Share

Teori Darwin Soal Usus Buntu Terbantahkan, Rongga Kecil Itu Ternyata Punya Fungsi Besar Bagi Tubuh

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 06 Agustus 2022 05:00 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 18 2642852 teori-darwin-soal-usus-buntu-terbantahkan-rongga-kecil-itu-ternyata-punya-fungsi-besar-bagi-tubuh-uR6NwihaOv.JPG Ilustrasi/ Foto: BBC

JAKARTA - Dalam bukunya tentang teori evolusi "Asal-Usul Manusia" atau "The Origin of Man", pada 1871 Charles Darwin berhipotesis bahwa usus buntu sebenarnya tidak punya fungsi apa-apa.

Ia disebut organ vestigial (sisa) yang telah kehilangan alasan keberadaannya, sebagai konsekuensi dari perubahan pola makan atau kebiasaan. Barangkali itulah hal yang sering diajarkan di sekolah.

 BACA JUGA:Komnas HAM Ungkap Irjen Ferdy Sambo Sudah di Jakarta Sehari Sebelum Penembakan Brigadir J

Namun, pada pertengahan abad ke-20, dengan perkembangan alat yang memungkinkan kita untuk mengamati organ-organ kita lebih dekat, gagasan bahwa fungsi usus buntu hanya untuk meradang dan membahayakan nyawa mulai pudar.

Dan, pada abad ke-21, para ilmuwan telah menemukan bahwa ia lebih dari sekadar organ "sisa" evolusi.

Wadah bakteri usus

Dilansir dari BBC, pada tahun 2007, satu tim dari Pusat Studi Kedokteran Universitas Duke membuat terobosan ketika mereka menemukan bahwa usus buntu memiliki biofilm yang kaya.

Biofilm adalah lapisan bakteri 'baik' yang hidup di usus dan membantu kita mengekstrak nutrisi dan energi dari makanan.

 BACA JUGA:China Jatuhkan Sanksi pada Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Keluarganya

Selain itu, ketika mencerna serat, mereka menghasilkan asam lemak rantai pendek yang dapat masuk ke aliran darah dan mengalir ke otak untuk melindungi salah satu organ paling berharga tersebut.

Usus buntu yang misterius dan diremehkan itu ternyata berfungsi sebagai penampung bakteri 'baik' itu, siap untuk mengisi kembali usus ketika kita kehilangan mereka, misalnya ketika diare atau setelah minum antibiotik.

Ini tidak pernah bisa ditebak Darwin, karena pada masanya para ilmuwan belum mengetahui keberadaan mikrobioma dalam tubuh manusia.

Sementara itu, beberapa dekade sebelumnya para ilmuwan menemukan bahwa usus buntu memiliki konsentrasi tinggi jaringan limfoid terkait usus (gut-associated lymphoid tissue), atau GALT, tetapi waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa hal tersebut membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh jika terjadi serangan patogen.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

Artinya, selain menjadi tempat penyimpanan bakteri, usus buntu terlibat dalam cara tubuh memahami ketika usus terancam dan bagaimana meresponsnya.

Enam tahun kemudian, studi lainnya dari Pusat Studi Medis Universitas Duke menemukan bahwa orang tanpa usus buntu cenderung berisiko lebih tinggi terkena infeksi bakteri yang sangat tidak mengenakkan dan berbahaya: Clostridium difficile atau C diff.

 BACA JUGA:Jangan Kelewatan! Diskon Sampai 90 Persen Khusus Perabotan Rumah Tangga Hanya di AladinMall

Evolusi jutaan tahun

Pada 2017, Smith dan rekan memutuskan untuk membandingkan usus buntu manusia dengan 533 spesies mamalia.

Mengungkapkan sejarah lebih dari 80 juta tahun, mereka membangun filogeni konsensus mamalia, yang pada dasarnya adalah pohon keluarga raksasa.

Dengan itu Anda dapat mengumpulkan data dan memetakannya, sehingga memungkinkan Anda untuk mengetahui berapa kali organ tertentu telah berevolusi, dalam hal ini, usus buntu.

"Kami menemukan bahwa usus buntu telah berevolusi sekitar 30 kali sepanjang evolusi mamalia, dan itu mengindikasikan bahwa ia mempunyai fungsi penting, jika tidak maka itu tidak akan terus muncul dalam evolusi."

Dalam ilmu evolusi, jika suatu organ muncul, bertahan, dan tidak hilang, itu adalah indikator yang baik bahwa organ tersebut punya suatu kegunaan. Apalagi jika itu terjadi di beberapa garis keturunan mamalia yang berbeda.

Garis keturunan manusia muncul antara 32 hingga 20 juta tahun yang lalu, dan usus buntu masih ada sampai sekarang, jadi penelitian ini memberi tahu kita bahwa organ yang sering diremehkan itu punya fungsi yang penting, meskipun kita belum tahu persis apa fungsi itu.

 BACA JUGA:Populer Science: Penemuan Ilmiah Berdasarkan Alquran hingga Penampakan 5 Planet Sejajar

itu, operasi apendektomi untuk menyembuhkan radang usus buntu tidak berdampak pada panjang umur seseorang.

Radang usus buntu (apendisitis) pada usia dini jelas bermanfaat karena memperkuat pelatihan sistem kekebalan tubuh dan memungkinkannya untuk melawan infeksi berikutnya secara lebih efektif.

Jadi perawatan paling tepat untuk apendisitis tetap apendektomi.

Sejarah yang baru terungkap dari bagian kecil anatomi kita ini mengajarkan kita bahwa tubuh manusia sangat kompleks dan masih ada banyak hal yang belum kita pahami.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini