Mantan Diktator Korsel Chun Doo-hwan Meninggal di Usia 90 Tahun

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 23 November 2021 10:21 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 23 18 2505976 mantan-diktator-korsel-chun-doo-hwan-meninggal-di-usia-90-tahun-Y88dkKakaj.jpg Mantan Presiden Korea Selatan Chun Doo-hwan keluar dari persidangan di Seoul, 9 Agustus 2021. (Foto: Reuters)

SEOUL - Mantan Presiden Korea Selatan Chun Doo-hwan, yang memerintah dengan tangan besi pasca kudeta 1979, telah meninggal dunia pada Selasa (23/11/2021) pagi. Chun meninggal dunia di rumahnya di Seoul dan jasadnya akan dipindahkan ke rumah sakit sebelum dimakamkan.

Min Chung-ki, keterangan sekretaris pers Chun mengatakan bahwa mantan diktator berusia 90 tahun itu menderita kanker darah multiple myeloma dan kesehatannya memburuk baru-baru ini.

BACA JUGA: Mantan Presiden Korsel Roh Tae-Woo Meninggal di Usia 88 Tahun

Chun adalah seorang mantan komandan militer yang memimpin pembantaian tentara terhadap demonstran pro-demokrasi di Gwangju pada 1980. Karena perannya dalam kekejaman itu dia kemudian dijatuhi hukuman mati yang diringankan.

Dalam persidangan dia membela keputusannya, menyebut tindakan itu diperlukan untuk menyelamatkan negara.

Kematiannya terjadi sekira sebulan setelah mantan presiden Korea Selatan lainnya, yang juga rekan Chun selama kudeta Roh Tae-woo, meninggal pada usia 88 tahun.

Chun lahir pada tanggal 6 Maret 1931, di Yulgok-myeon, sebuah kota pertanian miskin di daerah tenggara Hapcheon, selama pemerintahan Jepang atas Korea.

BACA JUGA: Kisah Presiden Korsel Park Chung-hee Tewas Ditembak

Dia bergabung dengan militer langsung dari sekolah menengah, naik pangkat sampai dia diangkat menjadi komandan pada 1979.

Setelah mengambil alih penyelidikan pembunuhan Presiden Park Chung-hee di tahun itu, Chun mendekati sekutu militer kunci untuk mendapatkan kendali badan intelijen Korea Selatan dan kemudian memimpin kudeta 12 Desember.

Delapan tahun memerintah di Gedung Biru, pemerintahan Chun diwarnai dengan kebrutalan dan represi politik. Namun, di saat yang sama kemakmuran ekonomi juga muncul di Korea Selatan.

Chun mengundurkan diri dari jabatannya di tengah gerakan demokrasi nasional yang dipimpin mahasiswa pada 1987 menuntut sistem pemilihan langsung.

Pada 1995, ia didakwa dengan pemberontakan, pengkhianatan dan ditangkap setelah menolak untuk hadir di kantor kejaksaan dan melarikan diri ke kampung halamannya.

Dalam apa yang disebut media sebagai "persidangan abad ini", Chun dan rekannya Roh Tae-Woo dinyatakan bersalah atas pemberontakan, pengkhianatan, dan penyuapan. Dalam putusannya, hakim mengatakan bahwa kenaikan kekuasaan Chun datang "melalui cara ilegal yang menimbulkan kerusakan besar pada rakyat".

Ribuan mahasiswa diyakini telah tewas di Gwangju, menurut kesaksian para penyintas, mantan perwira militer dan penyelidik.

Roh diberi hukuman penjara yang lama sementara Chun dijatuhi hukuman mati. Namun, itu diringankan oleh Pengadilan Tinggi Seoul sebagai pengakuan atas peran Chun dalam perkembangan ekonomi yang cepat dari ekonomi "Harimau" Asia dan pemindahan kepresidenan secara damai ke Roh pada 1988.

Kedua pria tersebut diampuni dan dibebaskan dari penjara pada 1997 oleh Presiden Kim Young-sam, dalam apa yang disebutnya sebagai upaya untuk mempromosikan "persatuan nasional."

Chun kembali menjadi sorotan. Dia menyebabkan kehebohan nasional pada 2003 ketika dia mengklaim memiliki total aset 291.000 won (Rp3,5 juta) uang tunai, dua anjing dan beberapa peralatan rumah - sementara berutang sekitar 220,5 miliar won dalam denda. Keempat anaknya dan kerabat lainnya kemudian ditemukan memiliki petak besar tanah di Seoul dan vila-vila mewah di Amerika Serikat.

Keluarga Chun pada 2013 bersumpah untuk melunasi sebagian besar utangnya, tetapi denda yang belum dibayarnya masih berjumlah sekitar 100 miliar won hingga Desember 2020.

Pada 2020, Chun dinyatakan bersalah dan menerima hukuman percobaan delapan bulan karena mencemarkan nama baik mendiang aktivis demokrasi dan imam Katolik dalam memoarnya pada 2017. Jaksa telah mengajukan banding, dan Chun menghadapi persidangan minggu depan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini