Share

Sosok 'Polisi Sayur', Membantu Pendidikan Anak Nelayan hingga Menjadi Ayah Bagi Anak Yatim

Yudha Bahar, iNews · Rabu 29 Juni 2022 17:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 29 608 2620557 sosok-polisi-sayur-membantu-pendidikan-anak-nelayan-hingga-menjadi-ayah-bagi-anak-yatim-hAZZVTgps4.jpg Aipda Wahyu Mulyawan saat mengajar anak-anak nelayan/ Foto: Yudha Bahar

MEDAN - Menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat rasanya tidak cukup bagi Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda), Wahyu Mulyawan, yang mengemban amanah sebagai Babin Kamtibmas di kawasan pesisir jalan Young Panah Hijau, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan, kota Medan, Sumatera Utara.

Sebagai polisi yang memiliki perjalanan hidup yang pilu, serta melihat pemahaman masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan yang tidak mementingkan pendidikan bagi anak dibandingkan dengan mencari uang, membuat Aipda Wahyu Mulyawan yang dikenal juga sebagai 'Polisi Sayur' tergerak hatinya membangun Taman Bacaan (Tamban) Anak Nelayan untuk mengajarkan kepada warga akan pentingnya membaca, berhitung, dan sekolah.

Berdiri sejak tahun 2018 anak-anak nelayan ini belajar di Tamban pukul 16:00 WIB sore setelah salat ashar, kemudian kembali pulang kerumah PUKUL 17.00 sore dan dilanjutkan kembali dengan mengaji pada pukul 19.00 hingga menjelang salat isya waktu setempat.

Taman Bacaan Anak Nelayan yang berada dibantaran Sungai Deli, lingkungan VII, Kelurahan Labuhan Deli, Kecamatan Medan Marelan kota Medan, telah memiliki 75 orang siswa-siswi yang terdiri dari anak-anak usia 4 tahun, pelajar putus sekolah hingga ibu rumah tangga berusia 28 tahun yang mengejar paket C.

"Tamban ini dibuat gratis untuk anak-anak nelayan yang kurang mampu, misalnya kalau tidak mampu masuk TK anak itukan harus bisa baca dulu biar enggak ribet lagi saat SD, nah di Tamban ini kita ajarkan, bahkan pelajar putus sekolah yang ingin mengejar paket C akan kita bantu, sekarang sudah ada 21 anak termasuk seorang ibu rumah tangga sudah keluar ijazahnya, alhamdulillah," ujar Aipda Wahyu.

Bersama 2 orang tenaga pengajar sukarela yang merupakan warga sekitar, Aipda Wahyu Mulyawan berfokus pada anak usia dini agar dapat membaca dan berhitung. Tak tanggung-tanggung dalam membantu pendidikan anak nelayan, Aipda Wahyu bahkan menyisihkan sebagian honornya di kepolisian untuk menggaji 2 tenaga pengajar sebesar Rp1 juta per orang.

Baca Juga: Dukung Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan, Kabupaten Morowali Hibahkan Tanah ke KKP

Saat disinggung tentang pergerakannya membantu pendidikan anak nelayan, Aipda Wahyu yang juga merupakan warga pesisir, yang tumbuh besar di Leupung, Aceh Besar, melihat prinsip orang tua yang bekerja sebagai nelayan di kawasan tempatnya mengemban amanah sekarang lebih mementingkan mencari nafkah daripada sekolah.

 BACA JUGA:Informasi Gaji Karyawan Holywings, Paling Gede Rp8 Juta

"Saya merasa sedih melihat anak usia 12 tahun yang harusnya menuntut ilmu di sekolah, tapi karena ekonomi keluarga sulit harus dibawa ayahnya ke laut mencari ikan, saya khawatir jika dibiarkan tanpa pendidikan yang baik nantinya menjadi pemberontak, ujung-ujungnya jadi imbang kami para polisi," ucap Aipda Wahyu.

Aipda Wahyu Mulyawan berharap keberadaannya bersama para guru sukarelawan di Tamban, dapat membantu pendidikan anak-anak khususnya bagi keluarga nelayan yang kurang mampu.

"Sekarang ini di kawasan pesisir ini banyak aksi tawuran anak-anak usia dini, bahaya lem kambing, merokok, narkoba dan lainnya. Kita sebagai Babin Kamtibmas selain menginformasikan hal-hal penting langsung melalui lisan juga melalui sosial media, berharap mereka bisa membaca memahami apa yang kita sampaikan, agar tidak menjurus ke hal-hal negatif tersebut, agar tersematkanlah mereka, insyaAllah", ungkapnya.

Selain membangun Tamban, Aipda Wahyu Mulyawan juga dikenal sebagai 'Polisi Sayur' karena memiliki gudang tempatnya menanam sayur seperti bawang, cabai, sawi, tomat, dan lainnya.

 BACA JUGA:Erick Thohir Ketemu Bos Emirates, Bahas Investasi Garuda?

Dengan mempekerjakan masyarakat di lingkungannya, termasuk mantan pencandu narkoba yang telah insyaf, Aipda Wahyu Mulyawan telah menjual sayur ke warung-warung nasi, restoran, rumah sakit, hotel, hingga kapal.

"Saya dulu dibesarkan oleh nenek saya di Aceh, sejak usia 3 tahun sering dibawa menanam cabai, tomat, kol dan sayur lainnya. Sampai saya tamat sekolahpun aktivitas sehari-hari saya ya di kebun bercocok tanam sayur jadi sudah hobi saya, Alhamdulillah hingga sekarang ibu-ibu di sini dapat tambahan rezeki bantu-bantu perekonomian suami," ungkap polisi berusia 37 tahun ini.

Di sela-sela kesibukannya, Aipda Wahyu Mulyawan juga dikenal masyarakat sebagai sosok ayah bagi anak yatim di tempatnya bertugas. Memiliki kisah pilu di tahun 2004 silam, 'Polisi Sayur' ini sering membantu anak yatim agar tidak kehilangan sosok ayah.

 BACA JUGA:Tips Mengajari Anak agar Terhindar dari Pelecehan Seksual ala Psikolog

"26 Desember 2004 saat Tsunami memporak porandakan Aceh, Ibu, Ayah dan 4 adik-adik saya sampai detik ini saya tidak tau keberadaannya, kalau masih hidup sepertinya enggak mungkin, karena kampung halaman saya dulu di Leupung itu rata dengan tanah, entah dikuburkan di mana mereka. Berkaca dari kisah saya, saya punya keinginan semampu saya, anak-anak yatim yang kehilangan ayah mereka masih bisa memiliki sosok ayah melalui saya," ucap Aipda Wahyu.

Setidaknya, sebulan sekali Aipda Wahyu Mulyawan mengunjungi sedikitnya 3 anak yatim yang dipeliharanya untuk memberikan kebutuhan makanan seperti beras, telur, sayur dan sejumlah uang untuk sekolah.

Aipda Wahyu Mulyawan juga rutin memberikan perlengkapan fardhu kifayah kepada warganya yang mengalami kemalangan. Seperti kelengkapan kain kafan, wewangian bahkan peti bagi warga tidak mampu di tempatnya bertugas.

Setelah peristiwa Tsunami 2004 lalu Aipda Wahyu pindah bertugas ke Medan selama 1 tahun di Medan hatinya gelisah, seperti pengabdiannya terhadap orang tua dan adik-adiknya belum tertunai dengan baik. Lalu Aipda Wahyu memutuskan kembali kekampung halaman untuk mengirimkan do'a dan bertemu dengan Ustadz Syamsudin yang dianggap sebagai guru dan sosok teladannya.

Pertemuannya dengan ustad Syamsudin inilah yang menyiasatinya untuk membantu fardhu kifayah warga kurang mampu.

"Kembali ke Aceh, mengirimkan doa ke keluarga saya, lalu bertemu dengan Al ustad, beliaulah yang menganjurkan saya untuk memberikan bantuan fardhu kifayah ke orang yang membutuhkan sebanyak 6 buah, sebagai tanda balas jasa ke kedua orang tua dan 4 adik saya yang tidak sempat saya laksanakan fardhu kifayahnya, Alhamdulillah semuanya telah terlaksana bahkan kemarin ada yang tidak mampu datang lagi ke saya, jadi berlebih 1," ucap Aipda Wahyu sambil mengusap air matanya.

 BACA JUGA:Pelaku Pemenggalan di India Ditangkap Polisi, Klaim sebagai Aksi Balasan

Kini Aipda Wahyu Mulyawan merasa kehidupannya lebih berwarna dan bermakna, pekerjaannya sebagai polisi dapat membuatnya lebih dekat dengan masyarakat sekaligus beramal untuk bekalnya dihadapan Tuhan yang maha esa.

Bersama istrinya Mira Risky dan ke-4 anaknya, Aipda Wahyu Mulyawan berharap sosok polisi di mata masyarakat akan tetap menjadi panutan sejalan dengan visi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, mewujudkan polisi yang ‘Presisi’ yang memiliki arti prediktif, responsibilitas, dan transparansi berkeadilan. Dengan tujuan memberikan pemelihara keamanan dan ketertiban, penegak hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan di tengah-tengah masyarakat.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini