Share

Polda Jabar Bantah Polisi Tolak Laporan Janda Korban Pembunuhan di Bandung Barat

Agung Bakti Sarasa, Koran SI · Kamis 12 Mei 2022 16:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 05 12 525 2593142 polda-jabar-bantah-polisi-tolak-laporan-janda-korban-pembunuhan-di-bandung-barat-qmZ1LlIuaF.jpg Kepala Bidang Humas Polda Jabar Kombes Ibrahim Tompo. (Dok MNC Portal)

BANDUNG - Tersiar kabar polisi sempat menolak aduan keluarga korban pembunuhan Wiwin Sunengsih (28). Keluarga korban disebut sempat melapor sebelum Wiwin ditemukan tewas.

Kabar yang menyebar luas tersebut ramai diperbincangkan, termasuk di media sosial (medsos). Bahkan, banyak di antara warga yang menyesalkan sikap polisi tersebut hingga menganggap percuma lapor kepada polisi.

Menanggapi kabar tersebut, Polda Jawa Barat membantah polisi menolak laporan keluarga korban yang merasa terancam oleh pelaku, Mulyadi yang ditemukan tewas gantung diri hari ini. Sebagaimana diketahui, sebelum peristiwa pembunuhan sadis itu terjadi, Mulyadi sempat mengancam akan membunuh korban dan anaknya.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Ibrahim Tompo mengakui, keluarga korban sempat mengadu ke Polsek Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Bahkan, kata Ibrahim, petugas sempat mempertimbangkan memproses pidana perbuatan yang dilakukan Mulyadi.

Ibrahim membeberkan kronologis pengaduan tersebut. Mulanya, kata Ibrahim, seusai menerima aduan keluarga korban, petugas melalui Bhabinkamtibmas melakukan pendalaman terkait ada atau tidaknya unsur pidana yang dilakukan Mulyadi.

Namun, lanjut Ibrahim, dikarenakan belum diperoleh simpulan terkait ada atau tidaknya unsur pidana, Bhabinkamtibmas mengarahkan keluarga korban mendatangi Polsek Padalarang. Di sana, keluarga korban yang didampingi Ketua RT dan Ketua RW setempat disambut petugas piket yang berjaga.

"Nah, pada saat ada di Polsek, kami terima oleh SPK (petugas piket) dan SPK juga, supaya dia lebih yakin ini bisa dilakukan proses, maka diajaklah piket Reskrim-nya," terang Ibrahim, Kamis (12/5/2022).

Petugas kemudian melakukan pendalaman dan diperoleh keterangan bahwa dugaan pengancaman yang dilakukan Mulyadi hanya didasarkan pada anggapan satu orang keluarga korban. Ancaman juga dinilai tak langsung ditujukan kepada seseorang. Sehingga, unsur pengancaman tersebut dinilai belum memenuhi unsur pidana.

"Waktu itu kan bisa diyakinkan kalau dia bawa pisau, kan baru versi dari satu orang. Jadi waktu itu tidak menunjuk kepada seseorang langsung, jadi (pelaku) cuma teriak-teriak di dekat pintu kan. Dari pendalaman, anggota menilai bahwa ini masih belum sampai memenuhi unsur (pidana)," tuturnya.

Terkait kabar perusakan terhadap rumah korban yang dilakukan Mulyadi, Ibrahim juga mengatakan, Mulyadi hanya merusak bagian asbes rumah korban. Menurutnya, upaya perusakan tersebut dianggap oleh petugas sebagai bentuk luapan emosi Mulyadi.

"Perusakan itu cuma asbes yang sempat rusak. Nah, kemudian penyidik kan melakukan penilaian dengan kerusakan asbes ini, ya pikiran anggota menganggap ini lagi emosi saja, lagi emosi," ujarnya.

Di sisi lain, tambah Ibrahim, Mulyadi dan Wiwin memiliki hubungan yang dekat, bahkan kediaman keduanya pun berdekatan. Sehingga, petugas menyarankan untuk dilakukan mediasi mengingat jika diproses pidana, suasana di antara kedua belah pihak dikhawatirkan semakin memanas.

"Mereka tetangga kemudian mereka punya hubungan secara pribadi. Nah, dianggap ini hal yang baik, kenapa mesti diakhiri dengan hal yang buruk? Gitu loh pertimbangan anggota," katanya.

Ibrahim juga memastikan, usulan untuk melakukan mediasi dari petugas kepolisian sudah disepakati oleh keluarga korban dan Ketua RW. Namun, ketika hendak dilakukan mediasi, pelaku justru menghilang dan baru muncul untuk membunuh Wiwin pada 8 Mei 2022 lalu.

"Mereka memberikan pendapat membenarkan juga, 'Iya juga ya, benar juga. Ya udah kita mediasi saja'," ujar Ibrahim menirukan kesepakatan keluarga korban tersebut.

"Mediasi itu merupakan hasil pembicaraan di antara mereka dan disepakati. Akhirnya, diupayakan mediasi dengan mempertemukan kedua belah pihak," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Mulyadi, tersangka pembunuh janda beranak satu di Kabupaten Bandung Barat mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

Dia tewas dalam keadaan tergantung di pohon petai berketinggian sekitar 3 meter di kebun warga yang jaraknya hanya sekitar 20 meter dari rumahnya di Desa Jaya Mekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (12/5/2022).

Sebelum ditemukan tewas, Mulyadi sempat menghilang dan jadi buruan polisi dan masyarakat karena diduga membunuh Wiwin Sunengsih dengan cara yang sadis.

"Ditemukan pertama kali oleh ibunya di pohon petai. Dia menggantung menggunakan tali berwarna hijau," ungkap Ade Priyatna, salah seorang saksi mata, Kamis (12/5/2022).

Mulyadi diduga tega membunuh Wiwin Sunengsih secara sadis. Motif asmara diduga menjadi pemicu tersangka nekat menghabisi nyawa Wiwin dengan cara menggorok leher dan menusuk perutnya.

Tragedi berdarah itu dialami Wiwin di dekat kediamannya di Desa Jayamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat pada Minggu (8/5/2022) sekitar pukul 10.30 WIB.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini