Share

4 Wilayah Ukraina Segera Gelar Referendum untuk Bergabung dengan Rusia

Rahman Asmardika, Okezone · Rabu 21 September 2022 12:49 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 21 18 2671905 4-wilayah-ukraina-segera-gelar-referendum-untuk-bergabung-dengan-rusia-u6rghpIXvf.jpg Warga Luhansk, mengibarkan bendera Republik Rakyat Luhansk dan bendera Rusia. (Foto: Sputnik)

MOSKOW – Empat daerah Ukraina yang dikuasai Rusia akan menggelar referendum untuk menentukan apakah mereka akan menjadi bagian dari Rusia atau tetap sebagai wilayah dari Ukraina. Rencana referendum ini mendapat kecaman keras dari para pemimpin negara-negara Barat.

Republik Rakyat Donetsk (DPR) dan Luhansk (LPR), wilayah Zaporozhzhia, dan Kherson menyatakan siap menggelar referendum tersebut dalam beberapa hari mendatang. Referendum direncanakan akan digelar dari 23 September hingga 27 September 2022.

Konflik Rusia dan Ukraina menjadi isu utama dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat (AS), dengan para pemimpin Barat mengecam langkah referendum tersebut.

Kanselir Jerman Olaf Scholz dalam pidatonya mengecam Vladimir Putin, menuding Presiden Rusia itu memiliki ambisi “membangun kekaisaran” yang berisiko menghancurkan Rusia dan Ukraina. Scholz mengatakan bahwa Putin baru akan melepaskan ambisinya jika dia mengakui bahwa Rusia tidak bisa memenangkan perang di Ukraina.

"Inilah mengapa kami tidak akan menerima perdamaian yang didiktekan oleh Rusia dan inilah mengapa Ukraina harus mampu menangkis serangan Rusia," kata Scholz sebagaimana dilansir Reuters.

BACA JUGA: Diakui Rusia Merdeka dari Ukraina, Ini Sejarah Republik Donbass

Rusia sudah menganggap Luhansk dan Donetsk, yang bersama-sama membentuk wilayah Donbass yang sebagian diduduki Moskow pada 2014, sebagai negara merdeka. Ukraina dan Barat menganggap semua bagian Ukraina yang dikuasai pasukan Rusia diduduki secara ilegal.

Pasukan Rusia sekarang menguasai sekira 60% Donetsk dan telah merebut hampir semua Luhansk pada Juli setelah kemajuan lambat selama berbulan-bulan pertempuran sengit.

Keuntungan itu sekarang berada di bawah ancaman setelah pasukan Rusia dipukul mundur dari provinsi tetangga Kharkiv bulan ini, kehilangan kendali atas jalur pasokan utama mereka untuk sebagian besar garis depan Donetsk dan Luhansk.

Baca Juga: Tidak Hanya Berantas Pencurian Ikan, Ini Bukti Nyata Ketegasan KKP

Di Kherson, di mana ibu kota regional adalah satu-satunya kota besar yang sejauh ini direbut Rusia secara utuh sejak invasi, Ukraina melancarkan serangan balasan besar-besaran.

Di selatan, Rusia menguasai sebagian besar Zaporizhzhia tetapi bukan ibu kota regionalnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan bahwa referendum itu hanyalah “kebisingan”, dan tidak akan mengubah apapun.

"Situasi di garis depan jelas menunjukkan inisiatif dengan Ukraina," kata Zelensky dalam pidato video yang dirilis Rabu, (21/9/2022) pagi.

Rusia melancarkan apa yang disebutnya "operasi militer khusus" di Ukraina pada 24 Februari. Presiden Vladimir Putin mengatakan tindakan itu diambil untuk membasmi kaum nasionalis yang berbahaya dan "mendenazifikasi" Ukraina.

Perang telah menewaskan ribuan orang, menghancurkan kota-kota dan membuat jutaan orang mengungsi dari rumah mereka di bekas republik Soviet.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini