Share

Pura Mangkunegaran Gelar Malam 1 Suro, Ganjar dan Gibran Ikut Ritual Topo Bisu

Bramantyo, Okezone · Sabtu 30 Juli 2022 07:53 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 30 512 2638950 pura-mangkunegaran-gelar-malam-1-suro-ganjar-dan-gibran-ikut-ritual-topo-bisu-jkOYDfwFRR.jpg Pura Mangkunegaran gelar tradisi Topo Bisu saat malam 1 Suro (Foto: MNC Portal)

SOLO - Setelah dua tahun tradisi peringatan malam 1 Suro tak digelar, Pura Mangkunegaran kembali menggelar tradisi kirab pusaka, Jumat 29 Juli 2022

Seperti tahun-tahun sebelum kirab ditiadakan karena pandemi, pada malam pergantian tahun baru 1444 Hijiriah kali ini, Puro Mangkunegaran menggelar ritual topo bisu dengan mengelilingi tembok Pura Mangkunegaran.

Tradisi keliling topo bisu ini pun diikuti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wali Kota Surakarta Gibran Rakabumig Raka, dan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima.

Prosesi diawali dengan keluarnya Kanjeng Gusti Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenagoro (MN) X Bhre Cakrahutama dari dalam Pura Mangkunegaran.

Baca juga: Pura Mangkunegaran Siapkan Konsep Pengembangan Pariwisata, Ini Faktanya

Penerus tahta Mangkunegaran ini keluar dan duduk di singgasana kebesaran yang berada di Ngarsodalem.

Kemudian setelah MN X keluar istana, pusaka sakti milik Pura Mangkunegaran yang terdiri dari 3 tombak dan 1 joli dikeluarkan dari tempatnya.

Pusaka-pusaka itu dijemput para abdi dalem di antaranya KRMT Lilik Priarso Tirtodiningrat dan KRMT Hudoko Artisto.

Baca juga: Mengenal Bhre Cakrahutomo, Putra Tunggal Prameswari Mangkunagoro IX

Setelah segala prosesi rampung, MN X pun memerintahkan untuk melakukan kirab yang bertepatan dengan malam satu suro 1956.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Rombongan kirab yang dipimpin KRMT Roy keluar dari dalam kawasan Pura Mangkunegaran untuk berkeliling tembok Pura Mangkunegaran searah jarum jam.

Koordinator kirab Mas Ngabehi Bambang Suhendro menjelaskan, kirab topo bisu ini memiliki makna manusia harus selalu ingat pada sang pencipta dan selalu berkomunikasi melalui ibadah pada Tuhan yang Maha Kuasa dalam keadaan suci.

"Tapa bisu atau berjalan dengan berdiam diri, tidak boleh berbicara ini sebagai bentuk perenungan,"katanya.

Setelah pelaksanaan kirab pusaka dalem, kegiatan dilanjutkan dengan prosesi semedi (meditasi) di Pendapa Agung dan Paringgitan Puro Mangkunegaran hingga Sabtu (30/7/2022) dini hari.

Setelah kirab mengelilingi Pura Mangkunegaran, pusaka ini pun kembali masuk ke dalam Istana atau Pura Mangkunegaran.

Setelah di jamasi, air jamasan itu pun diperebutkan warga yang memang sudah menunggunya.

Baca juga: Mengenal Tradisi Mubeng Beteng, Tapa Bisu Sarana Introspeksi Diri di Malam 1 Suro

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini