JAKARTA - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman menyebutkan terungkapnya kasus joki vaksinasi Covid-19 yang setidaknya sudah 17 kali mendapatkan dosis vaksinasi menandakan masih ada persoalan dalam hal literasi dan administrasi.
"Ini calo vaksinasi Covid-19 juga terjadi di Selandia Baru tapi tidak sebanyak ini. Akan selalu ada potensi memanfaatkan sistem yang tidak sempurna dimanapun itu. Input ada ketidakpercayaan atau keengganan di-vaksin untuk mencari cara menghindari vaksin tapi bisa mendapatkan privilege sertifikat vaksinasi," ujar Dicky Budiman, Rabu (22/12/2021) ketika dikonfirmasi.
Ia menyebutkan pemerintah setempat dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh masyarakat harus semakin meningkat literasi vaksin Covid-19 di daerah yang masih banyak ditemukan calo vaksin Covid-19 tersebut.
"Artinya ada sistem yang memungkinkan. Padahal di Indonesia seharusnya lebih ketat dibandingkan di Australia. Di Australia walaupun database kuat, tapi ada hal-hal yang secara klarifikasi fisik tidak ada. Hanya melihat tanggal lahir saja," kata Dicky Budiman.
Padahal dikatakannya di Indonesia setidaknya ada dokumen Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang menjadi syarat verifikasi vaksinasi Covid-19.
"Dengan cukup banyaknya syarat dokumen untuk melaksanakan vaksinasi Covid-19, seharusnya kasus calo ini bisa dicegah atau ditekan. Harus dicek kembali ini sistem administrasi dari petugas pelaksanaan vaksinasi Covid-19," tambah Dicky Budiman.
Apalagi calo vaksinasi tersebut dikatakannya telah melaksanakan kegiatan calo sebanyak 17 kali. Hal ini kata Dicky Budiman menandakan ada yang salah dalam screening nya saat vaksinasi Covid-19.
Terkait dampak kesehatan yang akan diakibatkan karena sudah menerima vaksinasi Covid-19 dalam jumlah besar, Dicky Budiman menyebutkan belum ada riset mengenai hal tersebut.
"Ini membuktikan, memberikan literasi, bahwa vaksinasi itu bukan suatu zat berbahaya. Tetapi dampak jangka panjang jika berlebihan seperti itu belum ada riset yang mendukung dampaknya seperti apa," ucap Dicky Budiman.
Namun ia menyebutkan vaksinasi Covid-19 sudah dibuat sedemikian mungkin agar tidak berdampak serius pada kesehatan individu yang menerima suntikan vaksin.
"Kalau dosis berlebihan bukan berarti dampaknya positif atau negatif. Vaksinasi itu merupakan upaya untuk memperkenalkan antibodi tubuh dengan virus yang sudah dilemahkan. Ini yang efek sampingnya minimal," pungkas Dicky Budiman.
Sebagaimana diketahui sebelumnya, seorang joki vaksinasi Covid-19 bernama Abdul Rahim (49) mengaku sudah 17 kali mendapatkan suntikan vaksinasi Covid-19 terdiri dari 15 kali suntik dosis pertama dan 2 kali suntik dosis kedua di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan beberapa bulan terakhir.
Abdul Rahim mengaku mendapatkan upah sebesar Rp 80-800 ribu dari pelanggan yang diwakilinya untuk divaksinasi. Hasil dari jasa calo suntik vaksin Covid-19 tersebut ia pakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
(Khafid Mardiyansyah)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.