Share

Fenomena Menjomblo Anak Muda Jepang, Menghindari Pernikahan, dan Lebih Memilih Manga

Tim Okezone, Okezone · Rabu 29 Juni 2022 03:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 28 18 2619998 fenomena-menjomblo-anak-muda-jepang-menghindari-pernikahan-dan-lebih-memilih-manga-BZM4Qb0X21.jpg Ilustrasi/ Foto: Dailyhunt

JAKARTA - Sho, menjalani hidupnya dengan tenang di usia 37 tahun. Memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang baik dan dikelilingi oleh teman-teman yang selalu ditemuinya secara rutin.

Dia juga memiliki cukup waktu untuk melakoni berbagai hobinya. Dia merasa cukup puas menjalani hidupnya, meskipun di usianya yang sekarang belum memiliki pendamping hidup atau istri.

 BACA JUGA:Heboh Pasutri Diduga Bunuh Diri Loncat ke Sungai Brantas Malang

Dilansir dari DW, Sho adalah salah satu dari sekian banyak orang Jepang berusia 30-an yang belum pernah menikah dan tidak memiliki niat untuk menikah.

Fenomena ini pun menjadi perhatian khusus pemerintah Jepang. Pasalnya, jumlah populasi Jepang terus menyusut setiap tahunnya. Bahkan, generasi yang hidup saat ini semakin menua.

Menurut laporan pemerintah dari tahun 2022, sekitar 25,4% wanita berusia 30-an dan 26,5% pria dalam kelompok usia yang sama mengatakan mereka tidak ingin menikah. Di kelompok usia 20-an, 19% pria dan 14% perempuan juga mengatakan tidak memiliki rencana untuk menikah.

 BACA JUGA:Podcast Aksi Nyata Perindo, Fotografer Profesi Menjanjikan untuk Hasilkan Uang

Menurut laporan itu, pada 2021 di Jepang terdaftar 514.000 pernikahan, angka tahunan terendah sejak akhir Perang Dunia II. Tahun 1970 masih tercatat ada 1,029 juta pernikahan.

Para perempuan yang mengikuti survei mengatakan bahwa mereka menghindar dari pernikahan karena mereka ingin menikmati kebebasan mereka, meniti karier, dan tidak ingin menjalani peran ibu rumah tangga tradisional.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Para pria mengatakan mereka juga ingin menikmati kebebasan pribadi, tetapi banyak juga yang mengatakan khawatir atas ketidakamanan pekerjaan dan tidak mampu mendapatkan cukup uang untuk menopang keluarga, seperti halnya Sho.

 BACA JUGA:Bermodal Kaos Tulisan Polisi, Pemuda Ini Peras hingga Ancam Tembak Warga

"Saya dapat melakukan hal-hal yang saya inginkan, dan saya tidak perlu memikirkan orang lain. Saya dapat begadang bermain game komputer atau menonton film apa pun di bioskop yang saya inginkan, atau saya bisa bertemu teman-teman. Aku suka itu," katanya dikutip, Rabu (29/6/2022).

Sementara itu, psikolog Aya Fujii mengatakan bahwa beban mental menjadi pemicu keengganan anak muda Jepang menikah. Persoalan finansial menjadi faktor utama.

Pasalnya, upah pekerja di Jepang cenderung tetap selama bertahun-tahun, berbeda dengan negara-negara lain. Hal yang membuat beban finansial terlalu sulit untuk diatasi jika memutuskan untuk berkeluarga.

 BACA JUGA:Jepang Alami Suhu Terpanas dalam 150 Tahun

"Tidak seperti di negara lain, upah di sini pada dasarnya tetap sama selama bertahun-tahun. Dan itu berarti banyak anak muda melihatnya sebagai beban keuangan yang terlalu berat untuk mencoba memiliki keluarga," ujarnya.

Selain itu, lebih banyak perempuan yang memilih untuk tetap bekerja daripada meninggalkan pekerjaan ketika berkeluarga. Mereka pun lebih senang membaca komik atau manga dibanding bersosialisasi.

 BACA JUGA:Menperin Ingin IKM Komponen RI Bisa Penuhi Kebutuhan Industri Otomotif Jepang

"Karakter di manga dan anime tidak membantah atau mengeluh," kata Fujii.

Anak muda sekarang pun dinilai kurang memiliki keterampilan sosial, dan itu menjadi lebih buruk karena banyak keluarga hanya memiliki satu anak, sehingga anak tumbuh dewasa tidak berinteraksi atau mengembangkan keterampilan sosial yang dia perlukan.

Dia meyakini tren ini tidak akan berubah dalam waktu dekat, sekalipun pemerintah Jepang melakukan berbagai upaya.

 BACA JUGA:Asyik! 3 Bandara di Jepang Buka Penerbangan Internasional Mulai Juli 2022

"Pada akhirnya, orang Jepang berusia 20-an dan 30-an yang tidak dapat berkomunikasi dengan lawan jenis akan lebih sulit menemukan pasangan, dan pola populasi yang menyusut di negara ini akan terus berlanjut," katanya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini