Pesan Trimah untuk 3 Anaknya Usai Diserahkan ke Panti Jompo: Semoga Sadar Masih Punya Orangtua

Avirista Midaada, Okezone · Senin 01 November 2021 17:53 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 01 519 2495063 pesan-trimah-untuk-3-anaknya-usai-diserahkan-ke-panti-jompo-semoga-sadar-masih-punya-orangtua-kC6w7EMsov.jpg Trimah, ibu yang ditelantarkan 3 anaknya ke panti jompo. (Foto: Okezone.com/Avirista M)

MALANG - Trimah, lansia asal Magelang, Jawa Tengah ini, kini menjadi penghuni panti jompo Griya Lansia Husnul Khatimah di Dusun Baran, Desa Wajak, Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang, setelah diserahkan ketiga anaknya.

Sontak saja kisah hidup Trimah menjadi perbincangan khalayak, karena ketiga anaknya mengaku sibuk dan tak bisa merawat orangtua. Trimah kini menderita penyakit stroke yang membuatnya tidak bisa lagi berdiri, bahkan untuk duduk pun ia tampak kesulitan.

Ditemui Okezone di kamarnya nomor 10 blok B di Griya Lansia Husnul Khatimah, Senin (1/11/2021) siang, Trimah baru selesai berisitirahat. Di sela-sela istirahatnya, perempuan dengan tiga orang anak ini menyempatkan bercerita.

Trimah mengisahkan awal mula ia dibawa ke Griya Lansia Husnul Khatimah oleh anak - anaknya. Ia mengaku tak tahu menahu bila kepergian dia dengan tiga anaknya dari Magelang, itu akan menuju Malang, untuk dimasukkan ke panti lansia.

Dia masih ingat betul pada Selasa 26 Oktober 2021 malam, ia dibawa ke Griya Lansia Husnul Khatimah. Tapi ia tak bisa berbuat banyak dan pasrah dibawa ke suatu tempat yang tidak diketahuinya.

"Dulu waktu diantar ya enggak tahu mau dibawa ke sini. Enggak tahu dikatakan mau ke mana enggak tahu. Di Sidoarjo katanya. Nyampai sini ditaruh di sini. Disampaikan (sama anaknya Trimah) mah yang sabar ya di sini, gitu saja. Saya jawab ya saja," ujarnya.

Baca juga: Meski Ditelantarkan 3 Anak, Ibu Trimah Tetap Berharap Bisa Kembali Berkumpul dengan Buah Hati

Ia mengaku terkejut dan sempat tidak menerima keputusan sang anak untuk dititipkan di panti lansia. Apalagi kini ia tak bisa berinteraksi dengan delapan orang cucunya.

"Anak pertama perempuan di Jakarta, suaminya kerja ngojek online, yang kedua laki - laki sopir di Jakarta, yang perempuan ngajar, tapi waktu Covid diberhentikan. Anak ketiga perempuan di Pekalongan, ibu rumah tangga, suaminya ngojek online juga," ungkapnya.

"Kangen cucu, saya punya delapan cucu, dua cucu anak pertama, empat cucu anak kedua, dan dua cucu anak ketiga. Usianya yang besar (cucu Trimah) kelahiran tahun 2000," kata dia.

Perempuan kelahiran Dewa Tegalarum, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang menjelaskan, sebelum dibawa ke panti lansia, ia sempat tinggal setahun di Jakarta bersama besan dan anaknya.

Selama di Jakarta ia mengaku tak tinggal dengan anaknya. Namun dia dikontrakkan rumah oleh sang anak. Tetapi, setelah setahun tinggal rumah kontrakannya habis dan sang menantu tak sanggup lagi membayar uang kontrakan. Akibatnya dia diusir dari rumah kontrakan.

Tetapi sebelum akhirnya pulang ke Pekalongan dan Magelang, ia sempat tinggal di rumah tetangga kontrakannya di Jakarta yang iba dengannya.

"Tinggal sendiri, terus berapa bulan enggak bisa bayar diusir. Katanya enggak usah pulang tinggal tidur di rumah saya saja. Tapi saya tetap dibawa pulang ke tempat saudara di Magelang," jawabnya.

Sesampainya di Magelang, ia sempat tinggal bersama adiknya. Tetapi setelah sang adik menikah lagi, ia diserahkan ke anak kandungnya. Dari sanalah ia akhirnya dibawa oleh sang anak ke Griya Lansia Husnul Khatimah Malang.

"Di Jakarta satu tahun, pulang diantar anak ke tempat saudara (Magelang) sama adik, lalu dibawa ke sini (Griya Lansia Husnul Khatimah Malang) sama anak. Adik nikah dibawa ke sini," bebernya.

Setelah enam hari tinggal di panti lansia, Trimah mengaku mulai betah dan bahkan mengaku tak mau pulang ke rumah. "Tapi kalau dibawa pulang, saya enggak mau, masih betah di sini. Enggak mau (pulang), di sini saja, daripada di rumah kita disa-siakan, anak-anak ikut mertua semua," tuturnya.

"Di sini enak kerasan banyak temannya, pegawainya ya baik - baik, banyak yang merawat saya. Makannya nasi sayur, dapat fasilitas kesehatan," terangnya.

Kesehariannya ia habiskan dengan belajar agama Islam, mulai mengaji, mendengarkan pengajian, hingga berinteraksi dengan perawat-perawat di panti lansia ini. "Belajar ngaji, dengarkan khutbah sama senam pagi. Habis subuh ngaji, siang istirahat, sampai sore," bebernya.

Kendati telah betah tinggal di panti lansia, Trimah sempat menitipkan pesan untuk sang anak-anak kandungnya, agar tidak melupakan dirinya sebagai orang tuanya.

"Pesannya supaya masih ingat punya orang tua, masih ingin dijenguk, yang penting sadar saja bahwa punya orang tuanya itu saja yang kita kangenin," ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini