Share

Balada Sopir Bus, Macet-macetan Bareng Pemudik tapi Tak Bisa Kumpul Bareng Keluarga saat Lebaran

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 03 Mei 2022 04:31 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 02 519 2588623 balada-sopir-bus-macet-macetan-bareng-pemudik-tapi-tak-bisa-kumpul-bareng-keluarga-saat-lebaran-ZWhUIapkjB.JPG Sopir Bus di Termina Arjosari (Foto MPI/Avirista)

MALANG - Sopir bus menjadi salah satu profesi yang tak jarang melewatkan berlebaran bersama keluarga. Apalagi saat memasuki puncak musim arus mudik dan arus balik, pekerjaan mereka bertambah ekstra harus berjibaku dengan kemacetan lalu lintas yang kerap muncul.

Harianto, seorang sopir bus AKDP Malang Jember mengatakan, melewatkan berlebaran bersama keluarga telah menjadi bagian dari rutinitasnya hampir setiap tahun. Di tahun ini kemungkinan besar Harianto pun harus meninggalkan istri dan anak berlebaran bersama keluarga karena pemerintah memperbolehkan mudik di tengah pandemi Covid-19.

"Kalau dua lebaran kemarin kan sepi penumpang, karena memang nggak boleh, jadi ya mau tidak mau lebaran di rumah, nggak ada penumpang apa yang dibawa," ucap Harianto, ditemui okezone.com.

Harianto mengaku sebelum pandemi Covid-19 melanda, ia memang biasanya terlebih dahulu melakukan salat idul fitri bersama keluarga di pagi hari. Tetapi setelahnya ia kembali harus menuju tempatnya bekerja untuk mengantarkan penumpang jurusan Malang - Jember.

"Nggak ada libur, tadi paling cuma pagi salat id saja, terus jam 10 kerja lagi sampai malam. Setiap hari berangkat begitu kalau lebaran," kata pria berusia 47 tahun ini.

Pekerjaannya yang telah dijalani hampir 20 tahun membuat ia dan keluarga besarnya sudah terbiasa dengan resiko pekerjaan yang dialami. Memang ketika awal saat anak masih kecil, sang anak sempat menanyakan kepada istrinya kenapa dirinya tak libur ketika Hari Raya Idul Fitri, layaknya ayah dari teman-teman sebayanya.

"Tapi ya dikasih penjelasan, pengertian ya akhirnya mengerti. Sekarang sudah biasa, setiap hari dari pagi, saat lebaran pun juga gitu. Biasanya pulang-pulang malam jam," ungkap dia.

Hal serupa dialami Defri Arisandi, sopir bus patas Surabaya Malang yang masih harus berjibaku dengan jalanan saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Menurutnya, di tahun 2022 ini dengan diperbolehkannya setidaknya ada penambahan pendapatan layaknya sopir bus seperti dirinya.

"Ya kalau dibilang ramai nggak, ini sepi dibanding dengan lebaran sebelum-sebelum Covid itu. Masih pada takut bepergian, nanti kalau belum vaksin harus diswab," ucap dia.

Ia mengaku selama lebaran tetap masih harus bekerja melayani pemudik. Hal itu demi memastikan dapur rumahnya tetap mengepul selama lebaran.

"Tetap (kerja narik), kalau libur kita nggak ada pemasukan. Istri anak sudah biasa, paling (anak yang paling kecil) yang kadang rewel kalau ditinggal," bebernya.

Pengalaman berbeda disampaikan Parianto, sopir bus AKAP Malang Jakarta yang menyatakan, kemacetan saat puncak mudik menjadi hal yang biasa dihadapi. Bahkan dirinya pernah terpaksa harus buang air kecil di botol air mineral yang dibawanya. Saat itu ia menceritakan kemacetan di jalan tol tahun 2017 membuatnya harus terjebak tak bergerak hampir lima jam lamanya.

"Namanya juga pas lagi ramai-ramai itu, ya kalau macet biasanya sudah terbiasa penumpang saja terkadang ngeluh. Tapi dibilang kami nggak capek ya nggak capek, macet itu lebih bikin capek karena kan lelah nunggu, jalannya pelan - pelan, ngondisikan kendaraannya juga," paparnya.

Dirinya menyatakan, sebelum tiba di Terminal Arjosari juga sempat terjebak macet di H-5 lebaran di Tol Cikampek. Hal ini membuat kondisi fisiknya diakui sedikit menurun yang membuatnya mengeluhkan kesemutan saat memeriksakan kesehatan di posko pelayanan kesehatan yang disiapkan Jasa Raharja perwakilan Malang.

"Kesemutan tangan, digerakkan agak nyeri semua. Mungkin efek kecapekan kena macet kemarin. Tapi ya gimana lagi ini kan musimnya mudik, jadi kendaraan ramai," tuturnya.

Guna menyiasati fisiknya pria 43 tahun ini biasanya menambah asupan vitamin dan ramuan tradisional jamu. Maka ketika ia mendapat bantuan vitamin dari pemeriksaan kesehatan di Terminal Arjosari Malang, ia mengaku begitu bersyukur dan terbantu.

"Syukurlah sangat membantu, daripada beli kan ongkosnya sayang. Kalau dapat gratis gini cukup membantu," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini