Share

Cerita Kabinda Yogyakarta Bongkar Pembunuhan Naek Gonggom yang Libatkan Artis Lidya Pratiwi

Andika Shaputra, Okezone · Sabtu 23 Juli 2022 18:35 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 23 510 2635072 cerita-kabinda-yogyakarta-bongkar-pembunuhan-naek-gonggom-yang-libatkan-artis-lidya-pratiwi-XL9BZZ1LLH.jpg Foto: Antara/Binda DIY

YOGYAKARTA- Masih ingat kasus pembunuhan yang melibatkan artis pesinetron Lidya Pratiwi yang terjadi 16 tahun silam ? Lidya didakwa melakukan pembunuhan berencana terhadap kekasihnya Naek Gonggom Hutagalung di Putri Duyung Cottage, Ancol pada tanggal 26 April 2006.

(Baca juga: Lidya Pratiwi Ungkap Alasan Ubah Nama)

Lidya divonis bersalah oleh pengadilan negeri Jakarta Utara, dan diganjar hukuman penjara selama 14 tahun. Setelah sebelumnya oleh tim penyidik Polres Jakarta Utara kala itu, dia dikenakan pasal berlapis. Lidya terbukti melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Setelah hampir 14 tahun menjalani hukuman penjara, Lidya Pratiwi bebas murni pada 24 November 2018. Bahkan kini, Lidya telah mengganti namanya menjadi Maria Eleanor.

Lantas, bagaimana ceritanya kasus pembunuhan ini berhasil diungkap oleh tim penyidik Reskrim Polres Jakarta Utara?

Kepala Badan Intelijen Negara Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Kabinda DIY), Brigjen Pol Andry Wibowo membagikan pengalamannya 16 tahun silam tersebut.

“Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) yang biasa disebut Olah TKP menjadi kuncinya. Karena itulah, TKP perlu ditutup, dijaga, dibatasi garis polisi, sehingga bukti-bukti tidak rusak, hilang, atau berubah posisinya. Inilah prinsip memperlakukan tempat kejadian perkara yang berlaku secara universal di seluruh dunia,” ujar Andry Wibowo, Sabtu (23/7/2022).

Setelah mendapatkan informasi ditemukannya sesosok mayat, tim Satreskrim Polres Jakarta Utara segera meluncur ke kamar Tongkol di Putri Duyung Cottage, Ancol. Tim tersebut dipimpin langsung oleh Andry yang saat itu menjabat Kasatreskrim Polres Jakarta Utara.

“Seluruh barang bukti yang ditemukan di lokasi tempat kejadian perkara dikumpulkan dengan teliti. Olah TKP menjadi kunci dalam mengungkap sebuah kejahatan, apalagi sebuah pembunuhan. Korban boleh saja sudah mati terbujur kaku, tapi kondisi luka yang terdapat pada tubuhnya, posisi jasad, serta barang-barang yang berada di sekitar lokasi seakan mampu memberikan petunjuk bagaimana sesungguhnya peristiwa yang telah terjadi,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, pembunuhan ini terjadi di tahun 2006, saat dunia belum memiliki jejak digital, karena teknologi telekomunikasi belum secanggih seperti hari ini. Fakta demi fakta disusun, keterangan demi keterangan dikumpulkan. Saksi demi saksi diperiksa.

“Semuanya dilakukan untuk mendapatkan kausalitas, guna mengkonstruksi terjadinya peristiwa sehingga menemukan fakta hukum serta pelaku pembunuhan bersama motif dan modus sesungguhnya,” ujarnya.

Dibutuhkan waktu 10 hari bagi tim penyidik Reskrim dari Polres Jakarta Utara untuk mengungkap pelaku kasus pembunuhan ini. Dan ternyata petunjuk utamanya berasal dari sebuah puntung rokok yang ditemukan saat olah TKP. Tak disangka, sebuah puntung rokok kretek Dji Sam Soe mampu membuka tabir pelaku pembunuhan Naek Gomgom Hutagalung sang kekasih Lidya Pratiwi. Kerja keras dan ketekunan para penyidik yang patut mendapat acungan jempol.

“Penyidik menemukan petunjuk pelaku pembunuhan ini tatkala sedang memeriksa seorang saksi bernama Tony Yusuf, yang merupakan paman dari Lidya Pratiwi,”ujarnya.

Pemeriksaan dihentikan, penyidik menawarkan beberapa merk rokok pada si paman. Setelah menggeleng dengan beberapa rokok yang ditawarkan oleh penyidik, si paman menganggukkan kepalanya pada rokok kretek Dji Sam Soe, merk sangat terkenal yang terbungkus kertas berwarna kuning.

Baca Juga: KKP Pastikan Proses Hukum Pelaku Perdagangan Sirip Hiu Ilegal di Sulawesi Tenggara

Setelah dibiarkan menikmati beberapa batang rokok kesukaannya di meja pemeriksaan, lalu penyidik sambil berkelakar menunjuk si paman sambil bertanya bapak pelakunya ya ? Sontak saja si paman mengelak sibuk membela diri.

Selanjutnya, penyidik lalu mengumpulkan puntung rokok yang berserak di asbak, dan meminta kepada rekannya untuk melanjutkan dengan pemeriksaan forensik air liur, guna dicocokan dengan puntung rokok yang sebelumnya ditemukan di TKP. Dan hasilnya presisi alias ditemukan kesesuaian.

“Bukti awal yang diperoleh, dikembangkan dengan melakukan pemeriksaan terhadap seluruh saksi yang diduga berada di lokasi, melihat, mendengar atau terhubung dengan peristiwa yang sudah terjadi,”ujarnya.

Dikatakannya, metode kerja ini disebut sentrifugal, bergerak menjauh dari titik pusat terus melingkar meluas melawan arah jarum jam, yang umum disebut pengembangan kasus. Dalam ilmu fisika apabila terdapat gaya sentrifugal yang arahnya menjauhi pusat, maka akan terdapat gaya total yang menyebabkan benda bergerak sepanjang garis lurus. Garis inilah yang dalam istilah umum kita kenal sebagai benang merah sebuah peristiwa.

Berdasarkan bukti-bukti awal yang ditemukan jelas diperlukan pendalaman yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut menggunakan alat bantu canggih semisal pemeriksaan forensik, otopsi, kalau di jaman ini hingga digital forensik dan lainnya. Hal demikian agar fakta dan informasi dapat menjadi bukti hukum yang mampu dibuktikan di pengadilan.

“Sehingga korban pembunuhan meskipun tak lagi mampu bersuara mendapatkan keadilannya. Pelaku dapat dijerat dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. Dan Polisi sebagai aparat penegak hukum terhindar mengorbankan pihak yang tidak bersalah,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini