Shin Tae-yong Tegaskan Jangan Jadi Bercandaan, Begini Parahnya Konflik Menahun Korut dan Korsel!

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 12 Januari 2022 14:46 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 12 18 2531090 shin-tae-yong-tegaskan-jangan-jadi-bercandaan-begini-parahnya-konflik-menahun-korut-dan-korsel-OivMGB6rE5.jpg Foto: Fotolia.

JAKARTA - Pelatih timnas sepak bola Indonesia, Shin Tae-yong menegur Deddy Corbuzier lantaran melempar canda terkait Korea Selatan dan Korea Utara.

Ia meminta kepada Deddy untuk tidak membiasakan diri bercanda terkait kedua negara tersebut. Hal itu disampaikan STY dalam podcast di kanal YouTube Deddy, 11 Januari 2022.

BACA JUGA: Ditanya Bisa Main Sepakbola atau Tidak, Ini Respons Kocak Shin Tae-yong

Melihat reaksi STY yang sangat serius, runcingnya hubungan Korut dan Korsel bukanlah hal main-main. Kedua negara ini memiliki sejarah panjang hingga akhirnya berkonflik.

Melansir artikel ‘Prospek Penyelesaian Konflik Korea Selatan dan Korea Utara’, Korut dan Korsel pernah menjadi satu kesatuan selama masa pemerintahan Dinasti Choson, pada 1392 – 1910.

Shin Tae-yong saat tampil di podcast kanal YouTube Deddy Corbuzier. (Foto: YouTube/Deddy Corbuzier.)

Korea selalu menjadi target serangan karena lokasinya yang dianggap sangat strategis. Apalagi, bagi Jepang, yang selalu bereksperimen guna memperluas wilayah kekuasaannya.

BACA JUGA: Lelang Lengser, Presiden Korsel Janjikan Terus Dorong Perdamaian dengan Korut

Terpisahnya Korea menjadi Korut dan Korsel terjadi saat Jepang menderita kekalahan dalam Perang Dunia II pada 1945.

Hal itu menyebabkan Amerika Serikat dan Uni Soviet memperebutkan wilayah kekuasaan Jepang, yakni Korea. Presiden AS saat itu, Franklin D. Roosevelt mengatakan bahwa Korea akan dikelola secara gotong royong melalui para perwakilan multilateral dari 3 negara, yakni AS, Inggris dan Uni Soviet. Ide ini dicetuskan Roosevelt sebagai upaya mencegah dominasi Soviet di Korea.

Sayangnya, perundingan antara AS dan Soviet tidak menemui titik terang hingga Mei 1947. Alhasil, pemerintah AS menyerahkan konflik ini kepada PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa). Sementara itu, Majelis Umum PBB mengakui hak Korea untuk mendapatkan kemerdekaannya. PBB kemudian membentuk komisi khusus guna mengawasi pemilihan umum yang dilaksanakan pada 10 Mei 1948. Hasilnya, Sygman Rhee terpilih sebagai presiden dan memimpin wilayah Korea secara keseluruhan.

PBB juga mengakui berdirinya Republik Korea di bulan Oktober 1948. Akan tetapi, Soviet menolak karena tak ingin AS bergabung dengan Korea. Soviet melakukan pemilihan umum sendiri di utara Korea. Sejak saat itu, wilayah Korea secara resmi terpisah menjadi 2, yakni Korea Utara dan Korea Selatan. Masing-masing pemerintahnya beranggapan bahwa kubunyalah yang merupakan pemerintah resmi Korea.

Menyulut Konflik

Perang saudara antara Korut dan Korsel mulai terjadi pada 25 Juni 1950. Sebuah artikel berjudul ‘Isu Keamanan di Semenanjung Korea dan Upaya Damai Parlemen’ menyebut bahwa militer Korut saat itu menyeberangi perbatasan Korsel dan melakukan invasi. Perang ini berlangsung selama 3 tahun serta menewaskan lebih dari 2 juta orang.

Tak hanya itu. Infrastruktur yang ada di kedua negara rusak parah, ekonomi terganggu, serta menaikkan tensi antara warga Korut dan Korsel. Perang ini baru berakhir saat China, AS, dan Korut menandatangani kesepakatan gencatan senjata. Kedua negara ini juga menyepakati adanya zona penyangga dengan lebar 3 mil. Wilayah itu dikenal dengan Zona Demiliterisasi. Namun, saat itu Sygman Rhee menolak menandatangani kesepakatan tersebut. Ia hanya menyetujui gencatan senjata di antara kedua negara. Itulah yang menyebabkan Korut dan Korsel terlibat konflik hingga kini. Perang Korea belum sepenuhnya usai.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini