Demonstrasi Ricuh, Polisi Tembakkan Gas Air Mata dan Bom Asap

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 26 November 2021 14:28 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 18 2507896 demonstrasi-ricuh-polisi-tembakkan-gas-air-mata-dan-bom-asap-ENg9ZPRgXj.jpg Polisi tembakkan gas air mata dan bom asap ke arah pengunjuk rasa (Foto: Reuters)

TURKI - Polisi anti huru hara di Turki dan Meksiko telah menembakkan gas air mata dan bom asap ke pengunjuk rasa yang menyerukan diakhirinya kekerasan terhadap perempuan.

Ribuan pengunjuk rasa berbaris untuk menandai hari internasional penghapusan serangan berbasis gender.

Namun bentrokan pecah dengan pasukan keamanan di kota Istanbul, Turki. Di Mexico City, polisi menembakkan bom asap ke sekelompok kecil pengunjuk rasa yang menggunakan palu yang mencoba merebut perisai mereka.

Pengunjuk rasa yang meneriakkan "Tidak satu pun (perempuan) kurang", orang banyak berkumpul di ibukota Meksiko untuk menuntut diakhirinya femisida - pembunuhan yang disengaja terhadap perempuan karena jenis kelamin mereka.

Baca juga: Mobil Polisi Dibakar dan 7 Terluka, Demonstrasi Tolak Lockdown Berakhir Ricuh

Menurut Amnesty International, setidaknya 10 wanita dan anak perempuan dibunuh setiap hari di negara Amerika Latin itu.

"Femicide Mexico! Mereka membunuh kita!" seorang wanita dilaporkan berteriak saat berkelahi dengan polisi.

Media lokal melaporkan, beberapa demonstran berkerudung melemparkan botol, batu dan suar ke polisi. Menurut polisi, 17 orang termasuk 10 polisi wanita, terluka selama pawai itu.

Baca juga: Pengunjuk Rasa Terjun Payung ke Stadion Saat Pertandingan Jerman VS Prancis, Tabrak Kamera

sementara itu, demonstrasi di Taksim Square Istanbul terjadi hanya beberapa bulan setelah Turki menarik diri dari perjanjian internasional yang bertujuan melindungi perempuan.

Polisi bentrok dengan pengunjuk rasa saat mendesak mereka untuk membubarkan diri dari daerah tersebut.

Banyak demonstran digambarkan memegang spanduk. Sedangkan yang lain menyerukan pemerintah untuk mengundurkan diri karena penarikannya dari Konvensi Istanbul pada Juni lalu.

Beberapa pihak di partai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berpendapat bahwa perjanjian itu tidak sesuai dengan nilai-nilai konservatif Turki. Erdogan mengatakan Turki akan menggunakan hukum setempat untuk melindungi perempuan.

"Perempuan dibunuh," kata seorang pengunjuk rasa kepada kantor berita Reuters.

"Mereka dibunuh di depan umum. Mulai Juni, kami mulai menjauh dari jaminan yang melindungi kami,” lanjutnya.

"Kami tidak akan menerima ini dan kami akan terus berjuang,” ujarnya.

Menurut kelompok hak asasi di Turki, 345 wanita telah terbunuh sepanjang tahun ini.

Demonstrasi tersebut berlangsung untuk menandai Hari Internasional tahunan untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan. Ratusan demonstran juga berbaris di Barcelona, Paris dan London.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini