Share

Misteri Babushka Z, Nenek yang Jadi Ikon Propaganda Rusia

Rahman Asmardika, Okezone · Sabtu 25 Juni 2022 17:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 25 18 2618177 misteri-babushka-z-nenek-yang-jadi-ikon-propaganda-rusia-EPTMKx0iHK.jpg Penggambaran Babushka Z oleh Rusia. (Foto: BBC)

SEORANG perempuan lanjut usia asal Ukraina yang mengibarkan bendera merah Uni Soviet kini menjadi wajah propaganda Kremlin setelah video yang merekam pertemuannya dengan tentara Ukraina menjadi viral di dunia maya.

BBC melacak "Babushka Z" untuk mengungkap kebenaran di balik peristiwa tersebut.

"Saya pikir mereka tidak perlu mengglorifikasi saya. Saya hanya seorang petani. Saya tidak tahu mengapa saya menjadi seorang selebriti."

Perempuan itu dijuluki 'Babushka Z'.

Babushka berarti "nenek" dalam bahasa Rusia, sementara huruf Z merujuk pada simbol yang sering digambarkan di kendaraan lapis baja.

Dia terkesima ketika BBC memperlihatkan foto-foto dan video yang yang membuatnya tenar.

"Saya belum pernah melihatnya".

Video itu memperlihatkan dirinya berjalan ke arah dua tentara Ukraina dengan memegang bendera merah Soviet.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Para tentara berkata mereka baru saja tiba untuk membantu para warga dan menawarinya sekantong makanan.

Mereka kemudian mengambil bendera Soviet di tangannya, melemparkannya ke tanah, dan menginjaknya.

Perempuan itu, yang merasa terhina dengan aksi dua tentara tersebut, mengembalikan makanan itu kepada mereka.

"Orang tua saya meninggal demi bendera ini dalam Perang Dunia Kedua," katanya dengan amarah.

Ikon propaganda

Bagi Kremlin, peristiwa ini adalah kesempatan emas.

Selama ini, propaganda Rusia jarang berpusat pada individu. Namun apa yang terjadi pada perempuan lansia tersebut menjadi contoh langka seorang warga Ukraina yang menyesali runtuhnya Uni Soviet dan menganggap Rusia sebagai pembebas.

Kebanyakan warga Ukraina, bahkan di wilayah yang penduduknya berbahasa Rusia - tak menyambut baik invasi tersebut, sehingga pengibaran bendera Soviet yang dilakukannya digunakan sebagai bukti bahwa invasi negara itu mendapat dukungan di antara penduduk setempat.

Bagi warga Rusia, bendera Soviet dan Babushka Z mirip dengan kartu pos "Mother Russia" pada era Perang Dunia Kedua.

Mesin propaganda Kremlin langsung bekerja.

Hanya dalam hitungan hari, penggambaran dirinya - sebuah kilas balik dari stereotip citra petani perempuan era Soviet, dengan kerudung ortodoks, sepatu bot dan rok - mulai muncul di mana-mana, dari Moskow dan Siberia, hingga Pulau Sakhalin di timur jauh.

Dia kini juga diabadikan dalam mural, plakat, kartu pos, patung, dan stiker. Lagu dan puisi juga dipersembahkan untuknya.

Pejabat Rusia bahkan meresmikan patungnya di Mariupol, kota Ukraina yang telah dibom hingga rata dengan tanah.

Siapakah Babushka Z sebenarnya?

Hingga saat ini, tak ada yang tahu identitas Babushka Z yang sebenarnya. Bahkan, tak ada yang bisa memastikan apakah dia masih hidup.

Akan tetapi, dia adalah orang yang nyata.

Namanya Anna Ivanovna dan kami melacaknya hingga ke Velyka Danylivka, sebuah desa di dekat Kharkiv di timur laut Ukraina tempat dia tinggal bersama suaminya, anjing, kucing, dan kelinci.

Perempuan berusia 69 tahun yang masih lincah ini tampak terkejut kala kami menunjukkan foto patung dirinya.

"Apa saya benar-benar terlihat sangat tua?", tanyanya.

"Rasanya seperti orang asing sedang menatap saya!"

Namun kisahnya sangat berbeda dengan citra yang digembar-gemborkan oleh media Rusia. Dia tidak mendukung perang.

"Bagaimana bisa saya mendukung saudara-saudara sebangsa saya tewas? Cucu dan cicit saya terpaksa pergi ke Polandia. Kami hidup dalam ketakutan dan teror."

Lantas, mengapa Anna menyambut tentara sambil membawa bendera Soviet?

Dia mengaku dirinya salah paham. Dia mengira bahwa dua tentara Ukraina yang menawarinya makanan tersebut adalah tentara Rusia.

"Saya hanya senang bahwa Rusia akan datang dan tidak bertarung dengan kami. Saya senang bahwa kami akan bersatu lagi."

Anna mengaku tidak ada maksud politis yang tersembunyi dari aksinya.

Bendera merah, menurutnya, bukanlah bendera Uni Soviet dan Rusia, tapi "panji cinta dan kebahagiaan di setiap keluarga, di setiap kota, di setiap republik".

"Bukan pertumbahan darah. Dan siapapun yang mengatakan sebaliknya, adalah salah."

Ketika Anna berbicara kepada kami, deru artileri dan pertempuran terdengar secara konstan di sekitarnya.

Dia tak bergeming sekalipun karena sudah terbiasa dengan kondisi itu.

"Kalau saya bisa berbicara dengan Vladimir Putin, saya akan bilang, Anda telah berbuat kesalahan. Sebagai orang Ukraina, apa yang sudah kami lakukan sehingga kami pantas mendapat perlakuan seperti ini? Kami adalah satu-satunya yang paling menderita".

Kendati begitu, Anna hidup di era Soviet, dan dia menolak untuk secara terang-terangan mengritik pemimpin Rusia tersebut.

"Putin adalah seorang presiden. Seorang tsar, raja dan kaisar."

Kendati kini dia menjadi bintang yang tenar di Moskow, desa tempat tinggal Anna tak luput dari serangan pasukan Putin dan telah dibombardir beberapa kali.

Kala kami berkendara, beberapa rumah tampak terbakar. Sementara yang lain hanya menyisakan debu.

Rumahnya sendiri juga hancur karena tembakan - jendela pecah, atapnya bocor dan serpihan peluru berserakan di halaman depan.

"Sekarang saya sadar," kata Anna. "Mereka tidak peduli dengan orang-orang di sini di Ukraina, mereka hanya peduli bagaimana menaklukan tanah kami."

Keselamatan terancam

Dmytro Galko dari Kementerian Kebudayaan Ukraina sepakat dengan Anna.

Dia menyebut propaganda Rusia membuat semuanya serba satu dimensi.

"Mereka tak peduli tentang kebenaran, mereka tidak peduli dengan orang-orang. Mereka tidak tertarik dengan siapa Anna sebenarnya, atau nasibnya."

"Jika mereka mampu, mereka akan menculiknya, mengawetkannya dan memasukkannya ke dalam mausoleum," ujarnya.

Kini, Anna khawatir dengan keselamatannya.

Di Ukraina dia mendapat serangan di dunia maya karena dianggap membela Rusia.

Seluruh tetangganya juga menjauhinya.

Padahal, dia tinggal di desa kecil yang penduduknya tahu satu sama lain.

"Saya tidak senang mereka membuat saya tenar karena di Ukraina, mereka menganggap saya pengkhianat."

Tetapi jelas bahwa Anna baru benar-benar menyadari ketenarannya di akhir wawancara kami.

Saat kami mengucapkan selamat tinggal padanya, dia mencoba memberi kami bendera merah berhias arit dan palu kesayangannya

"Saya tidak ingin ada masalah. Saya tidak ingin orang menggunakannya untuk melawan saya."

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini