Ganja Taliban Akan Tarik Investasi Sebesar Rp6,4 Triliun, Pemilik Perusahaan Diteror Kartel Narkoba Eropa

Susi Susanti, Okezone · Sabtu 08 Januari 2022 16:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 08 18 2529274 ganja-taliban-akan-tarik-investasi-sebesar-rp6-4-triliun-pemilik-perusahaan-diteror-kartel-narkoba-eropa-wF4Je4FhuN.jpg Ganja di Afghanistan (Foto: Imago/ Xinhua Imago)

JERMAN - CPharm International (ECI), sebuah perusahaan penelitian dan pengembangan di Jerman, mengatakan pihaknya merencanakan investasi jutaan dolar di Afghanistan yang dikuasai Taliban, dengan tujuan memproduksi ganja untuk tujuan medis.

Nama perusahaan ini muncul setelah kasus kesalahan identitas yang terjadi pada akhir 2021. Kala itu, media salah mengidentifikasi sebuah perusahaan konsultan medis kecil di Australia yang memiliki nama yang sama. Mereka langsung membantah hubungannya dengan Taliban.

Agen media Vice pun melacak sebuah perusahaan Jerman, CPharm International (ECI), yang dilaporkan telah mencapai kesepakatan dengan Taliban.

Pemilik dan Direktur Pelaksana ECI, Werner Zimmermann, 56, mengatakan kepada Vice pada Jumat (7/1) bahwa dia tidak senang berita tentang kesepakatan itu telah dipublikasikan, dan mengklaim skala perjanjian telah disalahartikan.

Baca juga: Harga Opium Melonjak, Penjual: Ini Haram di Islam, Tapi Kami Tidak Punya Pilihan Lain

Perusahaannya diketahui beroperasi di Lesotho, Maroko, Kirgistan, Makedonia Utara, dan Siprus, dengan Kazakhstan dan Afghanistan akan segera ditambahkan ke dalam daftar.

Perusahaan Zimmermann membangun pabrik pengolahan ganja dan berkonsultasi tentang masalah hukum, seperti kelayakan ekspor ganja medis ke negara lain. Proyek Afghanistan ini akan menyusul pembangunan pabrik yang bernilai 500.000 euro (Rp8 miliar) di Kazakhstan.

Baca juga: Survei PBB: Penanaman Ganja di Afghanistan Melonjak 37%

Pengusaha itu mengatakan ECI berencana memproduksi ganja medis di Afghanistan untuk pasar lokal dan internasional, tetapi jika negara-negara seperti Jerman melegalkan obat tersebut, mereka mungkin mulai menanam tanaman itu untuk penggunaan rekreasi.

Zimmermann menepis kekhawatiran tentang pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan oleh Taliban.

"Saya bekerja secara profesional, bukan ideologis, dengan menteri dalam negeri yang bertanggung jawab, dan saya mendukung mereka dengan proyek saya," katanya.

Pengusaha itu juga mengklaim bahwa dia telah menerima ancaman dari perwakilan kartel narkoba Eropa yang tidak senang dengan rencananya, yang dapat memotong pangsa pasar mereka.

Tahun lalu, sebuah tweet dari Kementerian Dalam Negeri Afghanistan mengklaim bahwa sebuah perusahaan bernama "Cpharm" telah bertemu dengan pejabat Taliban dan akan menginvestasikan USD450 juta (Rp6,4 triliun) di Afghanistan untuk mendirikan operasi "pemrosesan hashish".

Meskipun dilarang sejak tahun 1970-an, namun tanaman ganja adalah tanaman asli Afghanistan. Setidaknya sampai pengambilalihan Taliban di musim panas, ganja ini dikonsumsi oleh orang-orang di bagian terpencil negara itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini