Kisah Pendaratan Darurat Garuda di Bengawan Solo 19 Tahun Lalu, Jadi Berkah Warga Klaten

Solopos.com, · Jum'at 08 Oktober 2021 11:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 08 512 2483167 kisah-pendaratan-darurat-garuda-di-bengawan-solo-19-tahun-lalu-jadi-berkah-warga-klaten-VY2U21Sbyo.jpg Garuda mendarat darurat di Bengawan Solo (Foto: 1001 Crash)

KLATENBengawan Solo menjadi saksi bisu pendaratan darurat pesawat Garuda GA 421 pada 16 Januari 2002, atau 19 tahun silam.

Kala itu, pekikan takbir Pilot Garuda seakan mengubah aliran sungai di Surtanan RT 009/RW 004, Serenan, Juwiring, Klaten, Jawa Tengah itu menjadi landasan pacu tempat pesawat yang mengalami mati mesin itu mendarat.

Meski sudah berlangsung belasan tahun silam, sejumlah warga di Serenan masih menyimpan memori tersebut di benak mereka masing-masing.

Warga Nambangan RT 007/RW 003, Serenan, Juwiring, Nur Satria (40), mengatakan proses evakuasi bangkai pesawat membutuhkan waktu beberapa hari. Hal itu dimanfaatkan warga sekitar untuk membuka jasa parkir bagi siapa pun yang ingin menyaksikan bangkai pesawat di atas aliran Sungai Bengawan Solo.

Baca juga: Daftar Maskapai Terbaik Dunia 2021: Qatar Airwasy Juara, Awak Garuda Indonesia Peringkat 4

Jukir Dadakan

Nur Satria mengatakan lokasi jatuhnya pesawat berjarak kurang lebih 200 meter dari Jembatan Serenan, Juwiring. Setiap warga yang ingin menonton bangkai pesawat memarkir kendaraannya di dekat jembatan tersebut.

"Saya sempat jadi tukang parkir selama tujuh hari. Pendapatan saya senilai Rp200.000 selama empat jam setiap harinya. Saya khusus memberikan jasa parkir kendaraan roda empat. Waktunya hanya empat jam setiap hari. Setelah itu diganti yang lainnya. Pendapatan segitu, sangat besar. Makanya saya memilih libur dari tukang kayu yang hanya menghasilkan Rp24.000 per hari," katanya.

Baca juga: Peristiwa 26 September: Jatuhnya Pesawat Garuda di Medan

Pendaratan darurat pesawat Garuda dengan nomor penerbangaan GA 421 rute Lombok-Yogyakarta itu membuat warga setempat kaget.

Warga sekitar mendengar suara gemuruh dari Sungai Bengawan Solo. Lantaran penasaran, seorang warga bernama Lantip Joko Anggoro (44), bergegas menncari tahu sumber suara.

Kala itu, Lantip sedang mencari angin segar di tanggul di aliran Sungai Bengawan Solo, di Surtanan RT 009/RW 004, Serenan, Juwiring, sekitar pukul 16.00 WIB. Dari tempat berdirinya, Lantip Joko Anggoro melihat ekor pesawat Garuda yang mendarat di Sungai Bengawan Solo.

Baca juga: Utang Garuda Rp70 Triliun, Erick Thohir Akui Ada Kesalahan Bisnis di Masa Lalu

19 Tahun Lalu, Pesawat Garuda Tembus Badai Es & Mendarat di Bengawan Solo Serenan Klaten

Suara gemuruh yang muncul dari Sungai Bengawan Solo memang bisa didengarkan siapa saja yang berada di Serenan dan sekitarnya berjarak satu kilometer dari sumber suara.

Warga kampung pun keluar dari rumah mereka masing-masing dan mendekati bibir Sungai Bengawan Solo.

Tanpa dimintai tolong, Lantip Joko Anggoro dan 50-an warga kampung lainnya berinisiatif ingin memberikan pertolongan ke penumpang, pilot, kopilot, pramugari, yang masih berada di dalam pesawat.

Baca juga: Begini Cara Maskapai Genjot Pariwisata saat Pandemi Belum Sirna

Belakangan diketahui, pesawat yang mengangkut 54 penumpang dan enam awak pesawat itu baru saja mengalami persoalan teknis, yakni mesin mati di ketinggian 8.000 kaki. Pesawat yang terbang dari Mataram (NTB) ke Jogja itu ternyata juga ditumpangi seorang gubernur asal Mataram, kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Jateng, warga negara asing (WNA) asal Australia, dan lainnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini