Share

Presiden Prancis Khawatir Perang Rusia-Ukraina Picu Krisis Pangan

Susi Susanti, Okezone · Jum'at 18 Maret 2022 15:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 18 18 2563933 presiden-prancis-khawatir-perang-rusia-ukraina-picu-krisis-pangan-ZS5VdBaT03.jpg Presiden Prancis Emmanuel Macron(Foto: AP)

PRANCIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan ketidakstabilan yang disebabkan konflik di Ukraina dapat menjerumuskan negara-negara di Afrika dan Timur Tengah (Timteng) ke dalam krisis pangan yang parah dalam 12-18 bulan ke depan. Pernyataan Macron ini terkait dengan negara-negara yang bergantung pada perdagangan dengan Rusia.

“Akibat perang di Ukraina, kita akan menghadapi krisis pangan yang parah dalam 12-18 bulan ke depan, terutama di negara-negara yang sangat bergantung pada Rusia,” katanya dalam konferensi pers di Paris, saat dia mempresentasikan program pemilihannya pada Kamis (17/3). “Eropa harus siap untuk ini, sebuah tantangan untuknya dan untuk mitranya,” lanjutnya.

Baca juga: Evakuasi Warga Ukraina Gagal, Macron Tuduh Putin Munafik dan Tidak Serius

Berusaha meyakinkan warga Prancis dan sekutu mereka, Macron mengklaim bahwa tujuan utama pemerintahannya adalah memastikan kemandirian pangan Prancis, yang akan ia coba lakukan dalam masa jabatan lima tahun berikutnya jika terpilih kembali pada April mendatang.

Baca juga: Putin dan Macron Sepakat Ambil Tindakan Mendesak Hentikan Ketegangan di Ukraina 

Pernyataan dari Macron muncul beberapa hari setelah dia mengemukakan kekhawatiran bahwa negara-negara tertentu akan sangat tidak stabil akibat dampak dari konflik yang sedang berlangsung di Ukraina, setelah memperingatkan bahwa negara-negara harus mengevaluasi kembali strategi produksi untuk mempertahankan kedaulatan pangan.

Pada Selasa (15/3), Bank Pembangunan Afrika (AFDB) meluncurkan rencana USD1 miliar (Rp14 triliun) untuk meningkatkan produksi gandum dalam upaya untuk mencegah kekurangan pangan potensial yang dipicu oleh serangan Rusia di Ukraina. Menurut AFDB, impor gandum mencapai sekitar 90% dari perdagangan Afrika senilai USD4 miliar (Rp57 triliun) dengan Rusia, yang membutuhkan langkah sangat drastis untuk meningkatkan produksi pangan di benua itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini