Share

India Bebaskan 11 Pria Hindu Terdakwa Rudapaksa Massal Wanita Muslim yang Hamil

Susi Susanti, Okezone · Kamis 18 Agustus 2022 11:20 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 18 18 2649886 india-bebaskan-11-pria-terdakwa-rudapaksa-massal-wanita-muslim-yang-hamil-EMAB8aK26A.jpg Ilustrasi rudapaksa (Foto: Reuters)

AHMEDABAD - Sebelas pria Hindu yang dipenjara seumur hidup karena pemerkosaan beramai-ramai terhadap seorang wanita Muslim yang sedang hamil selama kerusuhan Hindu-Muslim pada 2002 telah dibebaskan dengan remisi.

Pembebasan ini mengundang kecaman dari suami korban, pengacara dan politisi.

Orang-orang itu dihukum pada awal 2008 dan dibebaskan dari penjara di Panchmahals di negara bagian Gujarat barat pada Senin (15/8/2022), ketika India merayakan 75 tahun sejak berakhirnya kekuasaan Inggris.

Baca juga: Rudapaksa Gadis Remaja yang Mabuk, Pria Ini Dihukum Penjara 8 Tahun dan 6 Cambukan

Seperti diketahui, kekerasan Gujarat, salah satu kerusuhan agama terburuk di India, menyebabkan kematian lebih dari 1.000 orang, kebanyakan dari mereka Muslim. Gujarat kemudian dipimpin Perdana Menteri (PM) India saat ini Narendra Modi sebagai Ketua Menteri, dan Partai nasionalis Hindu Bharatiya Janata masih mengaturnya.

Baca juga: Kisah Anak Hasil Rudapaksa Bantu Ibunya Perjuangkan Keadilan Usai Dirudapaksa 3 Dekade Lalu

Birokrat utama Panchmahals mengatakan kepada Reuters bahwa komite penasihat penjara distrik telah merekomendasikan pembebasan setelah mempertimbangkan waktu yang dihabiskan 11 orang di penjara dan perilaku baik mereka.

“Faktanya adalah mereka telah menghabiskan hampir 15 tahun di penjara dan memenuhi syarat untuk remisi,” kata Sujal Jayantibhai Mayatra, dikutip CNN.

Para pejabat mengatakan Undang-undang India mengizinkan narapidana untuk mencari remisi setelah 14 tahun dipenjara.

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

Rekaman media menunjukkan seorang pria memberi makan para narapidana di luar penjara setelah menyentuh kaki salah satu dari mereka, sebagai tanda penghormatan.

Sementara itu, suami korban mengatakan kepada Reuters bahwa mereka kecewa karena kerusuhan itu juga telah menewaskan banyak anggota keluarga.

“Kami telah kehilangan keluarga kami dan ingin hidup damai, tetapi tiba-tiba ini terjadi,” kata Yakub Rasul.

"Kami tidak memiliki informasi sebelumnya tentang pembebasan mereka, baik dari pengadilan atau pemerintah. Kami hanya mengetahuinya dari media,” lanjutnya.

Politisi dan pengacara oposisi mengatakan pembebasan itu bertentangan dengan kebijakan yang dinyatakan pemerintah untuk mengangkat perempuan di negara yang terkenal dengan kekerasan terhadap mereka.

"Pengampunan hukuman bagi terpidana kejahatan mengerikan seperti pemerkosaan dan pembunuhan beramai-ramai tidak pantas secara moral dan etis," kata pengacara senior Anand Yagnik.

"Apa sinyal yang kita coba kirim?,” ujarnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini