Banjir Bandang, Ratusan Warga Kampung Cileles Garut Terisolir

Agung Bakti Sarasa, Koran SI · Selasa 30 November 2021 23:50 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 30 340 2509928 banjir-bandang-ratusan-warga-kampung-cileles-garut-terisolir-CE0ML2IGCU.jpg warga Kampung Cileles, Garut menyiapkan makanan di dapur umum (Foto: JQR)

GARUT - Banjir bandang yang menerjang membuat akses ke kampung Cileles, Desa Cintamanik, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat terputus. Hal itu membuat ratusan warga di Kampung Cileles terisolir.

Banjir bandang yang menerjang pada Sabtu 27 November 2021 itu mengakibatkan jembatan penghubung menuju desa tersebut roboh. Banjir bandang yang disertai longsor juga mengakibatkan akses jalan hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.

Baca Juga: Garut Diterjang Banjir Bandang, Ratusan Warga Mengungsi

Kondisi tersebut diperparah dengan lokasi desa yang berada di daerah pegunungan yang curam. Selain itu, banjir bandang juga telah merusak saluran air bersih. Akibatnya, warga pun mengalami krisis air bersih.

"Tim kami harus bekerja keras untuk sampai ke desa tersebut. Jalur menuju lokasi sempat terputus akibat longsoran dan jembatan penghubung desa roboh," ujar Koordinator Kanal Kebencanaan Jabar Quick Response (JQR) Ade Fayzal Hidayat, Selasa (30/11/2021).

Baca Juga:  Banjir Bandang di Garut, BNPB: Tak Ada Korban Jiwa

Ade melanjutkan, setelah melalui perjuangan yang keras, tim JQR akhirnya bisa menembus desa tersebut dan langsung mendirikan dapur umum untuk melayani pengungsi, warga, dan relawan kebencanaan.

Menurut Ade, akibat sulitnya medan, hingga kini, Kampung Cileles belum tersentuh bantuan yang cukup. Di lokasi tersebut, kata Ade, terdapat 272 jiwa terdampak dan 7 rumah rusak. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun terluka.

"Hingga hari ini, untuk mencapai lokasi baru bisa diakses oleh roda dua, bahkan sebelumnya harus dicapai dengan berjalan kaki," katanya.

Ditambahkan Fayzal, kekuatan logistik dapur umum yang dibangun hanya bisa memenuhi kebutuhan earga dan pengungsi selama tiga hari ke depan. Sebab itu, JQR juga berkolaborasi dengan pihak donatur dan relawan.

"Untuk kemanusiaan, JQR terbuka berkolaborasi dengan banyak pihak, baik untuk bantuan maupun operasi lapangan," katanya.

Ade mengatakan, dalam melakanakan operasi kebencanaan, pengumpulan data dan peninjauan langsung menjadi hal yang penting bagi JQR. "Dengan data yang kami kumpulkan, kami dapat melaksanakan tugas secara tepat dan terukur," jelasnya.

Dia pun mencontohkan temuan terbaru oleh tim dimana tanah longsor dan krisis air bersih juga menjadi ancaman bagi warga. Pasalnya, desa itu berada di daerah pegunungan yang curam dan saluran utama air bersih warga putus tertimpa longsoran.

"Air bersih juga menjadi masalah yang timbul setelah bencana banjir, kami akan upayakan untuk bantuan, untuk sementara saat ini telah kami kordinasikan dengan BPBD, PDAM dan PUPR," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini