Kisah Heroik Serka Suyuthi, Bantu Remaja Terlantar di Jalanan

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 27 November 2021 08:52 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 27 519 2508205 kisah-heroik-serka-suyuthi-bantu-remaja-terlantar-di-jalanan-S23No3m0Dw.jpg Kisah heroik Serka Suyuthi (Foto: Tangkapan layar)

REMBANG - Kisah inspiratif  dari seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Serka Suyuthi di Rembang, Jawa Tengah (Jateng) yang menyelamatkan nyawa seorang remaja terlantar.

Serka Suyuthi, 43, sehari-hari diketahui berdinas di Koramil Lasem, Rembang.

Dia mengatakan suatu hari pada Oktober lalu, usai pulang kantor dia hendak membeli BBM di SPBU pinggir jalur Pantura. Perhatiannya tertuju pada seorang anak terlantar di jalanan yang membawa kantong kresek di bawah terik sinar matahari.

Anak itu bernama Teguh Ahmad Bahari, asal Garut, Jawa Barat, usia 17 tahun. Keduanya tidak saling mengenal

Saat Serka Suyuthi mencoba bertanya, anak itu menjawab akan berziarah ke makam Sunan Bonang di Desa Bonang Lasem. Suyuthi kemudian mengantarnya.

Baca juga: Pengarahan Pati dan Pamen, Jenderal Dudung: Pemimpin Harus Miliki Imajinasi dan Inovasi

Dari obrolan singkat keduanya, diketahui jika Teguh mondok di Jember Jawa Timur (Jatim). Dia pulang ke Garut karena seluruh anggota keluarganya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.

Merasa tak punya siapa-siapa lagi, Teguh pun menyusuri jalun pantura dengan tujuan Jember ingin kembali mondok sekaligus bertandang ke rumah pamannya

Saat tiba di Bonang, Suyuthi memberikan bekal uang dan nomor WhatsApp dirinya. Dia eminta dikabari jika Teguh membutuhkan pertolongan.

Baca juga: Naik Mobil TNI, Anggiat Pasaribu Mengaku Cuma Menumpang Sama Abang

Singkat ceirta, usai dari Jember, Teguh mengabarkan Suyuthi jika sang paman sudah tidak sanggup membiayai pendidikan di pondoknya. Dia akhirnya pergi dari Jember.

Jika malam tiba, dia tidur di sembarang tempat. Terakhir Teguh tidur di Pendopo Tedjo Kusuman yang terletak di belakang Masjid Jamil Lasem.

Mendengar informasi Teguh ada di Lasem, Suyuthi pun datang menemui.

Dari situ ia menawarkan Teguh untuk mondok di pondok pesantren di Desa Dadapan Sedan. Sebuah pondok pesantren (ponpes) yang juga mengelola destinasi wisata pagar pelangi.

Teguh pun menyetujui dan pemilik ponpes pun siap menampung. Teguh pun mulai mondok di sana. Namun tiga minggu setelah berada di pondok itu, dia jatuh pingsan. Dia bahkan dikira meninggal dunia karena pingsan berjam-jam.

Teguh pun dibawa ke Puskesmas Lasem, kemudian dirujuk ke RSUD Dr. Sutrasno Lembang. Dari hasil diagnosa dokter diketahui Teguh mengalami usus buntu dan harus operasi.

Kala itu Suyuthi tanpa pikir panjang siap bertanggung jawab meski biaya operasi tergolong mahal.

"Saya siap walau dibilang biaya operasinya ini mahal. Saya urus semuanya. saya tanda tangan," ujarnya.

Dia tidak tega dan merasa kasihan melihat penderitaan Teguh.

Paska operasi, Teguh menjalani perawatan di rumah sakit selama enam hari. Di sini, Suyuthi merawatnya siang dan malam serta memandikan Teguh seperti anak sendiri.

Tanpa disangka Komandan Kodim Rembang Letkol Donan Wahyu Sejati dan Ketua DPC PPP Gus Umam turut datang menjenguk.

Setelah itu, Suyuthi dia mendengar kabar melalui telepon dari rumah sakit jika seluruh biaya perawatanakan ditanggung pemerintah.

Sontak dirinya merasa terharu dan menangis. Usai sembuh, Teguh kembali ke pondok. Serka Suyuthi yang rumahnya berjarak sekitar 10 kilometer dari pondok masih suka rutin datang menjemput Teguh untuk kontrol seminggu sekali.

Suyuthi dan istri juga datang dua hari sekali untuk mengganti perban bekas operasi Teguh.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini