Terapung 29 Hari di Laut, Dua Pria Bertahan Hidup dengan Jeruk, Kelapa, dan Air Hujan

Vanessa Nathania, Okezone · Selasa 12 Oktober 2021 17:38 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 12 18 2485230 terapung-29-hari-di-laut-dua-pria-bertahan-hidup-dengan-jeruk-kelapa-dan-air-hujan-jGPDUVS1CE.jpg Ilustrasi. (Foto: Okezone)

PORT MORESBY – Dua pria berhasil selamat setelah terapung selama 29 hari di laut dengan makan jeruk dan kelapa yang terapung dan minum air hujan.

Livae Nanjikan dan Junior Qoloni diselamatkan di lepas pantai Papua Nugini sekira 455 km jauhnya dari rumah mereka di Kepulauan Solomon. Keduanya sempat terdampar di laut selama hampir sebulan setelah perahu mereka dihantam angin kencang.

BACA JUGA: Terdampar di Pulau Terpencil, 3 Pelaut Diselamatkan karena Tanda SOS

Pada 3 September Nanjikan dan Qoloni berangkat dari Pulau Mono dengan perahu motor kecil dan telah merencanakan untuk melakukan perjalanan sejauh sekira 200 km ke selatan ke Pulau New Georgia.

“Kami telah melakukan perjalanan sebelumnya dan seharusnya baik-baik saja,” kata Nanjikan kepada Guardian.

Tetapi setelah pelacak GPS mereka berhenti bekerja dan hujan lebat serta angin kencang menerjang perahu, kedua pria itu tersesat di laut.

“Kami tidak dapat melihat ke mana kami pergi, jadi kami memutuskan untuk menghentikan mesin dan menunggu, untuk menghemat bahan bakar,” kata Nanjikan.

BACA JUGA: 3 Warga Kuba Diselamatkan Setelah Terdampar 33 Hari di Pulau Tak Berpenghuni

Para pelaut berpengalaman itu bertahan hidup dengan jeruk yang mereka kemas untuk perjalanan serta kelapa mengapung yang mereka kumpulkan dari laut. Mereka menahan dahaga dengan menampung air hujan di selembar kanvas.

Nanjikana dan Qoloni mengapung sekitar 455 km ke arah barat laut sebelum akhirnya ditemukan oleh seorang nelayan di lepas pantai New Britain, Papua Nugini.

“Kami tidak tahu di mana kami berada tetapi kami tidak berharap berada di negara lain,” kata Nanjikan.

Setibanya di Papua Nugini pada 3 Oktober, kedua pria itu sangat lemah sehingga mereka harus dibawa dari kapal dan keduanya itu sekarang tinggal dengan seorang penduduk lokal di Provinsi Pomio.

Mengambil sisi positif dari cobaan berat yang dialaminya ini, Nanjikan mengatakan kepada Guardian bahwa waktunya selama di kapal adalah "istirahat yang menyenangkan dari Covid".

“Saya tidak tahu apa yang terjadi saat saya berada di luar sana. Saya tidak mendengar berita tentang Covid atau apa pun,” katanya.

“Saya berharap untuk kembali ke rumah, tetapi saya kira itu adalah istirahat yang baik dari segalanya.”

Sebelumnya, pada Februari, ada pula tiga orang yang terdampar dan diselamatkan dari sebuah pulau terpencil di Bahama. Ketiganya selamat setelah sebulan penuh terdampar di pulau itu dengan memakan kelapa dan membangun tempat berteduh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini