Bentrokan Maut di Pabrik Gula, Pelaku yang Belum Tertangkap Masih Diburu Polisi

Fathnur Rohman, Okezone · Rabu 06 Oktober 2021 04:00 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 06 525 2481851 bentrokan-maut-di-pabrik-gula-pelaku-yang-belum-tertangkap-masih-diburu-polisi-UFWtPndozq.jpg Ilustrasi (Foto: Ist)

INDRAMAYU - Sebanyak 27 orang yang diduga terlibat aksi bentrokan di lahan tebu Pabrik Gula (PG) Jatitujuh, Indramayu, Jawa Barat, diamankan pihak kepolisian. Saat ini, polisi masih memburu para pelaku lainnya.

Kapolres Indramayu, AKBP M Lukman Syarif mengatakan, pihaknya akan melakukan patroli berskala besar untuk menjaga kondusivitas di area lahan tebu PG Jatitujuh. Sejumlah orang yang berhasil diamankan usai insiden yang menewaskan dua warga Majalengka itu, sambungnya, masih menjalani pemeriksaan hingga saat ini.

"Kita laksanakan patroli skala besar. Kita masih melakukan pengejaran orang-orang yang diduga terlibat insiden itu," kata Lukman, Selasa (5/10/2021).

Baca Juga:  Bentrok Maut di Pabrik Gula, Seorang Anggota DPRD Indramayu Ditangkap

Menurut Lukman, pihaknya belum menentukan tersangka terkait kasus ini. Kendati demikian, proses penyelidikan dan pemeriksaan terhadap orang-orang yang diduga terlibat, masih terus dilakukan.

"Masih dalam proses pemeriksaan," ungkap dia.

Sebelumnya, Lukman menyebut jika orang-orang yang diamankan beberapa di antaranya merupakan provokator. Dalam insiden berdarah itu, sekelompok orang atau organisasi masyarakat diindikasi melakukan provokasi, serta mengintimidadi petani yang telah bermitra dengan PG Jatitujuh.

"Ada segerombolan preman yang ingin menguasai lahan, dan dia mengintimidasi para petani. Ada provokasi dari segelintir orang," katanya.

"Ya melakukan tindak pidana dengan senjata tajam dan melukai petani yang menggarap lahan tebu," tambahnya.

Sementara itu, menanggapi adanya konflik itu, Bupati Indramayu, Nina Agustina secara tegas mengutuk tindakan premanisme yang mengakibatkan dua warga Majalengka meninggal dunia.

"Kita boleh hidup bersama-sama membela. Tapi premanisme ini tidak kita halalkan. Tidak kita perbolehkan," kata Nina.

Baca Juga:  Bentrokan Maut di Indramayu, 20 Orang Ditangkap

Menurut Nina, konflik sengketa lahan yang terjadi di area lahan PG Jatitujuh itu sudah lama terjadi. Pihaknya telah berkoordinasi untuk menyelesaikan permasalahan garapan lahan tersebut.

Ia menilai, peristiwa berdarah itu diduga dipicu akibat salah satu kelompok yang tidak sabar dalam proses penyelesaian sengketa lahan itu. "Sebenarnya kita beberapa bulan yang lalu, sudah ada mediasi. Tapi mungkin karena ketidaksabaran atau ini berlarut-larut, akhirnya meledak," ucap dia.

Sekedar diketahui, insiden bentrokan terjadi di lahan tebu milik PG Jatitujuh, Indramayu, Jawa Barat. Tepatnya, berada tepatnya di Desa Kerticala, Kecamatan Tukdana, Indramayu, Senin 4 Oktober 2021.

Sejumlah orang bersenjata tajam tiba-tiba datang dan menyerang petani yang bermitra dengan PG Jati Tujuh. Diduga bentrokan ini dipicu oleh sengketa lahan garapan tebu. Akibat kejadian ini, dua warga Majalengka meninggal dunia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini