Share

Taliban Peringati Satu Tahun Pengambilalihan Kekuasaan Afghanistan

Rahman Asmardika, Okezone · Selasa 16 Agustus 2022 08:45 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 16 18 2648565 taliban-peringati-satu-tahun-pengambilalihan-kekuasaan-afghanistan-UXVfzCHO2Q.jpg Seorang penjual bendera berjualan di sebelah tembok bekas Kedutaan Amerika Serikat di Kabul, Afghanistan, 12 Agustus 2022. (Foto: Reuters)

KABUL - Taliban dan pendukungnya mengibarkan bendera hitam putih kelompok itu di jalan-jalan Afghanistan pada Senin (15/7/2022) untuk merayakan satu tahun sejak mereka memasuki ibu kota dan mengambil alih kekuasaan dari pemerintahan yang didukung Amerika Serikat (AS).

Dalam 12 bulan sejak penarikan AS yang kacau, beberapa warga Afghanistan menyambut baik peningkatan keamanan tetapi berjuang dengan kemiskinan, kekeringan, kekurangan gizi dan memudarnya harapan di kalangan perempuan bahwa mereka akan memiliki peran yang menentukan di masa depan negara itu.

BACA JUGA: Taliban Masuki Ibu Kota Kabul, Pemerintah Afghanistan Serahkan Kekuasaan

Beberapa pria melepaskan tembakan ke udara di Kabul dan beberapa ratus orang, termasuk pendukung, pejuang, dan pejabat berkumpul di alun-alun di depan Kedutaan Besar AS untuk menandai hari itu. Mereka memegang spanduk termasuk slogan "matilah Amerika Serikat".

"Hari ini adalah hari kemenangan kebenaran atas kepalsuan dan hari keselamatan dan kebebasan bangsa Afghanistan," kata Juru Bicara Taliban Zabihullah Mujahid dalam sebuah pernyataan sebagaimana dilansir Reuters.

Dalam upacara yang dihadiri oleh menteri pemerintah Taliban, Penjabat Menteri Luar Negeri Amir Khan Muttaqi mengatakan pemerintahan mereka telah membawa keamanan di mana Amerika Serikat telah gagal dan mengatakan kelompok itu menginginkan hubungan positif dengan dunia.

"Kami ingin hubungan baik dengan semua negara, kami tidak akan membiarkan wilayah Afghanistan digunakan untuk melawan siapa pun," katanya, seraya menambahkan bahwa mereka ingin mengatasi tantangan yang sedang berlangsung di negara itu.

Afghanistan secara fisik lebih aman daripada ketika gerakan Taliban berperang melawan pasukan asing pimpinan AS dan sekutu Afghanistan mereka, meskipun cabang lokal Negara Islam (IS) telah melakukan beberapa serangan.

Namun, di sisi lain Taliban menghadapi tantangan dalam upayanya mendorong pertumbuhan ekonomi dan stabilitas Afghanistan. Ada tekanan besar pada ekonomi, yang sebagian besar disebabkan oleh isolasi negara itu karena pemerintah asing menolak untuk mengakui penguasanya.

Bantuan pembangunan yang sangat diandalkan Afghanistan telah dipotong karena masyarakat internasional menuntut agar Taliban menghormati hak-hak warga Afghanistan, terutama anak perempuan dan perempuan yang aksesnya ke pekerjaan dan pendidikan telah dibatasi.

Taliban menuntut agar USD9 miliar cadangan bank sentral yang disimpan di luar negeri dikembalikan, tetapi pembicaraan dengan Amerika Serikat menghadapi rintangan, termasuk tuntutan AS agar seorang pemimpin Taliban yang terkena sanksi mundur dari posisinya sebagai orang kedua di komando di bank tersebut.

Pemerintah Taliban menolak untuk menyerah pada tuntutan ini, dengan mengatakan bahwa mereka menghormati hak semua orang Afghanistan dalam kerangka interpretasi mereka terhadap hukum Islam.

Dan sampai ada perubahan besar di posisi kedua belah pihak, tidak ada perbaikan segera yang terlihat untuk kenaikan harga, meningkatnya pengangguran dan kelaparan yang akan semakin buruk saat musim dingin tiba.

Sekira 25 juta orang Afghanistan sekarang hidup dalam kemiskinan - lebih dari setengah populasi negara itu. PBB memperkirakan bahwa hingga 900.000 pekerjaan bisa hilang tahun ini karena ekonomi terhenti.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini