Share

4 Negara Ini Aktif Suarakan Kampanye Perubahan Iklim

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Rabu 27 Juli 2022 08:07 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 26 18 2636754 4-negara-ini-aktif-suarakan-kampanye-perubahan-iklim-h9W2kYSBFD.jpg Negara-negara yang aktif suarakan kampanye perubahan iklim (Ilustrasi/Okezone)

PERUBAHAN iklim adalah hal yang menjadi sorotan di dunia. Perubahan iklim terjadi lantaran meningkatnya gas karbon dioksida di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca.

Guna mengurangi perubahan iklim, sejumlah negara aktif menyuarakan kampanye perubahan iklim. Berikut daftarnya, sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber pada Rabu (27/7/2022) :

1. Indonesia

Indonesia adalah negara yang menegaskan komitmennya dalam pengendalian perubahan iklim dengan dokumen Update NDC (Nationally Determined Contribution) serta dokumen Long Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050).

Diketahui, dokumen LTS-LCCR adalah dokumen informasi yang mempunyai fungsi untuk pedoman dalam implementasi mitigasi serta adaptasi perubahan iklam dan komitmen NDC lima tahun selanjutnya. Pada 2022, Indonesia mengadakan Indonesia Climate Change Expo & Forum 2022 yang merupakan rangkaian kegiatan Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2022.

2. Singapura

Perubahan iklim adalah tantangan global yang membutuhkan solusi menyeluruh. Pada 1997, Singapura meratifikasi UNFCCC (Konvensi Rangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim) serta menyetujui Protokol Kyoto ke UNFCCC pada 2006.

Pada 22 April 2016, Singapura menandatangani Perjanjian Paris serta meratifikasinya pada 21 September 2016. Perjanjian Paris menegaskan tujuan global jangka panjang untuk menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius. Pada 31 Maret 2021, Singapura telah menyerahkan doukumen NDC (Nationally Determined Contribution) dan Long Term Emissions Development Strategy.

Baca Juga: Peduli Pejuang Kanker, Donasi Rambut bersama Lifebuoy x MNC Peduli Tengah Berlangsung!

3. Amerika Serikat

Amerika Serikat kembali bergabung dengan Kesepakatan Iklim Paris 2015 dalam upaya global menghadapi perubahan iklim. Pada 25 Januari 2021, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah mengirim Utusan Khusus Iklim John Kerry untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi Adaptasi Iklim.

Amerika Serikat kembali bergabung pada Kesepakatan Iklam Paris 2015 usai mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan keluar dari kesepakatan tersebut pada akhir Maret 2017.

Diketahui, Amerika Serikat secara resmi keluar dari kesepakatan iklim lantaran Trump menilai kesepakatan tersebut dirancang untuk mematikan ekonomi Amerika Serikat.

4. China

Pada 2006, China menjadi penghasil karbon dioksida terbesar di dunia. Saat ini pun, China bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi gas rumah kaca dunia secara global.

Di China, batu bara sudah menjadi sumber energi utama negara serta penggunaannya terus meningkat. Presiden China Xi Jinping pun akan mengurangi secara bertahap penggunaan batu bara mulai 2026.

Namun hal tersebut dikritik oleh negara serta para pihak yang mengampanyekan batu bara lantaran langkahnya tidak terlalu signifikan.

Pada November 2019, China meluncurkan Kampanye Hidup Hijau. Kampanye Hidup Hijau tersebut bertujuan untuk mengurangi sampah hingga menanam pohon untuk mengembalikan kerusakan akibat perubahan iklim. China juga telah membangun infrastruktur serta menciptakan insentif untuk mengolah limbah. Shanghai adalah kota pertama di China yang menganjurkan warganya untuk memilah sampah sendiri. (Diolah dari berbagai sumber/Tika Vidya Utami/Litbang MPI)

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini