Share

2 Korban Tewas Tertembak Setelah Penyanderaan 11 Jam di Jepang

Rahman Asmardika, Okezone · Jum'at 28 Januari 2022 17:17 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 28 18 2539435 2-korban-tewas-tertembak-setelah-penyanderaan-11-jam-di-jepang-MTrjvern4I.jpg Ilustrasi. (Foto: Reuters)

TOKYO - Seorang pria lanjut usia menyerang tiga pekerja medis yang berkunjung ke rumahnya di Kota Fujimino, Prefektur Saitama, Jepang pada Kamis (27/1/2022) malam. Pria itu menembak dan menewaskan salah seorang sandera dengan apa yang diduga sebagai senjata berburu, kata polisi.

Drama penyanderaan selama 11 jam itu baru berakhir pada Jumat (28/1/2022) pagi setelah polisi menyerbu masuk ke dalam rumah dan menangkap pria itu. Pelaku diidentifikasi sebagai Hiroshi Watanabe, 66 tahun.

Sandera yang tewas adalah dokter berusia 44 tahun Junichi Suzuki, sementara pekerja medis lainnya, seorang fisioterapis berusia 41 tahun juga tertembak. Belakangan korban juga dikonfirmasi meninggal dunia.

Pekerja medis ketiga dibawa ke rumah sakit setelah terluka akibat tembakan gas air mata.

Ketiga korban mengunjungi rumah pelaku pada Kamis, sekira pukul 9 malam. Mereka tampaknya datang untuk menyampaikan belasungkawa atas kematian ibu tersangka baru-baru ini. Mereka bertanggung jawab atas perawatan medis di rumah untuk sang ibu, kata sumber investigasi sebagaimana dilansir Kyodo News.

Seorang penduduk di lingkungan itu menelepon polisi setelah mendengar ledakan keras pada waktu yang hampir bersamaan. Pekerja darurat lokal juga menerima laporan dari seseorang yang mengatakan dua orang telah ditembak.

Polisi berbicara dengan Watanabe melalui telepon selama penyanderaan. Tersangka tidak membuat tuntutan khusus, kata mereka, mengutip dia yang mengatakan bahwa sandera itu "baik-baik saja," dan bahwa "Saya ingin membantunya. Tolong selamatkan dia."

Polisi tidak berbicara langsung dengan sandera dan tidak dapat memastikan kondisinya.

Menurut tetangga, Watanabe tinggal bersama ibunya yang terbaring di tempat tidur dan hanya memiliki sedikit kontak dengan mereka.

"Saya mendapat kesan bahwa dia benar-benar berbakti untuk merawat ibunya," kata wanita berusia 74 tahun itu.

Watanabe pindah ke daerah itu bersama ibunya beberapa tahun lalu, kata seorang pria berusia 91 tahun. Dia ingat pria itu mengatakan dia tidak bisa mengikuti kegiatan perumahan karena dia harus merawat ibunya.

Dengan kebuntuan yang berlanjut hingga Jumat pagi, pihak berwenang setempat telah mengevakuasi sekitar 110 penduduk setempat, dan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di dekatnya akan ditutup pada hari itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini