Share

Kasus Child Grooming di Bantul, Polisi Tangkap 7 Tersangka dari 6 Provinsi

Erfan Erlin, iNews · Rabu 13 Juli 2022 16:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 13 510 2628938 kasus-child-grooming-di-bantul-polisi-tangkap-7-tersangka-dari-6-provinsi-fHvGi3Bbc0.jpg Para pelaku child grooming ditangkap. (Foto: Erfan Erlin)

BANTUL - Polda DIY berhasil menangkap 7 orang tersangka dalam kasus child grooming yang menimpa 3 anak di bawah umur di Kabupaten Bantul. 7 orang tersangka yang salah satunya adalah FAS berasal dari berbagai kota di Indonesia.

Child grooming adalah cara seorang pelaku yang biasanya predator seksual mendekati anak dengan tujuan membujuk agar korban mau melakukan aktivitas seksual

Direskrimsus Polda DIY, Kombes Pol Roberto Gomgom Manorang Pasaribu mengungkapkan, pada tangggal 21 Juni 2022, Penyidik Subdit V/Siber Ditreskrimsus melakukan kegiatan penyidikan berupa pemeriksaan terhadap saksi-saksi.

"Kami juga melakukan analisa hasil digital forensik dalam perkara dugaan tindak pidana penyebaran konten yang melanggar kesusilaan atau pornografi terhadap anak di bawah umur," terang dia, Rabu (13/7/2022).

 Baca juga: Pemprov DKI Batal Terapkan Pemisahan Duduk Penumpang Pria dan Wanita di Angkot

Kemudian berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap sejumlah saksi dan hasil figital forensik, ditemukan adanya grup WhatsApp yang terdapat dugaan aktivitas berbagi konten pornografi yang melibatkan anak di bawah umur maupun dewasa dengan nama grup “GCBH“ dan “BBV”

Dalam grup tersebut ditemukan dugaan aktivitas berbagi konten pornografi yang melibatkan anak di bawah umur maupun orang dewasa dengan video yang diduga mengandung muatan melanggar kesusilaan dan/ atau pornografi dari peserta/anggota grup.

Setelah membuat group WhatsApp, pelaku membagikan link masuk melalui media sosial Facebook dan group WhatsApp yang sebelumnya diikuti oleh pelaku. Kemudian para anggota saling membagikan konten bermuatan pornografi baik pornografi terhadap anak maupun dewasa.

Selain FAS, pihaknya juga mengamankan tersangka lain yaitu DS, SD, AE, DD, ABH. ara pelaku ini berasal dari 7 kota dan 6 propinsi. Para pelaku memiliki peran masing-masing. Ada yang berperan menjadi admin dan ada yang bertugas menyebar konten-konten negatif.

Tersangka DS merupakan pembuat group WA dengan nama “GCBH” pada sekira tanggal 2 Desember 2021. Setelah membuat group WA tersebut rersangka DS membagikan link tautan untuk masuk grup.

"DS juga membagikan link tersebut di Media Sosial Facebook dan pada group Whatsapp yang sebelumnya sudah diikuti tersangka DS," paparnya.

Tersangka SD merupakan admin dari group WA dengan nama “GCBH”. Tersangka AR merupakan anggota group WA “GCBH” yang mengunggah dan membagikan video yang memiliki muatan konten pornografi terhadap anak dan dewasa.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Tersangka DD merupakan anggota group WA “GCBH” yang mengunggah dan membagikan video yang memiliki muatan konten pornografi terhadap anak dan dewasa. Sementara ABH merupakan anggota group WA “GCBH”.

"ABH-lah yang mengunggah, membagikan video yang memiliki muatan konten pornografi terhadap anak dan dewasa," tambahnya.

Sementara pada Grup WA“BBV”, tersangka AR dan AN merupakan anggota group “BBV” mengunggah dan membagikan video yang memiliki muatan konten pornografi terhadap anak dan dewasa.

Para terdakwa akan dijerat pasal Pasal 45 Ayat (1) Jo Pasal 27 Ayat (1) Jo Pasal 52 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik Dan/Atau. Pasal 29 Jo Pasal 4 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi Dipidana Dengan Pidana Penjara Paling Singkat 6 (Enam) Bulan Dan Paling Lama 12 (Dua Belas) Tahun Dan/Atau Pidana Denda Paling Sedikit Rp250.000.000,00 (Duaratus Lima Puluh Juta Rupiah) Dan Paling Banyak Rp.6.000.000.000,00 (Enam Miliar Rupiah) Dan/atau

Serta pasal Pasal 14 Jo Pasal 4 Ayat (1) Huruf (I) Jo Pasal 4 Ayat (2) Huruf (E) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 Tentang Tpks (Tindak Pidana Kekerasan Seksual) Dipidana Karena Melakukan Kekerasan Seksual Berbasis Elekktronik, Dengan Pidana PenjaraPaling Lama (Empat) Tahun Dan/Atau Denda Paling Banyak Rp.200.000.000,00 (Dua Ratus Juta Rupiah).

"Kami mengupayakan agar para tersangka mendapatkan hukuman maksimal. Agar memberi efek jera," tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini