Share

Kirab 4 Pusaka Warga Padukuhan Pengkol di Malam 1 Suro

Erfan Erlin, iNews · Sabtu 30 Juli 2022 07:40 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 30 510 2638944 kirab-4-pusaka-warga-padukuhan-pengkol-di-malam-1-suro-ftk56AFHcm.jpg Tradisi malam 1 Suro di Gunungkidul (Foto: MNC Portal)

YOGYAKARTA - Malam 1 Suro menjadi sebuah malam yang sakral bagi warga Padukuhan Pengkol Kalurahan Pengkol Kepanewonan Nglipar Gunungkidul. Di malam itu, mereka melakukan jamasan pusaka setempat, mengaraknya ke makam leluhur.

Sebelum rangkaian tradisi digelar, mereka melakukan doa bersama secara islami dengan tahlilan dan sholawatan diakhiri dengan santunan anak yatim. Mereka mengkolaborasikan menjadi sebuah rangkaian peringatan malam 1 Muharram atau malam 1 Suro.

Jumat 29 Juli 2022 malam, selepas Isya puluhan warga Padukuhan Pengkol mulai berdatangan di Rumah Budaya Kalurahan Pengkol. Tak hanya warga Pengkol saja, namun juga tak sedikit warga dari luar yang turut serta kegiatan ini.

Sekitar pukul 20.30 WIB rangkaian acara peringatan Malam 1 Muharram dimulai. Diawali dengan dzikir bersama dipimpin oleh tokoh agama setempat, puluhan orang memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa. Pembacaan surat Yasin dilanjutkan tahlil bersama dan diakhiri doa menjadi penanda dimulainya ritual kali ini.

Baca juga: Mengenal Tradisi Mubeng Beteng, Tapa Bisu Sarana Introspeksi Diri di Malam 1 Suro

Prosesi kirab dan jamasan empat pusaka Kalurahan mulai dilaksanakan. Didahului membaca doa menggunakan bahasa Jawa, satu persatu tokoh adat di Padukuhan tersebut menerima pusaka dari juru kunci Rumah Budaya Pengkol, Joko Narendro.

Baca juga: Mengenal Tradisi Ngumbah Keris Jelang Bulan Suro

Sekitar pukul 22.00 WIB, prosesi serah terima pusaka dari Joko Nalendro kepada tokoh adat dilaksanakan. Satu persatu pusaka tersebut diserahkan kepada abdi dalem Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat yang kebetulan juga warga setempat.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Empat pusaka milik kalurahan Pengkol masing-masing adalah Pusoko tombak Korowelang, Tombak Kyai Umbul Katon, Pusaka Cemethi Pamuk, dan Pusoko Payung Agung. Keempat pusaka tersebut kemudian dibawa keluar di depan rumah, di mana sudah menunggu belasan warga yang membawa obor minyak tanah dan terbuat dari bambu.

Keempat pusaka tersebut diarak menuju pemakaman Ki Ageng Damar Jati diikuti oleh puluhan warga Pengkol. Di makam Pengikut prabu Browijoyo Majapahit ini keempat pusaka tersebut dijamasi atau dibersihkan menggunakan ramuan jeruk nipis.

Usai dijamas, keempat pusaka tersebut dibawa kembali ke Rumah Budaya tempat bersemayam selama ini. Pusaka-pusaka tersebut kembali disemayamkan di tempat yang sudah disediakan sebelumnya.

Rangkaian prosesi dilanjutkan dengan menguras gentong Kyai Sobo yang berada di halaman Rumah Budaya Pengkol. Para abdi dalem dari Kasultanan Kraton Ngayogyakarta mendekati Gentong Kyai Sobo. Ki Joko Narendropun memulai prosesi nguras Gentong Kyai Sobo.

Baca juga: Mengenal Kerbau Bule Keraton Solo, Dipercaya Jadi Pengawal Pusaka Kiai Slamet

Usai memanjatkan doa, air dari gayung pertama digunakan untuk membasuh tangan dan muka Ki Joko Narendro. Kemudian air dari gayung kedua dipakai membasuh tangan para abdi dalem lainnya. Diikuti masyarakat sekitar yang bermaksud ingin mengalap berkah dari air yang berada di dalam gentong.

Baca juga: Jelang 1 Suro, Begini Kisah Mistis di Balik Misteri Kematian Kebo Bule Keraton Solo

Setelah semua masyarakat mendapat air dari gentong tersebut, sedikit demi sedikit gentong kembali diisi air dari tujuh curug, dan tujuh tempur sungai yang ada di Jawa Timur, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Ngadiman, salah seorang tetua adat Padukuhan Pengkol, air tersebut sebenarnya tidak ada kesaktian apapun. Hanya saja, sebagian masyarakat masih menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral dan suci sehingga memiliki khasiat menyembuhkan penyakit atau khasiat lainnya.

"Itu hanya juga sebagai sarana bagi yang percaya dapat dikabulkan cita-citanya. Air ini hanyalah sugesti atau perantara saja,"ujar dia.

Sejatinya, lanjut Ngadiman, yang mengabulkan harapan seseorang adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi masih ada masyarakat yang masih percaya dengan hal ini. Air dalam gentong tersebut berisi air dari lokasi yang memiliki keistimewaan.

Air tersebut diambil dari 7 sumber petilasan Wali Songo. Air-air tersebut diambil dalam satu waktu yang kemudian diawetkan. Ditambah dengan berbagai air suci dari berbagai sumber mata air di Gunungkidul yang tak pernah kering meskipun musim kemarau.

Menurutnya selain makna religius, kirab pusaka dan kuras gentong juga terselip tujuan luhur. Adapun tujuannya salah satunya untuk menjalin hubungan yang baik antara sesama manusia melalui sikap kekeluargaan dan kegotong royongan dalam karya bersama.

Ki Joko Narendro menambahkan, kegiatan ini hanyalah sebuah event budaya dalam rangka melestarikan tradisi masyarakat yang berkembang selama ini. Sehingga kombinasi antara ajaran Agama Islam dengan tradisi budaya Jawa nampak dalam ritual malam 1 Suro ini.

Terkait dengan pusaka, empat jenis pusaka tersebut menunjukkan khasanah kekayaan budaya Jawa. Di mana masing-masing pusaka memiliki simbol dan makna yang berbeda. Dan masing-masing pusaka memiliki riwayat dan tujuan pembuatannya.

"Seperti payung ya, warna dan unsurnya perbedaan jabatan. Kalau dari sisi spiritual memiliki makna Mengayomi," terangnya.

Baca juga: Mengenal Berbagai Tradisi Malam 1 Suro, Perayaan Sakral bagi Masyarakat Jawa

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini