Sehari Setelah Kerusuhan, Polisi Australia Ambil Kendali Ibu Kota Kepulauan Solomon

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 26 November 2021 14:31 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 18 2507900 sehari-setelah-kerusuhan-polisi-australia-ambil-kendali-ibu-kota-kepulauan-solomon-niEFF2fDBL.JPG Suasana di Ibu Kota Kepulauan Solomon Honaira saat protes dengan kerusuhan melanda, 25 November 2021. (Foto: Reuters)

CANBERRA Australia mengirimkan ratusan personel polisi ke Ibu Kota Kepulauan Solomon, Honiara setelah protes dengan kekerasan yang melanda negara kepulauan di Pasifik itu pada Kamis (25/11/2021). Pengiriman personel polisi itu dilakukan Canberra atas permintaan Perdana Menteri (PM) Manasseh Sogavare.

Pada Jumat (26/11/2021) polisi Australia mulai menguasai Honiara meski penjarahan dan pembakaran gedung masih terjadi di kawasan Chinatown, demikian diwartakan Reuters. Seorang penduduk mengatakan bahwa jam malam kemungkinan akan diberlakukan pada malam hari.

BACA JUGA: Massa Jarah Toko dan Bakar Gedung Parlemen, Kepulauan Solomon Berlakukan Lockdown 36 Jam

"Adegan di sini benar-benar kacau. Ini seperti zona perang," kata Transform Aqorau kepada Reuters melalui telepon pada Jumat pagi.

"Tidak ada angkutan umum dan harus berjuang melawan panas dan asap. Bangunan masih menyala."

Dia mengatakan kemudian polisi Australia "mengambil alih Chinatown".

PM Sogavare menyalahkan pihak asing atas protes dengan kekerasan yang terjadi, namun dia tidak menyebutkan negara mana yang dimaksud.

Banyak pengunjuk rasa berasal dari provinsi terpadat Malaita dan merasa diabaikan oleh pemerintah di Provinsi Guadalcanal. Mereka menentang keputusan pada 2019 untuk mengakhiri hubungan diplomatik dengan Taiwan dan menjalin hubungan formal dengan China.

BACA JUGA: 7 Juli 1978, Kepulauan Solomon Resmi Merdeka

"Saya merasa kasihan kepada orang-orang saya di Malaita karena mereka diberi kebohongan palsu dan disengaja tentang peralihan itu," kata Sogavare kepada Australian Broadcasting Corporation.

"Negara-negara yang sekarang mempengaruhi Malaita ini adalah negara-negara yang tidak menginginkan hubungan dengan Republik Rakyat China, dan mereka melarang Kepulauan Solomon untuk menjalin hubungan diplomatik dan mematuhi hukum internasional dan resolusi PBB."

China dan Taiwan telah menjadi saingan di Pasifik Selatan selama beberapa dekade dengan beberapa negara pulau beralih kesetiaan.

Beijing memandang Taiwan sebagai provinsi yang bandel tanpa hak untuk menjalin hubungan antarnegara, yang disengketakan oleh pemerintah di Taipei.

Saat ini hanya 15 negara yang mempertahankan hubungan diplomatik formal dengan Taiwan. Dua yang terakhir meninggalkan Taipei demi Beijing adalah Kepulauan Solomon dan Kiribati pada September 2019.

Polisi Australia sebelumnya dikerahkan ke Kepulauan Solomon pada 2003 di bawah misi penjaga perdamaian yang disahkan oleh deklarasi Forum Pulau Pasifik dan tinggal selama satu dekade.

Kerusuhan internal yang parah dan konflik bersenjata dari 1998 hingga 2003 melibatkan kelompok-kelompok militan dari Guadalcanal dan pulau tetangga Malaita, dan pertempuran di pinggiran Honiara.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini