Share

Melihat Alquran Tulisan Tangan Keturunan Majapahit di Gunungkidul

Erfan Erlin, iNews · Sabtu 09 April 2022 13:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 09 510 2576062 melihat-alquran-tulisan-tangan-keturunan-majapahit-di-gunungkidul-b44it4v3Lv.jpg Alquran peninggalan KRT Wiroyudo (foto: dok pribadi)

GUNUNGKIDUL - Membaca Alquran adalah menjadi salah satu hal yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan terutama di bulan Ramadan seperti sekarang ini. Karena di bulan Ramadan, amalan baik akan dilipatgandakan pahalanya.

Amalan ini juga masih dilakukan di Masjid Jami' di Padukuhan Wonojoyo Kalurahan Genjahan Kapanewonan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul. Masjid ini berdiri di tanah perdikan pemberian Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat.

BACA JUGA:Pesan Wapres di Bulan Ramadan, Mendekat Kepada Allah Agar Memperoleh Kasih Sayang 

Di masjid ini kini masih tersimpan rapi Alquran tulisan tangan Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wiroyudo, sosok yang diyakini sebagai keturunan Majapahit dan sosok yang menyebarkan agama Islam pertama kali di Gunungkidul.

Hal tersebut diungkapkan oleh Jayani Zaini (67) Takmir masjid Jami'. Jayani juga masih keturunan dari KRT Wiroyudo tersebut. KRT Wiroyudo adalah keturunan majapahit yang akhirnya menyebarkan agama Islam.

"Tahun 1.800 wiroyudo tinggal di umbulrejo Kapanewon Ponjong," tutur Jayani.

BACA JUGA:Bantu Sesama, IJTI Jakarta Raya Berbagi Takjil Selama Bulan Ramadan 

Lelaki ini sampai saat ini masih setia merawat Alquran tulisan tangan KRT Wiroyudo tersebut. Meski saat ini Alquran tersebut sudah mulai lapuk, namun ia berusaha merawatnya dengan membersihkannya dalam kurun waktu tertentu.

Sesekali Alquran tersebut ia baca, namun kini lebih banyak tersimpan di dalam kotak kayu yang khusus dibuat untuk menyimpannya. Ia khawatir jika terlalu sering disentuh justru merusak Alquran tersebut.

"Beliau (KRT Wiroyudo) adalah keturunan Majapahit yang akhirnya menyebarkan agama Islam di Gunungkidul. Saya tidak mengetahui secara pasti kapan Alquran tersebut disusun, saya hanya merawatnya," ujar Jayani.

Jayani mengaku sebelumnya ia merantau di Jakarta. Setelah kembali ke Gunungkidul tahun 1997, ia mulai merawat Alquran peninggalan kakek buyutnya tersebut. Di tahun 1997 itulah, ia kembali ke kampung halamannya sudah mendapati Alquran tulisan tangan tersebut sudah seperti sekarang ini, yaitu tanpa sampul dan mulai rapuh.

Alquran tersebut sejatinya milik Muhammad Ihsan, putera dari KRT Wiroyudo. Di waktu kecil, Muhammad Ihsan dan saudaranya, Hasan disekolahkan di Arab Saudi selama beberapa tahun. Keduanya menuntut ilmu di Arab Saudi dan akhirnya kembali ke Indonesia.

Sekembalinya ke Indonesia, keduanya membantu KRT Wiroyudo menyebarkan agama Islam di daerah Wonosari. KH Muhammad Hasan berada di Tepus dan KH Muhammad Ihsan terus berada di Ponjong.

KH Muhammad Ihsam mendekati raja di Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat dengan mengabdi sebagai abdi dalem. Kemudian karena jasanya tersebut, KH Muhammad Ihsan diberi tanah Merdikan sekitar 1 hektare di Padukuhan Wonojoyo yang kini salah satu bagiannya berdiri masjid Jami'. Masjid tersebut didirikan tahun 1820.

"Dulunya, Alquran tersebut diberikan kepada Muhammad Ihsan untuk pembelajaran agama Islam," paparnya.

Kemudian tahun kapan ditulis dan berapa lama disusun, Jayadi sendiri tidak mengetahuinya secara pasti. Karena ia hanya merawatnya agar tidak rusak atau lapuk di makan usia.

Di samping itu, KH Muhammad Ihsan juga mendapatkan putri Triman (puteri pemberian raja) untuk dipersunting olehnya. Setelah memiliki anak dan istri kemudian ia mendapatkan pesan untuk mendirikan rumah limasan dan joglo yang sangat sederhana.

"Rumahnya dulu di depan Masjid ini,"terangnya.

Kemudian lama-kelamaan, KH Muhammad Ihsan mendirikan pondok pesantren yang diberi nama Rodhatul Qulud. Para santri di Pondok Pesantren tersebut tidak hanya sekitar sini saja tetapi juga luar daerah. Para santri ngaji dan mencari ilmu di pondok pesantren tersebut.

Karena rumahnya jauh sehingga para santri menginap di Pondok Pesantren. KH Muhammad Ihsan juga mendirikan masjid yang sekarang dinamakan Masjid Jami Wonojoyo. Karena santrinya banyak kemudian diberikan kepada raja ketika sudah jadi.

"Kemudian dari kerajaan beliau ditunjuk sebagai khotib dan imam masjid Jamik Wonojoyo," paparnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini