Presiden: Taiwan Tidak Akan Tunduk pada Tekanan China, Tolak Upaya Reunifikasi

Vanessa Nathania, Okezone · Senin 11 Oktober 2021 11:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 11 18 2484398 presiden-taiwan-tidak-akan-tunduk-pada-tekanan-china-tolak-upaya-reunifikasi-h50VH9gEhK.jpg Presiden Taiwan Tsai Ing-wen (Foto: EPA)

TAIWAN - Presiden Taiwan Tsai Ing-wen dalam pidatonya yang menantang di tengah meningkatnya ketegangan di pulau itu, menegaskan Taiwan tidak akan tunduk pada tekanan China dan akan mempertahankan cara hidup demokratisnya.

Pernyataannya pada Hari Nasional Taiwan datang setelah Presiden China Xi Jinping bersumpah untuk "memenuhi reunifikasi".

Dalam pidatonya pada Minggu (101/10), Presiden mengatakan Taiwan "berdiri di garis pertahanan pertama demokrasi".

Dia mengatakan pulau itu tidak akan "bertindak gegabah" tetapi akan memperkuat pertahanannya untuk "memastikan bahwa tidak ada yang bisa memaksa Taiwan untuk mengambil jalan yang telah ditetapkan China untuk kita".

Dia menegaskan jalan itu tidak menawarkan ‘jalan hidup’ yang bebas dan demokratis bagi Taiwan maupun kedaulatan bagi 23 juta penduduknya.

(Baca juga: Menlu Taiwan: Jika China Luncurkan Perang, Kami Akan Berjuang Sampai Akhir)

"Semakin banyak yang kami capai, semakin besar tekanan yang kami hadapi dari China," terangnya.

Dia menambahkan bahwa penerbangan militer China ke zona pertahanan udara Taiwan telah secara serius mempengaruhi keamanan nasional dan keselamatan penerbangan, dan menggambarkan situasinya sebagai "lebih kompleks dan tidak pasti daripada hal lain mana pun dalam 72 tahun terakhir".

(Baca juga: Taiwan: Hubungan dengan China Terburuk dalam 40 Tahun)

Tsai juga mengatakan tawaran untuk berbicara dengan para pemimpin China pada pijakan yang sama, sebuah saran yang Beijing - mencapnya sebagai "separatis" - sejauh ini telah ditolak.

Pidatonya ini kemudian diikuti penerbangan seremonial (flypast) yang dilakukan jet tempur Taiwan.

Seorang pria yang menonton pidato Tsai mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa orang Taiwan tidak dapat menerima penyatuan dengan China.

"China saat ini agak otoriter. Terutama di bawah Xi Jinping, keadaannya semakin buruk. Reunifikasi tidak tepat dilakukan sekarang," terang warga yang lain.

Setelah pidato Tsai pada Minggu (10/10), Kantor Urusan Taiwan China mengatakan Presiden telah "mendukung kemerdekaan Taiwan, mendorong konfrontasi, memotong sejarah dan fakta yang disengketakan".

China pun langsung mengecam pidato Tsai, dengan mengatakan pernyataan itu "mendorong konfrontasi".

Pada Sabtu (9/10), Presiden China Xi mengatakan penyatuan harus dicapai secara damai, tetapi memperingatkan bahwa orang-orang China memiliki "tradisi mulia" untuk menentang separatisme.

"Tugas sejarah penyatuan kembali tanah air ... pasti akan terpenuhi," ujarnya.

Diketahui, Taiwan menganggap dirinya sebagai negara berdaulat, sementara China memandangnya sebagai provinsi yang memisahkan diri.

Beijing tidak mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan untuk mencapai penyatuan.

China telah mengirim sejumlah rekor jet militer ke zona pertahanan udara Taiwan dalam beberapa hari terakhir. Kementerian pertahanan Taiwan mengatakan 3 pesawat China, termasuk dua jet tempur, menyeberang ke zona itu pada Minggu (10/10).

Tsai terpilih kembali dengan telak tahun lalu dengan janji untuk melawan Beijing.

Meskipun ketegangan meningkat baru-baru ini, hubungan antara China dan Taiwan tidak memburuk ke tingkat yang terakhir terlihat pada 1996 ketika China mencoba mengganggu pemilihan presiden dengan uji coba rudal dan Amerika Serikat (AS) mengirim kapal induk ke wilayah tersebut untuk mencegah mereka.

AS memiliki kebijakan "Satu China" yang sudah lama berlaku, yakni hanya mengakui China daripada Taiwan.

Tetapi perjanjian ini juga memungkinkan Washington untuk mempertahankan hubungan "tidak resmi yang kuat" dengan Taiwan. AS menjual senjata ke Taiwan sebagai bagian dari Undang-Undang Hubungan Taiwan Washington, yang menyatakan bahwa AS harus membantu Taiwan mempertahankan diri.

Dalam sebuah wawancara dengan BBC minggu ini, penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan mengatakan AS akan "berdiri dan berbicara" atas tindakan apa pun yang mungkin "merusak perdamaian dan stabilitas" di Selat Taiwan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini