Share

Menguak Fakta Babi, Hewan yang Paling Banyak Dibubuhi Stereotip

Tim Okezone, Okezone · Sabtu 06 Agustus 2022 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 05 18 2642858 menguak-fakta-babi-hewan-yang-paling-banyak-dibubuhi-stereotip-GRkWYOnGGO.JPG Ilustrasi/ Foto: Freepik

JAKARTA - Babi menjadi hewan yang paling banyak mendapat stereotip. Dianggap hewan yang paling jorok, sering banjir keringat, memakan kotorannya sendiri hingga mandi di kubangan kotorannya sendiri. Padahal, faktanya tak begitu.

Dilansir dari BBC, di alam bebas babi liar tidak tidur dan berkubang dalam kotoran sendiri, dan mereka makan tumbuhan. Mereka berkubang di lumpur karena itu cara paling baik untuk tetap menjaga suhu tubuh tetap dingin.

 BACA JUGA:Direktur FBI Ungkap Keprihatinan Soal Potensi Serangan Teroris Terhadap AS dari Afghanistan

Babi hutan, nenek moyang dari babi yang dipelihara di peternakan, adalah hewan pemakan segalanya atau omnivora dan tidak terlalu rewel dengan apa yang mereka makan.

Namun 90% makanan mereka terdiri dari tumbuhan, dan mereka tak terlalu berminat makan kotoran sendiri.

Kalau babi peliharaan sesekali makan kotoran mereka sendiri, kemungkinan besar karena kandang yang sempit membuat mereka terpaksa melakukannya.

Kenyataannya, satu kelompok babi liar di kebun binatang di Basel, Swiss, jadi terkenal lantaran makanan mereka yang higienis.

Hewan-hewan ini diberi sepotong apel yang tertutup pasir. Alih-alih memakannya, mereka membawanya ke pinggir kolam dengan air mengalir di dekat kandang dan mereka mendorong maju mundur buah itu sampai pasirnya rontok, baru memakannya.

 BACA JUGA:Komnas HAM Ungkap Irjen Ferdy Sambo Sudah di Jakarta Sehari Sebelum Penembakan Brigadir J

Babi hutan itu tak melakukannya jika diberi apel yang bersih. Bahkan ketika mereka tampak sangat lapar, mereka tetap meluangkan waktu untuk mencuci makanan mereka.

Terlepas dari soal pilihan makanan, babi terkenal punya reputasi secara umum sebagai binatang jorok. Babi hutan biasanya berkubang dalam lumpur, tapi mereka melakukannya supaya badan mereka tetap dingin.

Ini karena babi tak punya kelenjar keringat, yang perlu Anda ingat ketika seorang mengaku “berkeringat seperti babi.” Kenyataan psikologis ini berarti babi punya risiko besar kepanasan, dan air lumpur menguap jauh lebih lambat ketimbang air jernih.

Baca Juga: Peringati Hari Lahir Pancasila, Pengawas KKP Lakukan Upacara Bawah Laut

"Babi, seperti binatang lain, akan selalu mencoba terus nyaman," kata Greger Larson dari Universitas Oxford. "Jika menjadi kotor adalah cara untuk tetap dingin, maka itulah yang akan mereka lakukan. Mereka mungkin bisa menemukan pemecahan lain tapi hal itu tak bisa dilakukan karena mungkin kita mengurung mereka di kandang yang sempit."

Berkubang untuk usir bakteri kulit

Lapisan lumpur di kulit mereka bisa berfungsi lain, bagai tabir surya yang melindungi kulit dari terbakar sinar matahari, atau juga sebagai penangkal serangga seperti nyamuk dan sejenisnya.

Melumuri tubuh dengan lumpur bisa juga merupakan cara untuk mengusir kutu dan parasit lainnya.

Ironisnya, mereka sebetulnya berkubang di lumpur untuk membersihkan diri, bukan untuk mengotori kulit mereka.

 BACA JUGA:Direktur FBI Ungkap Keprihatinan Soal Potensi Serangan Teroris Terhadap AS dari Afghanistan

Perlu juga diingat bahwa warna merah jambu pada binatang nyaris tanpa bulu ini sebenarnya hasil kreasi manusia saja, sekalipun asosiasi warna itu yang muncul setiap kali kata “babi” disebut.

Babi peliharaan, dan saudara mereka babi liar, hanya satu anggota saja dari seluruh keluarga babi yang disebut Suidae. Keluarga mereka terdiri dari lebih dari selusin spesies termasuk warthog, babi kerdil, babi rusa, babi hutan raksasa dan babi semak Afrika.

Bukti genetis menyatakan bahwa babi liar dijinakkan dalam dua jalur berbeda, di Asia dan Eropa. Babi purba ini mulai berbeda sejak sekitar satu juta tahun lalu – jauh sebelum penangkarannya dimulai 9.000 tahun lalu. Sekalipun terpisah jauh, babi liar Asia dan Eropa memiliki teknik penyamaran serupa.

Babi peliharaan tak bisa dikatakan sama. Pada babi ini, gen yang membentuk warna kulit amat beragam, maka beragam pula warna dan polanya.

Kita mulai suka menciptakan perbedaan ini kurang dari 10.000 tahun, kata Larson.

 BACA JUGA:China Jatuhkan Sanksi pada Ketua DPR AS Nancy Pelosi dan Keluarganya

Dalam makalah yang diterbitkan tahun 2009, ia dan rekannya menulis bahwa "manusia telah memilih mutasi langka yang dengan cepat dihilangkan dalam alam liar."

Ada satu selentingan terakhir yang perlu disinggung yaitu “fakta” yang kerap dikutip bahwa babi jantan bisa orgasme selama 30 menit.

Hal pertama yang perlu dikatakan, kita tak tahu seperti apa sensasi babi jantan, atau betina, ketika mereka kawin. Maka pembicaraan tentang orgasme mereka tentu jadi spekulatif.

Namun berdasarkan metode “sarung tangan” yang digunakan untuk mengambil sperma babi jantan, ejakulasi mereka memang bisa bertahan lama. Dalam sebuah penelitian tahun 2012 tentang "babi hutan yang kuat", durasi rata-rata ejakulasi adalah 6 menit.

Sulit untuk diketahui apakah ejakulasi dengan durasi seperti ini bisa terjadi tanpa bantuan, tapi tetap ada kemungkinan itu terjadi.

Menurut pengamatan terhadap babi jantan dalam pembuahan sesungguhnya, durasi orgasme biasanya 4-5 menit, tapi bisa juga sampai 20 menit.

Apapun kebenaran tentang orgasme babi, petunjuk dunia maya tentang bagaimana melakukan pembuahan artifisial terhadap babi memberi peringatan kepada para peternak untuk tidak menginterupsi babi jantan ketika mereka belum selesai melakukan pembuahan, kecuali jika mereka ingin menghadapi babi yang murka.

“Jika Anda melepas mereka terlalu cepat, siapa saja untuk menghadapi tantangan besar."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini