Kerusuhan di Kazakhstan, 164 Orang Dilaporkan Tewas, 6.044 Ditahan

Rahman Asmardika, Okezone · Senin 10 Januari 2022 10:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 10 18 2529766 kerusuhan-di-kazakhstan-164-orang-dilaporkan-tewas-6-044-ditahan-XvihJdtM2c.jpg Tentara Kazakhstan berdiri di dekat sebuah truk yang hangus menyusul protes dengan kekerasan menentang kenaikan harga bahan bakar di Almaty, 8 Januari 2022. (Foto: Reuters)

ALMATY – Dua pejabat tinggi keamanan Kazakhstan dipecat pada Minggu (9/1/2022) menyusul kerusuhan, yang terburuk dalam tiga dekade, yang terjadi di negara bekas Uni Soviet tersebut. Laporan media menyebutkan setidaknya 164 orang tewas dalam kerusuhan yang terjadi pekan lalu itu.

Diwartakan Reuters, para pejabat yang dipecat itu adalah wakil dari mantan kepala intelijen Karim Massimov, yang ditangkap karena dicurigai melakukan makar yang memicu protes dengan kekerasan di kota-kota utama Kazakshtan.

BACA JUGA: Ngerinya Kerusuhan Berdarah di Kazakhstan, Polisi Dipenggal, Puluhan Orang Ditembak Mati

Ribuan orang telah ditahan dan gedung-gedung publik dibakar selama protes massal anti-pemerintah dalam seminggu terakhir. Presiden Kassym-Jomart Tokayev mengeluarkan perintah tembak mati untuk mengakhiri kerusuhan yang dia klaim dilakukan oleh bandit dan teroris.

Media Rusia dan pemerintah Kazakshtan melaporkan 164 orang tewas dalam bentrokan tersebut, mengutip sebuah posting media sosial pemerintah. Tetapi otoritas kesehatan dan polisi tidak mengonfirmasi angka tersebut, dan postingan media sosial itu kemudian dihapus.

Polisi mengatakan 6.044 orang telah ditangkap sehubungan dengan kerusuhan tersebut.

Internet telah dibatasi dan telekomunikasi tidak merata, sehingga sulit untuk memeriksa angka dan mengonfirmasi pernyataan tersebut.

BACA JUGA: Kerusuhan Berdarah Pecah di Kazakhstan, Rusia Kirimkan Pasukan

Sejauh ini tidak ada satu kelompok pun yang berbicara mewakili para pengunjuk rasa.

Demonstrasi menentang kenaikan harga bahan bakar dimulai seminggu yang lalu sebelum pecah menjadi protes yang lebih luas terhadap pemerintahan Tokayev.

Sang presiden kemudian meminta bantuan aliansi negara bekas Uni Soviet, Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO), yang mengirimkan pasukan Rusia untuk membantu mengendalikan situasi di Kazakhstan. Pasukan tersebut diperkirakan tidak akan lama berada di Kazakhstan, dan akan ditarik dalam waktu beberapa hari ke depan.

Kekerasan telah memukul citra Kazakhstan sebagai negara yang dikontrol ketat dan stabil, yang telah digunakan untuk menarik ratusan miliar dolar investasi Barat dalam industri minyak dan mineralnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini