RITUAL Tantra Kiri versi adaptasi Champa dan Singasari memang lebih terkendali, dengan melibatkan pasangan-pasangan laki-laki dan perempuan, serta minuman keras. Para peserta juga mengenakan topeng agar identitas mereka tersamarkan.
Memang sejumlah peserta yang mengikuti ritual tersebut melakukannya dengan taat untuk menguji kemampuan mereka, yaitu menahan godaan nafsu duniawi, demi meraih jalan menuju pencerahan. Namun sayangnya beberapa yang lainnya merasa malu atau malah terangsang oleh kenikmatan alkohol dan seks, seperti dikutip dari buku "Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit karya Earl Drake".
BACA JUGA:Ketika Utusan Kubilai Khan Minta Raja Singasari Menjadi Bawahannya
Tentunya hal tersebut bertolakbelakang dengan tujuan awal spiritual ritual tersebut. Hal ini khususnya tampak pada sejumlah laki-laki yang berpasangan dengan gadis-gadis muda yang menawan atau yoginis, yang diboyong dari Champa, dan sebelumnya sudah dilatih sebagai pelaku tantra.