Share

Politikus Rusia Ingin Arahkan Rudal Hipersonik ke AS, Ciptakan Krisis Rudal Kuba Baru

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 05 Juli 2022 10:25 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 05 18 2623741 politikus-rusia-ingin-arahkan-rudal-hipersonik-ke-as-ciptakan-krisis-rudal-kuba-baru-dxs1QMp3je.png Rudal hipersonik Zirkon Rusia ditembakkan dalam uji coba pada Desember 2020. (Foto: Ruptly)

MOSKOW – Sebuah video yang memperlihatkan politikus Rusia menyerukan Presiden Vladimir Putin menempatkan rudal hipersonik dalam jarak serang wilayah Amerika Serikat (AS) menjadi viral di media sosial.

Berbicara di televisi pemerintah, Anggota Duma (parlemen Rusia) Andrei Gurulyov membahas perlunya resolusi untuk konflik yang sedang berlangsung antara Rusia dan Ukraina.

BACA JUGA: Rusia Pamerkan Rudal Hipersonik Zircon

Gurulyov mengatakan bahwa memindahkan senjata hipersonik Rusia ke dalam jarak yang dapat menyerang wilayah AS akan memaksa Presiden Joe Biden untuk datang ke meja perundingan dengan Rusia dan berhenti memasok Ukraina dengan senjata untuk konflik.

Video itu dibagikan oleh jurnalis Daily Beast Julia Davis di halaman Twitternya dan menjadi viral, dilihat lebih dari 130.000 kali.

"Para propagandis di TV pemerintah Rusia menganjurkan menciptakan Krisis Rudal Kuba lainnya (kali ini, dengan rudal hipersonik) untuk mengekstraksi konsesi dari AS," tulis Davis.

"Mereka juga mengusulkan penghancuran total infrastruktur kritis Ukraina dan memperingatkan negara-negara lain: 'Anda berikutnya.'".

Dalam klip tersebut, Gurulyov berbicara dalam bahasa Rusia tetapi terjemahan bahasa Inggris terlihat di sepanjang bagian bawah layar. Tidak jelas kapan rekaman itu direkam, demikian wiartakan Newsweek.

"Saat ini, mereka mengirimkan MLRS (Multiple Launch Rocket System), howitzer, mereka akan mengirimkan apa pun di sana (di Ukraina), hingga bom nuklir hanya untuk tidak membiarkan kita menang," kata Gurulyov, merujuk pada komitmen negara-negara Barat. untuk memasok Ukraina dengan senjata.

BACA JUGA: Biden Konfirmasi Rusia Gunakan Rudal Hipersonik di Ukraina

"Selanjutnya, mereka akan mengirim pesawat, sistem anti-pesawat, kemudian sistem anti-rudal dan seterusnya dan seterusnya, mereka tidak akan tenang."

Dia kemudian menyampaikan pandangannya tentang bagaimana Rusia bisa melanjutkan operasi militernya di Ukraina.

"Setiap détente terjadi setelah krisis yang baik, seperti détente yang mengikuti Krisis Rudal Kuba," lanjutnya.

"Mengapa? Karena selama Krisis Rudal Kuba, ada ancaman langsung ke wilayah AS yang tidak segera mereka tanggapi.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

"Kita harus menciptakan keadaan serupa karena AS berada di balik semua ini dan yang lainnya berada di bawah kendali mereka.

“Kita di depan semua orang dengan senjata hipersonik, senjata hipersonik kami seharusnya, tidak hanya di atas kapal induk tradisional, tetapi juga dibawa ke sekitar Amerika Serikat. Dengan waktu terbang maksimal lima menit, Biden akan tetap duduk di sana dan gagap tetapi sisanya akan memikirkan bagaimana bernegosiasi.”

"Itu adalah satu-satunya skenario bagi kami untuk dapat melakukan denazifikasi dan demiliterisasi Ukraina."

Gurulyov kemudian mengisyaratkan bahwa Rusia memiliki keinginan untuk datang ke meja perundingan untuk menyelesaikan konflik.

Dia menekankan bahwa dalam "perang apa pun, Anda tidak bisa selalu menang," dan mengakui bahwa pada akhirnya pasti ada kekalahan.

Rudal hipersonik adalah rudal yang dapat meluncur dengan kecepatan Mach 5, lima kali lebih tinggi dari kecepatan suara

Saat ini Rusia dan China diyakini sebagai dua negara yang telah mengembangkan dan memiliki rudal hipersonik, dengan AS sedikit tertinggal dan tengah berusaha mengembangkannya.

Pada Oktober 1962 Uni Soviet mengirimkan rudal nuklirnya ke Kuba sebagai upaya mencegah invasi Amerika Serikat ke negara itu. Dari Kuba, rudal nuklir Uni Soviet akan mampu menghantam kota-kota AS.

Insiden yang dikenal sebagai Krisis Rudal Kuba ini memunculkan kekhawatiran akan pecahnya perang nuklir di tengah ketegangan Perang Dingin antara dua adidaya dunia saat itu, AS dan Uni Soviet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini