Share

Bupati Bantul Sebut PMK Telah Menjadi Pandemi, Berharap Pempus Berikan Vaksin

Erfan Erlin, iNews · Selasa 14 Juni 2022 15:55 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 14 510 2611407 bupati-bantul-sebut-pmk-telah-menjadi-pandemi-berharap-pempus-berikan-vaksin-sLjvlrNy65.jpg Ilustrasi/ Foto: Okezone

BANTUL - Bupati Bantul Abdul Halim Muslich menyebut penyakit mulut dan kuku (PMK) sudah menjadi pandemi karena sudah menasional atau sudah menyebar ke seluruh wilayah di Indonesia.

Halim menuturkan, di Bantul saat ini sudah ada 930 hewan ternak yang terjangkit PMK. Meskipun baru indikasi, namun 930 hewan ternak tersebut sudah menunjukkan tanda positif secara klinis. Dari 930 hewan ternak yang positif tersebut terbanyak ada di Kapanewon Pleret.

"Di Pleret ada 513 kasus hewan yang terkena PMK," ujar dia saat meninjau Kapanewon Pleret, Selasa (14/6/2022).

Oleh karenanya, Halim mengaku telah menginstruksikan semua Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) agar terjun melakukan penanganan atau treathment. Treathment tersebut adalah dengan melakukan penyuntikan antibiotik, antiperitik, dan pemberian vitamin.

Menurutnya upaya tersebut diharapkan mampu menurunkan intensitas pandemi PMK di Bantul. Dia berharap agar pemerintah pusat (Pempus) segera menurunkan vaksin untuk menanggulangi penyebaran PMK agar tidak semakin meluas.

Namun, lanjutnya, munculnya vaksin PMK karena sebelum tahun 1990 muncul penyakit serupa. Dan sejak tahun itu Indonesia sudah dinyatakan bebas PMK. maka industri vaksin sudah tidak memproduksi lagi vaksin tersebut.

"Tentu mereka tidak ada pertimbangan PMK muncul. Namun tiba-tiba ada pandemi sehingga saat ini industri di Jatim baru memproduksi vaksin anti PMK. Dan karena seluruh Indonesia maka ada skala prioritas yaitu untuk sapi perah agar produksi susu terus berlangsung," kata dia.

Karenanya, ia menghimbau kepada peternak agar semakin menyadari dan memahami bagaimana perlakuan terhadap hewan yang terkena PMK. Jika ditemukan PMK maka ia meminta agar peternak segera menghubungi 10 Puskeswan yang memiliki dokter hewan.

Kendati Pleret merupakan yang tertinggi, ia tetap meminta peternak atau jagal (penyembelih) sapi di Segoroyoso untuk terus memotong sapi, karena ekonomi sedang tumbuh. Kalau pemotong sapi berhenti maka akan mempengaruhi pemulihan ekonomi level bawah.

"Seperti pedagang bakso, restoran dan warung makan butuh daging sapi. Kalau mereka tidak memotong sapi maka restoran tutup dan ekonomi berhenti," tambahnya.

Halim menambahkan karena pandemi PMK bersifat nasional maka pihaknya harus terus berkoordinasi dengan Kementan. Tujuannya supaya ada treatment bisa dilaksanakan secara seragam dan serentak.

"Pemkab sumber dayanya terbatas maka kami hanya mengandalkan dokter hewan. Di mana secara ilmu, dokter hewan memiliki kemampuan untuk mengatasi PMK ini," terang dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini