Share

Polda Jateng Tetapkan 12 Tersangka Terkait Kasus Mafia Tanah

Angga Rosa AD, Koran SI · Selasa 19 Juli 2022 17:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 19 512 2632479 polda-jateng-tetapkan-12-tersangka-terkait-kasus-mafia-tanah-GPnrQn98Mw.jpg Polda Jateng menetapkan 12 tersangka terkait kasus mafia tanah. (MNC Portal/Angga Rosa)

SEMARANG - Satgas Puser Bumi Polda Jateng selama satu tahun sejak dibentuk telah menetapkan 12 orang tersangka kasus mafia tanah. Penetapan 12 tersangka tersebut hasil penyidikan enam laporan polisi.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda Jateng, Kombes Johanson Ronald Simamora mengatakan, sejak dibentuk, tim gabungan Satgas Puser Bumi telah menerima 12 aduan masalah tanah, dengan 8 aduan ditingkatkan menjadi laporan polisi (LP).

"Dalam penyidikan 6 LP telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka kasus mafia tanah," kata Dirreskrimsus didampingi Kabidhumas Polda Jateng Kombes Iqbal Alqudusy dan Kapolrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar Dirreskrimsus saat konferensi pers di Aula Ditreskrimsus Polda Jateng, Selasa, (19/07/2022).

Modus yang digunakan para tersangka beragam. Antara lain memalsukan jual beli tanah dan pemalsuan kuasa beli atau kuasa jual.

“Pada kasus yang ditangani Tim 2 Ditreskrimsus Polda Jateng, penyidik telah mengamankan 3 tersangka berinisial DI, IDA, dan AH. Ketiga tersangka ini memiliki peran masing-masing,” tuturnya.

Modus yang digunakan dengan melakukan pembelian 11 bidang tanah di Salatiga. Kasus bermula pada sekira Juni 2016 ketika tersangka DI yang berperan mencari bidang tanah menemui 11 pemilik tanah tersebut.

Terhadap para pemilik tanah, tersangka DI memberikan uang muka dengan total Rp110 juta pada 11 orang pemilik tanah.

Terhadap para pemilik dijelaskan, tanah tersebut dibeli seorang pengusaha rokok berinisial AH. Ia meyakinkan para pemilik tanah, pembayaran atas tanah tersebut akan dilakukan secara bertahap.

Selanjutnya, tersangka DI meminjam sertifikat tanah tersebut dengan dalih dilakukan pengecekan ke BPN. Namun, alih-alih dilakukan pengecekan, sertifikat tersebut kemudian diproses balik nama di notaris IDA menjadi atas nama AH.

“Sertifikat yang telah di balik nama tersebut kemudian dijadikan agunan di suatu bank swasta dengan jumlah pinjaman sebesar Rp25 miliar atas nama peminjam AH. Adapun hingga saat ini terhadap para pemilik tanah belum dilakukan pelunasan atas tanah yang dibeli oleh tersangka DI,” tuturnya.

Hingga akhirnya pinjaman tersebut tidak dilakukan pembayaran dan pihak bank swasta melakukan pengecekan dan pengukuran ke 11 lokasi tanah di sertifikat yanng dijadikan agunan. Hal tersebut diketahui para pemilik tanah yang kemudian mempermasalahkan jual beli tanah yang belum lunas tersebut.

“Para tersangka dijerat dengan Pasal 378 Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penipuan dan Pasal 266 Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang memberikan keterangan palsu dalam suatu akta otentik dengan ancaman maksimal 7 tahun penjara,” ujarnya.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Dalam konferensi tersebut, sejumlah korban para tersangka mafia tanah hadir di konferensi pers. Mmereka mengungkapkan rasa syukur dan haru mereka di hadapan Kombes Johanson.

Para korban yang keseluruhan warga Salatiga itu mengucapkan terima kasih atas keberhasilan Polda Jateng menangkap para tersangka.

"Lahan kami dengan jumlah total 11 sertifikat, awalnya dipinjam katanya mau dicek di BPN namun ternyata kok tahu-tahu sudah di lelang oleh salah satu bank," ungkap Hari Nugroho, salah satu korban dengan nada haru.

Dirinya berharap tanahnya bisa segera kembali dan proses penyidikan berjalan dengan lancar.

"Sebagai korban, kami sudah lelah dan hampir putus asa memperjuangkan tanah kami. Untuk ini kami mengucapkan terima kasih. Semoga setelah penyidikan selesai, tanah kami bisa segera kembali," tuturnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini