Share

Menerka Kepribadian Seseorang dari Warna Favorit, Emang Bisa?

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 01 Juli 2022 04:02 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 30 18 2621359 menerka-kepribadian-seseorang-dari-warna-favorit-emang-bisa-43746eAMhe.JPG Ilustrasi/ Foto: Freepik

JAKARTA - Setiap orang memiliki warna favorit. Namun, seiring dengan pertumbuhan dan pertambahan usia, warna favorit pun berubah. Namun, perubahan warna favorit seiring dengan bertambahnya uasia tersebut disinyalir karena faktor di luar kendali diri. Benarkah?

 BACA JUGA:Tembus Perempatfinal Malaysia Open 2022, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Ungkap Rahasia Sikat Nami Matsuyama/Chiharu Shida

Produsen krayon Crayola, pada 1993 pernah melakukan jajak pendapat yang tak ilmiah namun menarik. Perusahaan itu bertanya kepada sejumlah anak di Amerika Serikat apa warna krayon kesukaan mereka. Sebagian besar menjawab biru, tapi tiga krayon kebiruan lainnya masuk 10 besar warna favorit.

Selang tujuh tahun kemudian, perusahaan tersebut mengulangi eksperimen itu. Krayon biru kembali menempati posisi teratas, sedangkan enam krayon kebiruan lainnya muncul dalam 10 besar, termasuk warna "blizzard blue". Krayon ungu, hijau, dan pink juga masuk daftar warna favorit.

Bagi Lauren Labrecque, seorang professor dari Universitas Rhode Island yang mengkaji efek warna dalam pemasaran, dominasi biru dalam daftar tersebut tidak mengejutkan.

Laura sendiri kerap meminta kepada para mahasiswanya di kelas untuk menyebutkan warna kesukaan mereka. Setelah mereka menjawab, Laura menampilkan presentasinya.

 BACA JUGA:Kominfo Rancang Peta Jalan Indonesia Digital 2021-2024, Begini Isinya

"Saya punya slide yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Isinya menyebut '80% menjawab biru'," jelas Laura dilansir dari BBC, Kamis (30/6/2022).

Dia mengungkapkan, dalam riset kecil yang dilakukannya menemukan fakta menarik bahwa ketika manusia beranjak dewasa, semua orang cenderung menyukai warna biru. Dan hal itu terjadi lintas budaya.

Hanya Jepang dan segelintir negara lainnya yang menempatkan putih dalam tiga besar warna favorit.

Pilihan warna kesukaan cenderung muncul di masa kanak-kanak. Anak umur satu tahun memiliki pilihan warna yang luas dan cenderung tidak konsisten, menurut riset.

 BACA JUGA:Silsilah Kerajaan Mataram Kuno Lengkap, Ada Raja yang Bangun Candi Borobudur!

Namun, semakin dewasa, pilihan mereka pada suatu warna tertentu akan semakin kuat berdasarkan keterpaparan mereka terhadap benda-benda sekitar serta keterkaitannya.

Mereka akan cenderung mengaitkan warna-warna cerah, seperti oranye, kuning, ungu, atau pink ke perasaan positif ketimbang negatif.

Suatu kajian terhadap 330 anak berusia antara 4-11 tahun menemukan bahwa mereka menggunakan warna favorit tatkala menggambar suatu karakter "bagus", namun cenderung memakai warna hitam saat menggambar karakter "buruk".

Akan tetapi penggunaan warna berdasarkan suasana hati atau perasaan ini tidak mutlak, sehingga hubungan emosi dan warna tidak terang-benderang.

 BACA JUGA:Resep Telur Krispi Rumah Makan Padang, Cocok Buat Anak Kos!

Telah menjadi anggapan umum bahwa saat memasuki usia remaja, pilihan warna seseorang akan menjadi lebih kelam. Namun, tidak banyak riset akademis untuk mendukung anggapan ini.

Remaja perempuan di Inggris, misalnya, diketahui lebih tertarik pada ungu dan merah, sedangkan remaja pria menyukai hijau dan kuning-hijau. Sebuah penelitian pada pilihan warna kamar tidur remaja pria mengungkap mereka cenderung memilih putih, walau mereka menyatakan warna favorit adalah merah dan biru.

 BACA JUGA:Proyek Tol Cimanggis-Cibitung Rampung Tahun Ini

Pilihan warna sepertinya semakin mengerucut seiring manusia menjadi dewasa. Mayoritas responden dewasa mengaku menyukai warna biru.

Namun, mengapa kita semua punya warna favorit? Dan yang lebih penting, apa pendorong pilihan tersebut? Sederhananya, kita punya warna favorit kerena kita punya benda favorit.

Itulah inti teori valensi ekologis, yang dicetuskan Karen Schloss dan rekan-rekannya. Dia adalah seorang asisten profesor psikologi di Universitas Wisconsin-Madison, AS.

Eksperimennya menunjukkan bahwa warna-warna tidak netral. Bahkan, menurutnya, manusia menempatkan lapisan-lapisan makna pada warna, sebagian besar berdasarkan pengalaman subyektif.

Hal ini mendorong manusia untuk menciptakan alasan kuat mengapa suatu warna menarik dan warna lain menjijikkan.

 BACA JUGA:Resep Telur Krispi Rumah Makan Padang, Cocok Buat Anak Kos!

"Ini menjelaskan mengapa setiap orang punya preferensi berbeda pada warna yang sama, dan mengapa preferensi Anda untuk warna apapun bisa berubah seiring waktu," jelasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini