Share

Mengenal Kapal Selam Nuklir Pertama AS yang Jelajahi Dunia Bawah Es di Arktik

Tim Okezone, Okezone · Selasa 05 Juli 2022 05:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 04 18 2623570 mengenal-kapal-selam-nuklir-pertama-as-yang-jelajahi-dunia-bawah-es-di-arktik-3nGkcrsPmz.jpg Ilustrasi/ Foto: Wikipedia

JAKARTA - Pada tahun 1958, sebuah kapal selam milik AS, USS Nautilus, menjadi kapal pertama yang mencapai Kutub Utara dan melakukan perjalanannya di bawah lapisan es. Misinya membuka dunia baru untuk dijelajahi para ilmuwan.

 BACA JUGA:Rusia Ingin Bangun Kereta di Ibu Kota Baru, Begini Kata Otoritas IKN

Kapal tersebut dikomandani oleh komandan USS Nautilus, William Anderson. Misi perdana dari kapal selam nuklir pertama di dunia itu adalah misi rahasia dengan nama sandi 'Operation Sunshine'.

Perjalanan itu dilakukan dengan kapal selam sepanjang 97 meter dan 116 awaknya, sepenuhnya tenggelam di bawah lapisan es. Ini adalah sebuah prestasi yang mustahil sebelum penemuan propulsi bertenaga nuklir kompak.

"Untuk dunia, negara kita, dan angkatan laut - Kutub Utara," tulis Anderson seperti dilansir dari BBC, Senin (4/7/2022).

Sebelum Nautilus, kapal selam harus muncul ke permukaan, atau setidaknya menaikkan snorkel ke atas permukaan laut untuk mengambil udara yang dibutuhkan mesin diesel dan mengisi baterai untuk penggerak listrik.

Tetapi dengan reaktor nuklir, Nautilus tidak perlu melakukan itu.

Nautilus sudah berada jauh di bawah permukaan air selama tiga hari sebelum mencapai Kutub dan tidak sekalipun muncul ke permukaan hingga di dekat pantai Greenland, pada 7 Agustus 1958.

Ini artinya, Nautilus telah menghabiskan seminggu di bawah ombak dingin dan es yang membeku.

Presiden AS Dwight D Eisenhower mengirimkan ucapan selamatnya kepada para awak kapal atas "pencapaian luar biasa".

 BACA JUGA:Digempur Isu Penyelewengan Dana, ACT Klaim Dapat Predikat WTP dari BPK Sejak 2005

Ia meyakini bahwa misi pelayaran itu akan merevolusi cara beroperasi kapal selam dan peperangan di masa depan.

"Pelayaran itu adalah demonstrasi yang mengesankan dari sebuah revolusi dalam perang maritim," kata Kapten Justin Hughes, pensiunan komandan kapal selam nuklir untuk Angkatan Laut Kerajaan Inggris dan sekarang sekretaris kehormatan Museum Kapal Selam Angkatan Laut Kerajaan Inggris.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

"Ini memberi bukti bahwa kapal selam bertenaga nuklir dapat beroperasi di bawah air, sehingga tak terdeteksi, untuk misi yang lama," tambahnya.

Sekarang ini, kapal selam bertenaga nuklir dapat berada jauh di bawah permukaan laut selama berbulan-bulan. Ini menjadikannya sebuah senjata penghancur dan pertahanan yang tersembunyi, kerap kali memuat torpedo dan rudal nuklir.

 BACA JUGA:Menparekraf Bantu Pedagang Warung Kopi Tertua di Desa Sembungan Wonosobo

Sejak 1969, misalnya, Inggris selalu memiliki setidaknya satu kapal selam yang membawa senjata nuklir di laut, peran yang saat ini dilakukan oleh kapal kelas Vanguard-nya.

Misi Nautilus, selain merupakan ajang pembuktian potensi militer kapal selam nuklir, juga menjadi tonggak sejarah ilmiah, yang membantu menyiapkan panggung untuk era baru eksplorasi dan penemuan tentang dunia aneh di bawah lapisan es Arktik.

Namun, bahkan hingga sekarang, misi pelayaran di bawah es-es Arktik bukanlah hal yang rutin dilakukan.

"Tantangan operasi kapal selam di lingkungan ini tidak boleh diremehkan," kata Hughes.

Selain serpihan-serpihan es yang dapat mengganggu instrumen sonar, kru juga harus siap menghadapi masalah yang disebabkan oleh kondensasi. Kemudian ada keadaan isolasi total dan keheningan yang nyaris absolut.

 BACA JUGA:Ruben Onsu Menangis saat Beri Pesan ke Melaney Ricardo: Titip Anak-Anak Gue

"Lebih mendasar lagi, jika terjadi keadaan darurat di atas kapal seperti banjir, kebakaran, atau kehilangan tenaga, ada bermeter-meter lapisan es Arktik di antara kapal selam dan udara segar," jelas Hughes.

Menurutnya, semua ini butuh konsentrasi yang tinggi. Misi pelayaran di bawah es harus dilakukan dengan tingkat kesiapan kru yang tinggi untuk menanggapi keadaan darurat. Ini mengharuskan awak kapal selalu siaga.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini