Share

Bandar Narkoba di Lubuklinggau Lolos dari Hukuman Mati, Jaksa Banding

Era Neizma Wedya, iNews · Jum'at 19 Agustus 2022 01:30 WIB
https: img.okezone.com content 2022 08 19 610 2650360 bandar-narkoba-di-lubuklinggau-lolos-dari-hukuman-mati-jaksa-banding-XcTUCh8FFl.jpg Ilustrasi (Foto: Antara)

LUBUKLINGGAU - Sidang vonis kasus bandar narkoba Niko Rafhika alias Niko bandar sabu 13 kilogram dan 2.200 pil ekstasi di Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Kamis (18/8/2022). Memutuskan terdakwa Niko lepas dari hukuman mati.

Dalam persidangan secara virtual dengan Ketua Majelis Hakim, Ferry Irawan, dihadiri JPU Nanda Akbari Darna Winsa dan Penasehat hukum terdakwa, Jaya Kusuma dan Edwar Antoni. Dalam pertimbangan hakim, terdakwa terbukti secara sah memiliki 13 kilogram narkotika jenis sabu dan 2.200 pil ekstasi yang telah dimusnahkan dengan putusan hukuman seumur hidup.

BACA JUGA:Kasat Narkoba Polres Karawang Dinyatakan Positif Sabu! 

Putusan yang didengarkan langsung terdakwa dari dalam Lapas Kelas II A Lubuklinggau, dan setelah mendengarkan putusan dan hakim mengetok palu, terdakwa langsung meninggalkan lokasi virtual.

Kuasa Hukum Terdakwa Edwar Antoni mengaku bersyukur kliennya lepas dari jerat hukuman mati dan akan pikir-pikir untuk mengambil keputusan selanjutnya.

“Untuk putusan ini kita punya waktu 7 hari apakah akan menerima atau banding,” kata Edo panggilan akrab Edwar Antoni.

BACA JUGA:Kasat Narkoba Polres Karawang Edarkan Sabu, Kompolnas Minta Polri Selisik Keterlibatan Anggota Lain 

Sedangkan JPU Nanda Akbari Darna Winsa mengatakan bahwa majelis hakim berbeda keyakinan dengan kita, karena menurut majelis hakim pidana yang paling tepat untuk terdakwa Niko ini adalah hukuman seumur hidup. Namun, tidak semua majelis hakim sependapat karena ada satu majelis hakim yang sependapat dengan JPU.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Sehingga terjadi dissenting opinion, untuk itu ke depannya akan melaksanakan upaya hukum, yakni banding namun pihaknya juga akan menginformasikan dan berkoordinasi dengan pimpinan.

“Kami merasa tidak puas! Karena kita sudah menuntut dengan hukuman maksimal hukuman mati, menginggat banyaknya barang bukti dan potensi yang terjadi rusaknya generasi apabila narkoba ini berhasil dijual dan diedarkan,” tegas Nanda.

Sebelumnya, terdakwa dituntut hukuman mati oleh JPU pada sidang tuntutan yang digelar di Pengadilan Negeri Lubuklinggau, Kamis 28 Juli 2022 lalu. Dalam tuntutannya, Jaksa menyampaikan bahwa terdakwa terbukti dan sah secara menyakinkan sebagai pemilik sabu 13 Kg dan 2.200 pil ekstasi, sehingga dituntut hukuman mati.

Pada saat Jaksa menyampaikan tuntutan tersebut terlihat terdakwa tampak tegang dan gelisah. Usai mendengarkan membacakan tuntutan dari Jaksa, kemudian hakim ketua menyampaikan kepada penasehat hukum terdakwa untuk menyampaikan pleidoi, dan dijawab oleh tim kuasa hukum, pleidoi akan disampaikan minggu depan.

Selanjutnya, Kasi Pidum Kejari Lubuklinggau Firdaus Apandi menyampaikan terkait tuntutan hukuman mati tersebut, terdakwa jelas melanggar Pasal 114 Ayat (2) juncto 132 Ayat 1 Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

"Terdakwa dituntut hukuman mati, terdakwa merupakan bandar besar jaringan dari Sumatra Utara," ungkapnya pada wartawan, Kamis 28 Juli 2022.

Sementara itu, JPU Akbar menyampaikan memang berdasarkan fakta persidangan terdakwa bukan hanya satu kali namun, terdakwa pernah dihukum tahun 2012 dalam kasus narkotika.

"Nah, di dalam Lapas narkotika Muara Beliti rupanya terdakwa bertemu dengan Helmi seorang yang mengirimkan 13 Kg sabu dan 2.200 butir ekstasi tersebut," jelasnya.

Dalam perkara ini, terdakwa menyimpan barang haram itu, sampai yang diperintahkan Helmi datang untuk mengambilnya, dab terdakwa dijanjikan menerima upah Rp50 juta apabila barang bukti sudah diserahkan kepada orang suruhan.

Di persidangan juga terungkap ternyata sabu itu bukan 13 Kg melainkan ada 15 kantong sabu, namun terdakwa sudah mengirimkan dua kantong sabu tersebut kepada orang Palembang.

"Sisanya 13 kantong lagi dan itu menunggu perintah selanjutnya," katanya.

Hal yang paling memberatkan dari terdakwa adalah terdakwa merupakan jaringan antar provinsi dari Kota Medan, untuk diedarkan ke provinsi Sumatera Selatan khususnya ke Lubuklinggau dan Palembang.

"Selain itu, terdakwa ini pernah dipidana tahun 2012 artinya sudah secara sah dan sadar mengetahui bahwa narkotika itu dilarang oleh pemerintah," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini