Share

Kelompok HAM: Junta Myanmar Blokir Bantuan untuk Pengungsi Usai Kudeta

Agregasi VOA, · Sabtu 18 Desember 2021 08:20 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 18 18 2518910 kelompok-ham-junta-myanmar-blokir-bantuan-untuk-pengungsi-usai-kudeta-PR3ThQzNqD.png Tentara militer Myanmar (Foto: AP via VOA)

MYANMAR - Berbagai organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) menyatakan junta Myanmar memperketat cengkeramannya atas aliran bantuan kemanusiaan untuk ribuan keluarga yang terusir dari rumah mereka akibat pertempuran sejak kudeta 1 Februari. Junta dikatakan sengaja membuat warga sipil yang kelaparan tidak mendapatkan pasokan bantuan itu untuk menumpas perlawanan bersenjata yang kian berkembang.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan pertempuran antara militer dan kelompok-kelompok bersenjata lama maupun baru telah mendorong semakin banyak keluarga mengungsi dari kota dan desa setiap bulan. Lebih dari 284 ribu orang mengungsi akibat kekerasan pascakudeta hingga awal Desember.

Sebagian besar dari mereka berada di kawasan terpencil dan bermedan sulit di bagian barat laut dan tenggara Myanmar, di mana perlawanan bersenjata dari kelompok-kelompok minoritas bersenjata dan apa yang disebut sebagai pasukan pertahanan rakyat berlangsung paling sengit.

Baca juga: PBB dan AS Kecam Militer Myanmar Usai Protes Berakhir Mematikan

Berbagai organisasi amal dan bantuan lokal dan internasional sedang berupaya menjangkau keluarga pengungsi dengan makanan dan obat untuk mencegah gelombang penyakit dan kelaparan. Tetapi menurut berbagai organisasi HAM, tentara dan polisi membuat semakin sulit upaya itu dengan memblokade jalan, menyita dan menghancurkan pasokan serta menangkap para pekerja bantuan.

“Apa yang kami lihat sekarang ini adalah militer, dalam upayanya untuk memutus pasokan ke pasukan etnis bersenjata dan pasukan pertahanan rakyat yang mereka hadapi sekarang, juga memutuskan pasokan vital untuk warga. Dan pasokan ini adalah barang-barang biasa, barang-barang kebutuhan dasar,” kata Emerlynne Gil, deputi direktur riset regional Amnesty International kepada VOA.

Baca juga: PBB Tak Izinkan Taliban dan Junta Militer Myanmar Wakili Negara Mereka

Amnesty merilis laporan singkat mengenai restriksi bantuan itu hari Jumat, yang didasarkan pada wawancara dengan keluarga pengungsi serta para petugas bantuan lokal dan sukarelawan.

Dalam berita terbaru mengenai situasi kemanusiaan di Myanmar pekan lalu, PBB menyatakan izin perjalanan yang ditolak dan ditunda dari pihak berwenang dan ditingkatkannya pemeriksaan terhadap staf dan pasokan bantuan “menghambat operasi dan memperpanjang penderitaan.”

Berbagai organisasi HAM internasional dan lokal menguatkan kecenderungan itu.

“Banyak daerah di mana junta meningkatkan kehadirannya menghadapi militerisasi yang meningkat, jadi lebih banyak pos pemeriksaan, yang berarti para petugas bantuan dan petugas tanggapan lokal di daerah-daerah itu menghadapi lebih banyak gangguan. Pekerja bantuan ditangkap dan ditahan, konvoi bantuan dipulangkan, pasokannya disita,” kata Shayna Bauchner, peneliti Asia untuk Human Rights Watch.

Berbagai organisasi HAM menyatakan bahwa dalam menghalangi bantuan itu, militer Myanmar menggunakan pedoman “empat pemotongan” untuk menghalangi kelompok-kelompok pemberontak bersenjata mendapatkan akses ke makanan, dana, informasi intelijen dan anggota baru, dengan menutup komunitas-komunitas sekitarnya yang mungkin bersimpati dan mendukung mereka.

Bauchner mengatakan hal tersebut membuat warga sipil bukan hanya sebagai korban ikutan, tetapi sengaja dijadikan sasaran.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini