Share

Curangi Pangeran Diponegoro, Jenderal De Kock Tersandera Rasa Bersalah!

Solichan Arif, Koran SI · Kamis 07 Juli 2022 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 07 512 2625204 curangi-pangeran-diponegoro-jenderal-de-kock-tersandera-rasa-bersalah-mdgCPjYH4C.jpg Lukisan Pangeran Diponegoro. (Foto: Solichan A/MPI)

JAKARTA - Jenderal De Kock menahan rasa bersalahnya akibat mencurangi Pangeran Diponegoro di Magelang. Pangeran Diponegoro ditangkap saat berlangsungnya perundingan damai di Magelang 28 Maret 1830.

Penangkapan Pangeran Diponegoro yang kemudian dibawa ke Batavia dan berlanjut dengan pembuangan ke Makassar hingga wafat tahun 1855, melahirkan tudingan buruk bagi Jenderal De Kock.

Jenderal De Kock yang tiba-tiba meringkus Diponegoro saat perundingan masih berlangsung dianggap sebagai perbuatan yang tidak jujur sekaligus tidak satria. Bagi De Kock, pengakhiran Perang Jawa (1825-1830) dengan cara curang itu menjadi kenangan yang buruk dalam kehidupannya.

“Barangkali kenangan itu tidak pernah terlepas dari perasaan yang menganggu. Seperti dia sendiri telah mengakui bahwa perbuatannya di Magelang tidak satria dan tidak jujur,” tulis Harm Stevens dalam buku Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600.

Jenderal De Kock sebelumnya dikenal sebagai tentara yang memiliki profil cukup humanis. Rasa kemanusiaan itu timbul dari pengalaman pahit yang pernah dideritanya. De Kock pernah mengalami pahitnya sebagai tawanan perang di Benggala dan Inggris (1811-1813).

Karenanya sikapnya terhadap orang Jawa cenderung baik. “Ia sedikit menaruh simpati pada orang Jawa, yang menurut dia lebih baik daripada orang-orang pemberontak Belgia yang lebih tak terkira buasnya,” kata Peter Carey seperti dikutip dari Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855).

Kebaikan pribadi Jenderal De Kock terlihat saat Gubernur Jenderal baru, Johannes Van den Bosch menginstruksikan tidak ada negoisasi dengan Diponegoro. Perintah itu terbit pada 6 Januari 1830. De Kock didesak segera menangkap hidup-hidup Pangeran Diponegoro, atau bila perlu membunuhnya.

“Jangan lakukan perundingan apa pun dengannya. Hanya penjara seumur hidup apabila ia menyerah atau tertangkap yang akan dikenakan. Tidak ada pemikiran di luar itu (yang diizinkan),” tegas Van den Bosch.

Sebagai bawahan, De Kock tidak berani membantah perintah itu. Tapi sebagai manusia yang memiliki rasa humanis, ia mencoba menegosiasikan pemikirannya yang itu membuat Van den Bosch sedikit melunak. Perundingan damai di Magelang pun akhirnya diizinkan meskipun Van den Bosch tetap memperingatkan: bermurah hati kepada seorang yang menginspirasi pemberontakan akan dipandang sebagai kelemahan yang tidak dapat dimaafkan.

Pangeran Diponegoro yang memegang janji bahwa pertemuan dengan Jenderal De Kock hanya bersifat ramah tamah, dan dirinya tidak akan diapa-apakan, bersedia datang ke Magelang. Dalam pertemuan itu, De Kock juga memperlihatkan sikap persahabatan dan penuh rasa hormat.

Bahkan mereka saling bertukar cerita lelucon dan menemukan kesenangan yang sama. Namun bagaimanapun De Kock tetaplah bawahan yang setiap saat harus menjalankan perintah atasan. Apalagi bocoran yang diterima dari mata-matanya dari karsidenan Kedu, Diponegoro tetap kukuh dengan pendiriannya.

Pangeran Diponegoro sudah bulat pada niatnya untuk menjadi Ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya (raja pemelihara dan pengatur agama di seluruh Tanah Jawa). Kolonial Belanda tidak mungkin mewujudkan keinginan Diponegoro tanpa lebih dulu berkompromi dengan para raja Jawa.

Pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock memutuskan menangkap Pangeran Diponegoro di mana tindakannya sekaligus mengakhiri Perang Jawa yang banyak menguras kas keuangan Belanda.

Paska penangkapan Diponegoro, yakni masih di tahun 1830, di Nederland De Kock mendapat penghargaan dari negara. Kedatangannya dari Hindia Belanda disambut dengan Grootkruis der Militaire Willems Orde (Bintang Penghargaan Militer). Ia juga diangkat sebagai panglima pasukan-pasukan Belanda di Zeeland.

Dalam perjalanan karirnya, derajat kepegawaian Jenderal De Kock naik sebagai Menteri Dalam Negeri. Kendati demikian, kenangan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro di Magelang terus mengganggunya. Untuk menangkis semua tudingan buruk, ia membuat laporan tertulis terkait peristiwa yang terjadi. De Kock melakukan upaya bersih diri.

“Mungkin pihak-pihak tertentu akan mencemooh cara penangkapan Pangeran Diponegoro berlangsung, namun saya menghibur diri bahwa setelah mereka baca laporan saya ini pada umumnya tindakan saya akan dibenarkan,” tulis De Kock seperti dikutip dari Yang Silam Yang Pedas, Indonesia dan Belanda Sejak Tahun 1600.

Tidak hanya itu. Upaya menangkis tudingan tidak satria dalam penangkapan Diponegoro juga dilakukan De Kock dengan memerintahkan Letnan Satu Francois De Stuers, ajudan pribadi yang kemudian menjadi menantunya.

Pada tahun 1833 atau tiga tahun setelah penangkapan Diponegoro, De Stuers menerbitkan buku berjudul Memoirs sur la guerre d’ile. Buku itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda dengan judul Gedenkschrift van den oorlog op Java van 1825 tot 1830 (Buku peringatan Perang Jawa dari tahun 1825 sampai 1830).

Inti dari buku itu adalah membela sekaligus membenarkan tindakan yang sudah dilakukan Jenderal De Kock terhadap Diponegoro. “Perbuatan-perbuatan yang terhormat, yang semakin cemerlang mengingat terjadi di tempat yang jauhnya lebih dari empat ribu jam dari tanah air”.

Kendati demikian, semua pembelaan bersih diri itu tidak mampu melunturkan tudingan rakyat Jawa, khususnya pengikut Diponegoro kepada Jenderal De Kock dan Belanda: bahwa Pangeran Jawa yang sangat dihormati itu hanya bisa ditaklukkan dengan cara curang dan tidak satria.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini