumnya memang mencuat hanya ada dua nama calon penerus Mangkunegoro IX yakni Gusti Pangeran Haryo (GPH) Paundrakarna Jiwa Suryanegara dan GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo.

Paundra Jiwa Suryanegara adalah putra Mangkunegoro IX dengan putri Bung Karno yang merupakan istri pertama Mangkunegoro IX, Sukmawati Soekarnoputri. Sedang GPH Bhre Cakrahutomo Wira Sudjiwo putra Mangkunegoro IX dengan prameswari GKP Prisca Marina Mangkunegoro IX.

Baca Juga : Viral Pensiunan Polisi Jadi Manusia Silver, Kapolda Jateng Salurkan Bantuan

Menurut Tunjung W Sutirto para sesepuh di Pura Mangkunegaran sebagai keluarga inti didalam menentukan suksesi harus juga mendengar dari sisi eksternal. “Karena, Mangkunegaran itu wilayah budaya sehingga untuk keperluan sinergitas didalam pelestarian budaya perlu mendengar saran dari pihak eksternal. Pihak eksternal itu adalah dari Catur Sagotra (Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogya dan Pakualaman Yogya),” ujar sejarawan dari UNS itu.

Mengapa itu dilakukan? Menurut Tunjung karena konsep Catur Sagotra itu adalah kesatuan genealogis mereka bahwa garisnya adalah dinasti Mataram. “Sehingga, sangat baik jika untuk suksesi di Mangkunegaran itu mendengar dari keluarga Catur Sagotra itu. Soal keputusan itu otonom keluarga Mangkunegaran memang semestinya. Persoalannya, adalah tidak ada fakta bahwa mendiang Mangkunegara IX meninggalkan wasiat tentang suksesi,” ujar Tunjung.

Sementara Pegiat Sejarah dan Budaya Solo Raya, Surojo mengatakan jika dilihat dari silsilah pergantian Adipati Mangkunegaran, mulai Mangkunegoro II hingga Mangkunegoro IX selalu berubah sesuai dengan situasi. Suksesi di Pura Mangkunegaran tidak selalu dipegang atau menurun kepada anaknya.

Artinya, beberapa keluarga keturunan Mangkunegaran memiliki kesempatan untuk menjadi penguasa atau orang nomor satu di Pura yang didirikan oleh Pangeran Sambernyowo atau KGPAA Mangkunegoro I. “Dalam suksesi di Pura Mangkunegaran tidak mutlak harus putra mahkota dari Mangkunegara sebelumnya,” ungkap Surojo.

Surojo menilai Pura Mangkunegaran merupakan sebuah kerajaan catur sagotro dinasti Mataram Islam yang demokratis. Hal ini dilihat dari pola suksesi yang terjadi sejak Mangkunegara II hingga Mangkunegara IX. Pemilihan Pengageng Pura Mangkunegaran selalu menerapkan pola situasinal sehingga tidak bisa ditebak siapa penerus raja berikutnya. “Diawali dari Adipati Mangkunegoro II, itu merupakan cucu Adipati Mangkunegoro I, jadi bukan anaknya langsung,” paparnya.

Kemudian Adipati Mangkunegoro III dan Adipati Mangkunegoro IV sama-sama cucu dari Raja Mangkunegoro II,” ujar Surojo. Perubahan pola terjadi di suksesi Adipati Mangkunegoro V, yang dijabat oleh anak dari Adipati Mangkunegoro IV. “Kemudian Adipati Mangkunegoro VI, yang menjabat adalah adik dari Adipati Mangkunegoro V, di sini beda lagi polanya,” jelasnya.

Dan Adipati Mangkunegoro VII dan Adipati Mangkunegoro VIII sama-sama anak dari Adipati Mangkunegoro V. Surojo berpendapat jika penerus Penguasa Mangkunegaran bakal dipilih sesuai dengan kebutuhan jaman, bukan kebutuhan kelompok. “Ada beberapa kandidat sebagai penerus tahta Pura Mangkunegaran. Mereka adalah Gusti Paundra, Gusti Bhre, dan KRMH Roy,” pungkas Surojo.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini