Pascagempa Bali, 3 Ruas Jalan Terdampak Longsor Sudah Bisa Dilewati

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 23 Oktober 2021 12:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 23 244 2490553 pascagempa-bali-3-ruas-jalan-terdampak-longsor-sudah-bisa-dilewati-xuRsFeqpyt.jpg Gempa Bali (Foto: BNPB)

JAKARTA - Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali I Made Rentin mengatakan, tiga ruas jalan yang sebelumnya tertutup material longsor di wilayah Trunyan pascagempa sudah bisa dilewati kembali. Meskipun demikian, pihaknya meminta masyarakat tidak melewati dulu ruas jalan tersebut sampai benar-benar dipastikan aman untuk masyarakat.

Hal tersebut disampaikan mengingat masih perlunya dilakukan kajian dan evaluasi bersama pihak terkait, dalam hal ini Badan Geologi, untuk memastikan keamanan kawasan yang baru saja mengalami longsor tersebut. Apalagi, saat ini sudah mulai memasuki musim hujan yang bisa meningkatkan kerawanan gerakan tanah.

Baca Juga: Gempa Berkekuatan M3,0 Kembali Guncang Salatiga

Dalam diskusi yang digelar BNPB mengenai perkembangan situasi dan penanganan gempa yang terjadi di wilayah Bali, I Made Rentin juga menyampaikan bahwa saat ini status tanggap darurat untuk Kabupaten Karangasem diperpanjang hingga tanggal 30 Oktober 2021, sedangkan untuk Kabupaten Bangli berlaku hingga 27 Oktober 2021.

Historis Gempa Darat di Bali Hampir Selalu Diiringi Longsor

Sementara dari catatan sejarah yang ada, Koordinator Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, menyampaikan bahwa gempa darat di utara-timur dan utara-barat Bali pada tahun 1815, 1917 dan 1976 selalu diikuti oleh longsoran yang memakan korban jiwa tidak sedikit.

"Gempa Bali tanggal 21 Januari 1917 itu menimbulkan longsoran yang menyebabkan korban jiwa hingga 80 persen dari total korban yang saat itu berjumlah sekitar 1,500 orang," ujar Daryono.

Baca Juga:  Gempa Bumi M3,0 Guncang Kota Salatiga, Terasa hingga Ambarawa

Terkait dengan kerusakan bangunan yang sangat signifikan saat kejadian gempa M4,8 pada 16 Oktober lalu, Daryono mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh faktor amplifikasi guncangan oleh endapan tanah lunak dan faktor bangunan yang tidak memperhatikan kaidah bangunan standar tahan gempa.

Lebih jauh, Daryono menyampaikan bahwa masyarakat perlu memperhatikan potensi bahaya ikutan (collateral hazards) dari gempa sehingga pemukiman yang saat ini sudah ada perlu melihat kembali aspek geologi lingkungan berbasis risiko gempa.

"Masyarakat diharapkan tidak membangun rumah di bawah lereng bukit terjal karena rawan terjadi longsoran (landslide) dan runtuhan batu (rockfall) saat gempa," tutup dia.

Karakter Gerakan Tanah Paska Gempa M4,8

Melihat dari sisi potensi pergerakan tanah, Koordinator Mitigasi Gerakan Tanah PVMBG Agus Budiyanto menuturkan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa gerakan tanah paska gempa M4,8 terjadi di kawasan alur lembah sungai dan tebing terjal. Kawasan longsor di Trunyan merupakan kawasan yang memang memiliki potensi gerakan tanah yang tinggi sesuai dengan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Bulan Oktober yang dikeluarkan oleh Badan Geologi.

"Dilihat dari letak topografinya, Desa Trunyan termasuk berada di lerang terjal, hal ini dapat memicu terjadinya pergerakan tanah apabila terjadi curah hujan yang tinggi apalagi jika terjadi gempa," kata Agus.

Selanjutnya, untuk antisipasi ke depan, Agus menambahkan agar dipasang tanda peringatan di kawasan rawan longsor, dan menyiapkan jalur evakuasi ketika terjadi longsor. Selain itu, penting untuk diingatkan kepada masyarakat dan pemerintah daerah agar tidak mengembangkan pemukiman mendekati tebing kaldera dan mulut alur sungai.

Perkuatan Bangunan Berbasis Masyarakat Sebagai Upaya Mitigasi Jangka Panjang

 

Ketika berbicara bahwa sebenarnya bukan gempa yang membunuh, melainkan bangunan yang tidak tahan gempa yang roboh saat gempa terjadi, maka perhatian terbesar untuk mitigasi harus diarahkan agar bangunan yang sudah ada bisa diperkuat agar tahan gempa.

Salah satu upaya mitigasi yang dapat dilakukan untuk hal tersebut menurut Guru Besar Universitas Andalas Fauzan yakni dengan melakukan perkuatan rumah masyarakat menggunakan Ferrocement Layer. Metode ini dilakukan dengan cara menambahkan kawat anyam yang dilapisi semen mortar ke dinding rumah.

"Salah satu mitigasi yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan perkuatan rumah masyarakat menggunakan Ferrocement Layer dengan menambahkan kawat anyam yang dilapisi dengan semen mortar," ujar Fauzan.

Fauzan menambahkan, metode ini mampu menambahkan kekuatan pada bangunan rumah tinggal hingga sepuluh kali lipat. Bangunan dengan menggunakan kawat anyam ini juga tergolong mudah dikerjakan dengan biaya terjangkau. "Dengan metode ini, bisa menambah kekuatan bangunan sepuluh kali lipat dari sebelumnya, tentu dengan menggunakan kawat anyam ini tergolong murah, simpel dan mudah dikerjakan," jelas Fauzan.

Metode perkuatan bangunan menggunakan kawat anyam ini sudah diujicobakan di Laboratorium National Research Institute for Earth Science, Jepang dan memberikan hasil yang sangat menjanjikan untuk diimplementasikan berbasis masyarakat. Fauzan mengatakan bahwa keunggulan utama metode ini adalah bahan baku yang bisa dengan mudah diperoleh di seluruh daerah, biaya pengerjaan yang relatif murah (hanya 10% - 30% dari biaya dengan metode lain), dan sangat mudah dilakukan oleh siapapun.

Sebagai penutup, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan metode Ferrocement Layer ini merupakan upaya mitigasi yang feasible dan reliable untuk dilakukan berbasis masyarakat. "Dengan mensosialisasikan berbagai opsi mitigasi gempa dan penguatan bangunan yang dapat dilakukan di tingkat masyarakat, kita berharap secara bertahap kerentanan bangunan bisa dikurangi sedikit demi sedikit," tutup Abdul Muhari.

Sebelumnya gempa bumi M4,8 terjadi pada Sabtu 16 Oktober 2021. Di luar dugaan dampak yang ditimbulkan sangat signifikan terhadap bangunan dan infrastruktur di wilayah Kabupatan Karangasem dan Bangli. Terhitung total 437 unit rumah rusak berat, 135 rumah rusak sedang dan 1.415 rumah rusak ringan. Kondisi ini tentu saja perlu mendapatkan perhatian karena faktor bangunan yang tidak tahan gempa merupakan faktor utama kerentanan yang bisa menimbulkan korban jiwa saat terjadi gempa.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini