Share

Siapa Sangka, Kotoran Telinga Ternyata Dapat Identifikasi Tingkat Stres Seseorang

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 06 Agustus 2022 04:05 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 18 2642844 siapa-sangka-kotoran-telinga-ternyata-dapat-identifikasi-tingkat-stres-seseorang-MxXD1rVcZs.JPG Ilustrasi/ Foto: BBC

Secara teori, orang-orang dengan gejala kesehatan mental dapat diuji kadar kortisolnya, dan ini dapat membantu menginformasikan hasil diagnosisnya.

Saat ini, diagnosis kesehatan mental sebagian besar bersifat subyektif, sehingga penelitian mengenai kotoran telinga ini memberikan alat tambahan kepada para profesional untuk membantu membuat penilaian secara lebih akurat.

Dan, diagnosis yang baik adalah "satu-satunya cara untuk memberikan pengobatan yang tepat", kata Dr Herane-Vives.

 BACA JUGA:Soulyu Bersama Dan+Dan Siap Perluas Pangsa Pasar Jabodetabek hingga Serang

Hal ini berpotensi digunakan untuk menginformasikan siapa yang mungkin atau tidak mungkin mendapat manfaat dari obat antidepresan.

Kortisol dapat diukur dalam darah, tetapi ini hanya memberikan gambaran singkat perihal kadar hormon seseorang pada saat itu.

Dan lantaran tes darah itu sendiri bisa membuat stres, ini berpotensi memberikan hasil positif yang tidak tepat.

Menguji dengan kotoran telinga

Dr Herane-Vives ingin melihat apakah tingkat kortisol kronis pasien - seperti apa bentuknya dalam jangka waktu yang lebih lama - dapat diukur dengan melihat jaringan di tubuh tempat dia menumpuk.

Dia sebelumnya mempelajari apakah kortisol dapat diukur dari folikel rambut, tetapi untuk melakukannya, Anda membutuhkan 3cm rambut, yang tidak semua orang memilikinya.

"Tapi kadar kortisol dalam kotoran telinga tampaknya lebih stabil," ujarnya.

 BACA JUGA:Rumah Pengasingan Soekarno di Bengkulu yang Jadi Saksi Bisu Perjuangan, Begini Sejarahnya

Dr Herane-Vives merujuk pada analogi dengan makhluk penghasil lilin lainnya, yaitu lebah. Mereka menyimpan gula di sarang mereka, yang diawetkan pada suhu kamar.

Demikian pula, hormon dan zat lain disimpan dari waktu ke waktu di dalam kotoran telinga, yang "menghasilkan lebih banyak kortisol daripada sampel rambut", kata para peneliti.

Dalam jangka panjang, metode ini dapat dikembangkan untuk mengukur hal-hal lain seperti kadar gula atau bahkan antibodi terhadap virus.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

(NAN)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini