Kisah Praktik Gelap Pernikahan Anak, Memakan Korban Gadis 15 Tahun yang Meninggal saat Melahirkan

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 12 Oktober 2021 11:42 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 18 2484966 kisah-praktik-gelap-pernikahan-anak-memakan-korban-gadis-15-tahun-yang-meninggal-saat-melahirkan-EaH7Mdqp4g.jpg Pernikahan anak di Zimbabwe (Foto: Nyasha Chingono)

ZIMBABWE - Faith dan teman-teman remajanya yang lain duduk di luar di bawah sinar matahari yang cerah sambil menunggu sesi Taekwondo mereka dimulai, di Epworth, sebuah kota kecil di tenggara Harare tengah, Zimbabwe.

Putranya dan bayi dari ibu remaja lainnya bermain bersama di tanah sementara para ibu menunggu instruktur mereka.

Mereka berbicara dengan nada rendah tentang keadaan yang menyebabkan kematian Anna Machaya yang berusia 15 tahun saat melahirkan pada Juli lalu, yang sebelumnya ada kesalahan pada laporan media dalam mengidentifikasinya sebagai Memory Machaya, 14 tahun.

(Baca juga: PBB Kutuk Pernikahan Anak-Anak Usai Seorang Gadis Meninggal Setelah Melahirkan)

"Saya mendengar kematiannya dengan sangat terkejut. Bagaimana jika itu saya? Saya merasa beruntung masih hidup karena saya melahirkan di rumah itu. Apa pun bisa terjadi," terang Faith.

Machaya meninggal saat melahirkan pada Juli di kuil Gereja Kerasulan Johanne Marange, kata polisi Zimbabwe pada Agustus lalu. Dia menikah dengan salah satu anggota gereja, Hatirarami Momberume yang berusia 26 tahun. Hingga saat ini, CNN tidak dapat menghubungi pengacara suaminya.

(Baca juga: Terlalu, Anak Gadis 13 Tahun Dipaksa Menikah Dengan Lelaki 48 Tahun)

Kematiannya telah memicu protes di Zimbabwe. Sebuah petisi menentang pernikahan anak telah berhasil mengumpulkan ribuan tanda tangan, dan banyak pegiat berharap kasusnya akan mengungkap praktik pernikahan anak yang sudah dilarang di negara itu tetapi masih terus berlanjut, meskipun ada ancaman tindakan hukum.

Dilansir dari CNN, Faith dan anak-anak lainnya yang sudah menikah, enggan nama mereka terungkap karena tidak ingin dikucilkan saat berbicara kepada media.

Pernikahan dini dan kurangnya kualifikasi sering membuat gadis-gadis muda hidup menderita dan miskin.

Faith mengatakan kepada CNN bahwa orang tuanya memaksanya menikah dengan pria berusia 26 tahun setelah putus sekolah pada usia 15 tahun.

Dia bilang dia kehilangan semua harapan untuk kembali ke sekolah. Suami Faith bekerja di tambang emas dan pasangan itu sering tidak bertemu selama berminggu-minggu. Apa yang mereka berdua peroleh dari pekerjaan bergaji rendah hampir tidak dapat menopang kebutuhan keluarga.

"Saya bertahan hidup dengan melakukan pekerjaan kasar. Sulit mendapatkan sabun untuk mencuci pakaian anak saya. Ini hidup yang berat," keluhnya.

Spiwe, 17, adalah teman Faith. Dia mengatakan kepada CNN bahwa dia menikah pada usia 15 tahun setelah orang tuanya bercerai.

Arimuzhu menghasilkan kurang dari USD2 (Rp28 ribu) per hari dengan mencuci pakaian dan pekerjaan rumah lainnya untuk pekerja kelas menengah kota. Dia mengatakan putranya yang berusia 9 bulan sering kelaparan. "Hidup ini sulit," terangnya.

Rutendo melihat dengan tenang saat Arimuzhu menceritakan kisahnya. Dia khawatir dan termenung.

Gadis berusia 16 tahun itu sedang hamil dan mengatakan bahwa dia belum mendaftar untuk perawatan antenatal di klinik setempat. Remaja itu mengatakan suaminya bekerja di tambang emas, dan upah gabungan mereka tidak cukup untuk membuat mereka bertahan.

Sedangkan, Mungai mengatakan suaminya sering memukulinya ketika mereka berdebat tentang keuangan keluarga mereka yang sedikit.

"Setiap kali saya mengeluh lapar, dia marah," katanya dengan suara parau.

"Tidak ada kedamaian di rumah,” tambahnya.

Menurut kelompok kampanye, Girls Not Brides in Zimbabwe, lebih dari sepertiga anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun dan 5% menikah sebelum ulang tahun ke-15 mereka.

Juru bicara polisi Zimbabwe, Paul Nyathi mengatakan kepada CNN, menyusul protes yang ditimbulkan oleh kasus Machaya, Momberume ditangkap bersama dengan orang tua Machaya.

Dia mengatakan Momberume menghadapi dakwaan pemerkosaan, sementara orang tuanya didakwa menghalangi jalannya peradilan karena diduga memberikan dokumen identitas palsu kepada polisi yang menyembunyikan usia sebenarnya.

Pihak berwenang menduga bahwa orang tua Machaya, Edmore Machaya dan Shy Mabika, juga berjanji untuk memberikan anak berusia 9 tahun mereka kepada Momberume.

"Penyelidikan kami telah menunjukkan bahwa orang-orang yang terlibat tidak terbuka, dan mereka mencoba untuk menyembunyikan masalah tersebut, terutama pada kegiatan apa yang mungkin terjadi di gereja itu," ujar Nyathi kepada CNN.

Sedangkan, menurut laporan dari CNN, Alice Mabika, yang berbicara atas nama keluarga Anna, menolak berkomentar ketika dihubungi tentang insiden tersebut.

"Saya telah diminta untuk tidak mengomentari masalah ini sampai penyelidikan selesai," katanya.

Pemerintah biasanya menutup mata terhadap praktik pernikahan anak. Zimbabwe memiliki dua perangkat hukum pernikahan, Undang-Undang Perkawinan dan Undang-Undang Perkawinan Adat. Tidak ada undang-undang yang memberikan batasan usia minimum untuk menikah, sedangkan hukum adat memperbolehkan poligami.

RUU pernikahan baru yang diajukan ke parlemen untuk diperdebatkan berusaha menyelaraskan undang-undang, melarang pernikahan siapa pun di bawah 18 tahun dan menuntut siapa pun yang terlibat dalam pernikahan anak di bawah umur.

Praktek pernikahan anak tersebar luas di kota-kota dan pedesaan Zimbabwe, sebagian besar orang miskin di negara itu tinggal. Di sini orang tua sering mengatakan bahwa mereka dipaksa untuk memberikan anak perempuan mereka dalam pernikahan untuk mengurangi beban biaya perawatan mereka.

Menurut organisasi Girls Not Brides, dengan adanya kejadian tersebut, sebuah gereja di bawah pengawasan, yaitu Gereja Apostolik yang juga mendapat sorotan karena gadis-gadis muda didorong untuk menikah dengan pria yang lebih tua, untuk "bimbingan spiritual”.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan pernikahan anak "merajalela" di antara beberapa gereja apostolik.

"Pernikahan anak merajalela di Zimbabwe, terutama di antara gereja-gereja apostolik Pribumi, sebuah kelompok evangelis yang mencampuradukkan kepercayaan Kristen dengan budaya tradisional dan memiliki jutaan pengikut di seluruh negeri," kata HRW dalam sebuah postingan.

Nyasha Marange, juru bicara Gereja Kerasulan Johanne Marange tempat Anna meninggal, mengatakan gereja tidak mengizinkan pernikahan yang melibatkan anak-anak di bawah 18 tahun dan membantah bahwa para anggotanya melecehkan anak di bawah umur.

"Para pemimpin kami telah berkhotbah menentang itu," terangnya kepada CNN.

"Kami mengucilkan setiap anggota yang terlibat dalam perilaku seperti itu. Ini adalah pelanggaran pidana dan harus ditangani di pengadilan seperti dalam kasus Momberume," lanjutnya.

Dia mengatakan bahwa remaja itu meninggal di kuil milik gereja tetapi tidak di dalam gedung gereja. Menurutnya, pemerintah Zimbabwe melarang pertemuan gereja untuk mencegah penyebaran Covid-19 dan sejak itu kebaktian gereja secara reguler tidak diadakan.

Kuil adalah tempat anggota melakukan doa dan menerima instruksi spiritual dari pemimpin gereja. Menurut otoritas gereja, tempat ini dikatakan suci karena membawa kekuatan spiritual.

Marange menambahkan bahwa gereja bekerja sama dengan polisi dan anggota gereja membantu menemukan Momberume ketika dia diduga bersembunyi setelah kematian Machaya.

Menurut sekretaris jenderal Dewan Gereja Zimbabwe, Kenneth Mtata, orang tua jarang melaporkan kasus pelecehan ke polisi karena takut "memalukan" gereja.

Dikutip dari CNN, Mtata mengatakan bahwa pelaku kekerasan anak di gereja-gereja ini ketika ditangkap, jarang menghadapi konsekuensi.

"Saat ini, kami memiliki banyak kasus di mana hukuman tampaknya tidak terjadi, dan banyak orang lolos begitu saja," jelasnya.

Menurut Natsiraishe Maritsa, juru kampanye pernikahan dini kepada CNN mengatakan pemberlakuan lockdown Covid-19 tahun lalu juga telah menyebabkan peningkatan pernikahan remaja.

Banyak siswi terpaksa tinggal di rumah, sehingga terlihat adanya peningkatan pernikahan pada anak.

Dia pun berinisiatif mengajar ibu remaja ini pelajaran bela diri di Epworth, salah satu kota termiskin di Harare selatan.

"Sebagian besar anak-anak yang bersekolah tidak bisa melakukan apa-apa karena sekolah tutup. Hal itu mendorong mereka melakukan pernikahan dini," ujarnya Maritsa kepada CNN.

Pada Maret lalu, Menteri Urusan Wanita Zimbabwe, Sithembiso Nyoni kepada parlemen negara itu mengatakan antara Januari dan 5 Februari tahun ini, hampir 5.000 remaja hamil, sementara 1.174 pernikahan anak tercatat.

Nyoni mengatakan para pejabat sedang mengumpulkan data statistik kehamilan remaja, dan menambahkan bahwa daerah pedesaan yang paling terpengaruh.

"Kami belum memiliki pembaruan, tetapi di pedesaan Zimbabwe, kehamilan tidak turun seperti yang diharapkan. Kami masih mengumpulkan data, dan mudah-mudahan, kami dapat melihat skalanya. Laki-laki harus menghentikan perilaku ini," katanya.

Dia juga meminta pihak berwenang untuk mengambil tindakan terhadap gereja-gereja yang melecehkan gadis remaja.

"Kami mengatakan semua gereja yang melecehkan anak-anak harus dibawa ke pengadilan. Kami ingin semua gereja yang memulai sesuatu atas nama Tuhan bertanggung jawab dan tidak melecehkan anak-anak," lanjutnya.

1
5

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini